Written by Len
Written by Len

Komen!

Komen! - mlendrijulian - short story- writtenbylen



"Cepat Jang, Shalat Isya!" Perintah seorang Ibu kepada anaknya. Pada malam itu adzan Isya berkumandang menghiasi langit. Beberapa warga terlihat keluar dari rumahnya masing-masing, mengenakan sarung, koko, dan kopiah. Di sela-sela sibuknya para warga yang bergegas menuju Masjid itu, seorang anak bernama Ujang masih anteng dengan hapenya. Ibunya sudah bolak-balik untuk menyuruhnya pergi ke Masjid. Namun pada akhirnya, Ujang hanya menyahut "Iya Bu, Ujang shalat di rumah saja."

Tak lama kemudian toa Masjid mengumandangkan Iqomah. Ujang masih melototi hapenya dengan tatapan tajam. Tangannya terlihat sibuk memijit-mijit hape.

"Dirgayahu NKRI!" Ucapan itu terketik oleh Ujang di salah satu aplikasi media sosialnya. Memang, hari esok adalah hari ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia berulang tahun. Sebuah hari peringatan bagi seluruh warga Indonesia atas kemerdekaannya. Dengan sangat merdeka, Ujang turut memeriahkan hari besar itu di dunia mayanya.

Tibalah beberapa respon dari teman-teman terhadap ketikan Ujang itu. Beberapa memberikan "suka", dan beberapa lainnya melontarkan "komen". Dunia maya itu kini menjadi ramai setelah Ujang mengirimkan ucapan "Dirgayahu NKRI!".

"Semoga Negara kita ini makin sejahtera, ya Jang?" Salah seorang teman berkomen.

"Yah, semoga." Balas Ujang.

"Negara kita ini akan benar-benar sejahtera, jika sudah benar-benar merdeka!" Komen seorang teman lainnya.

"Negara kita ini sudah benar-benar merdeka kok. Kalau belum merdeka, mana bisa kita bercelotah-celoteh di media sosial? Kalau Anda merasa belum merdeka, pergi saja dari negara ini! Pergi sana ke Amerika. Siapa tahu disana benar-benar merdeka?" Balas Ujang sembari kesal bersemayam di dalam dirinya.

"Jang, Shalat Isya dulu." Tiba-tiba Ujang mendengar suruhan itu lagi dari Ibunya. Untuk menghentikan suruhan itu, Ujang pun keluar dari kamarnya, dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Ujang pun segera melaksanakan Shalat Isya di kamarnya. Terlihat hapenya tergeletak di lantai, tepat di belakangnya seperti makmum. Tak lupa dia kenakan kopiah dan sarung andalannya. Dengan tenang, dia berusaha untuk fokus dalam shalatnya, agar jiwanya sampai kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Selepas menunaikan Shalat Isya, Ujang langsung kembali kepada hapenya. Beberapa pemberitahuan komen pun dia dapati. Ucapannya yang tadi dia publikasikan itu, ternyata mendapatkan respon yang tidak sedikit. Ujang pun segera membaca komen-komen yang terlontar pada ucapannya itu.

"Negara kita memang sudah merdeka, tapi bangsa kita belum merdeka!" Bunyi sebuah komen.

"Bagaimana mau merdeka? Banyak warga yang hidupnya makin hari makin susah." Bunyi komen lainnya.

"Iya. Yang kaya makin kaya! Sesama warga jadi saling menjajah!" Bunyi komen lainnya.

"Menurut Saya sih, negara kita ini sudah menjanjikan kemerdekaan bagi setiap bangsa. Hanya saja, mereka-mereka yang sedang mengurus negara memang kurang bener. Jadi, yang merdeka itu mereka!" Bunyi komen lainnya lagi.

Ujang terbisu. Dia baca komen-komen itu dengan rasa tak karuan. Hatinya bercampur aduk. Terkadang dia kesal dengan komen-komen itu. Namun terkadang juga dia menikmati lontarannya. Dengan hatinya yang seperti itu, dia pun mencoba membalas komen-komen tersebut.

"Dasar netizen! Kalian hanya membuat ucapan dirgahayuku menjadi berantakan. Jika kalian ingin berceloteh, jangan di sini!" Ujang menyambar.

"Anda ini, ngapain ngucapin dirgayahu kepada sesuatu yang tidak juga men-dirgahayukan Anda?" Sebuah komen lagi-lagi menyambar.

"Dasar bodoh! Saya cinta pada negeri Saya. Tidak seperti Anda yang hanya bisa menghujat dan menghujat!" Sahut Ujang.

Waktu berjalan begitu cepatnya. Malam sudah tak lagi malam. Ujang mendapati jam di hapenya sudah menunjukan pukul 00.30 Waktu Indonesia Barat. Kalender di hapenya pun sudah menunjukan tanggal 17 Agustus 2019. Kini Ujang memasuki sebuah hari yang besar dan juga penting bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun Ujang masih bersahut-sahutan dengan teman dunia mayanya. Komen-komen makin membeludak pada ucapan Ujang itu. Semakin malam memudar, semakin ramai perduniaan maya.

Komen-komen itu baru senyap ketika subuh menghampiri. Hingga akhirnya Ujang mendapati kantuk pada matanya. Dia pun segera tertidur pada subuh itu. Begitu pulasnya Ujang tertidur, sampai-sampai dia terbangun pada waktu menuju senja. Ujang pun tidak hanya melewatkan Shalat Subuh dan Dhuhur, melainkan juga melewatkan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


*

Purwakarta

Post a Comment