Written by Len
Written by Len

Gerakan Oposisi Kopi

Gerakan oposisi Cerpen - mlendrijulian - shortstor


Dia sangat membenci kopi. Kopi mengingatkannya akan masa lalu. Suatu saat dia kecil, dia sengaja meminta setengguk kopi ayahnya. Dia merasakan pahit di lidahnya. "Lebih baik aku minum obat!" Gumamnya. Ketika beranjak dewasa, dia mendeklarasikan "Gerakan Oposisi Kopi".

Rumput merambat cepat. Gerakannya kini meluas, pertanda bahwa pembenci kopi sangat masif. Namun, selalu ada yang membenci rumput. Gerakan itu pun diawasi pemerintah. Bila kopi di negara ini ludes, maka negara akan mengalami kerugian. Dan jika negara ini rugi, maka masyarakat sendirilah yang akan jadi korban. Begitu kata pemerintah.

Pada malam hari dia mengumpulkan kader-kadernya. Rapat dimulai.

"Saudara-saudara! Kita sedang di situasi genting. Pemerintah mulai mengusik kita. Negeri ini darurat demokrasi!" Begitu lantangnya dia berorasi. Keringatnya bercucuran. Kader-kadernya menyimak dengan seksama.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya seorang kader.

"Dengar saudara-saudara. Kita harus buat perubahan. Prancis tidak akan seperti sekarang, jika Raja Louis Enam Belas tidak dipenggal!" Jawab si ketua gerakan.

"Maksud Anda, kita harus memenggal Presiden?"

"Tidak! Itu tidak manusiawi. Hitler pernah menerangkan di Mein Kampf-nya, cara yang paling kejam untuk mengalahkan manusia ialah dengan cara yang manusiawi."

"Maksud Anda, propaganda? " Tanya seorang kader lainnya.

"Iya! Kita buat propaganda! Kita bujuk masyarakat agar mendukung kita. Setelah itu, Presiden akan jatuh dengan sendirinya!" Ucap semangat si Ketua Gerakan. Seketika dia dan kader-kadernya menggelorakan suara,

"HIDUP OPOSISI KOPI!"

*

Presiden sudah jengkel dengan gerakan itu. Dia putar otaknya untuk menghasilkan solusi. Tak lama solusi menghampiri otaknya. "Besok aku akan undang dia (Ketua Gerakan Oposisi Kopi) ke istana!" Gumamnya.

Esoknya Si Ketua pun memenuhi undangan Presiden. Kakinya kini menginjak lantai istana. Mereka berdua pun duduk di antara dua sofa.

"Kopi?" Tawar Presiden kepada si Ketua, sambil mencicipi kopinya.

"Tidak. Terima kasih." Tolak si Ketua.

"Kau tahu? Negara ini sangat kaya dan raya..." Presiden memulai.

"Jangan basa basi!" Si Ketua menyela.

"Hmm.. Anda suka to the point yah? Oke. Begini. Gerakan Oposisi Kopi yang Anda dirikan itu, sudah meresahkan negara. Mau tidak mau, gerakan itu harus dihentikan."

"Anda tahu Pak Presiden? Walaupun gerakan ini Anda hancurkan, ide kami akan terus gentayangan! Pembenci kopi akan terus hidup!"

"Tidak akan, jika sebuah pohon ditumbangkan, sampai akar-akarnya kubakar, pohon itu tidak akan tumbuh kembali. Bukan begitu, Ketua?"

"Jadi Anda bermaksud untuk memberangus kami?"

"Yah itu yang akan terjadi. Tapi, jika Anda membubarkan gerakan itu, maka tidak akan ada nyawa yang melayang. Jadi saya sarankan agar Anda dan kader-kader Anda, untuk segera mencicipi kopi."

"Jika itu pilihannya, maka lebih baik Saya melawan Anda, dan Kami tidak akan pernah mencicipi kopi setetes pun!"

Perbincangan pun usai. Begitulah keputusannya. Mereka akan saling lawan, antara pihak Pemerintah dan Gerakan Oposisi Kopi. Pemerintah mulai gencar memasarkan kopi-kopi kepada masyarakat. Melalui media, warung-warung, hingga pendidikan.

Begitupun dengan Gerakan Oposisi Kopi. Mereka mengkampanyekan idealisme mereka. Hingga suatu saat pernah mereka menculik dan membunuh beberapa petani biji kopi. Akhirnya pemerintah mulai memproduksi kopi buatan, bukan lagi kopi alami.

Bayi-bayi disusui dengan kopi susu. Walaupun kopi, tapi tetap susu jua. Begitu kata pemerintah. Para petani biji kopi akhirnya ketakutan untuk bertanam. Masyarakat mengalami krisis. Pertandingan antara Pemerintah dan Gerakan Oposisi Kopi pun terus berlanjut.

-

Purwakarta

Post a Comment