Gadis itu lupa akan segalanya. Memorinya yang terisi kenangan-kenangan pahit maupun manis telah terformat dalam perangkatnya. Khalayak flashdisk, otaknya kini telah terbebas dari virus-virus jahat. Bersih sudah. Yang teringat olehnya saat ini adalah ketidakingatannya akan dirinya sendiri.
Seketika dia menjadi seorang filsuf yang penuh dengan pertanyaan. Dia menggali-gali terus kedalaman dirinya. Pendidikannya, keluarganya, asmaranya, hingga bertemu pada sebuah dasar pertanyaan yang berbunyi "Siapa Aku?"
"Namamu Rani." Ibunya mencoba mengingatkan. Gadis itu hanya terdiam, masih asing dengan nama pemberian orang tuanya itu. Hatinya masih kikuk menerima nama "Rani". "Aku berharap namaku Bulan." Katanya sembari cengengesan.
Seiring berjalannya waktu dia paksakan dirinya bernama "Rani". Namun ingatan belum juga kembali. Tiada yang mampu memulihkan ingatannya. Bahkan dokter memutuskan untuk membawanya keluar negeri. Namun kondisi finansial tidak memungkinkan. Akhirnya dia putuskan untuk tinggal di rumah, menunggu Semesta mengembalikan ingatannya.
Sembari berharap Semesta mengembalikan ingatannya, gadis itu meneruskan usahanya dalam menggali-gali seluruh tentang kehidupannya. Bagaikan bayi yang baru lahir kemarin, si gadis itu merasa aneh dan polos ketika dihadapkan pada dunia di sekelilingnya. Dia memasuki dunia baru!
Keinginannya untuk memulihkan ingatan menggebu-gebu. Disalurankan keinginan itu dengan membaca segala buku yang tersusun pada rak kecil dikamarnya. Dia habiskan waktunya dengan melahap kata-kata yang tersajikan dalam buku-buku itu. Filsafat, politik, agama, sastra, dan macam lainnya telah dicerna olehnya. Hingga akhirnya buku-buku itu telah membuat si gadis jatuh cinta. "Siapa tahu buku-buku ini akan memulihkan ingatanku?" Harapnya.
Terlena gadis itu pada buku-buku. Semakin hari semakin sering dia bercinta dengan bukunya. Otaknya yang sedang kosong akan kenangan-kenangan masa silam itu, dipenuhinya dengan kata-kata yang telah tercerna. Pikiran dan hasratnya hanya tertuju pada satu hal: buku.
Begitupun dengan aktifitas sosialnya. Gadis itu enggan melangkahkan kakinya dari rumah untuk bersosialisasi dengan warga sekitar. Dia hanya melangkahkan kakinya menuju kamar, dan segera bersosialisasi dengan "warga" yang ada di dalam dunia bukunya.
Dengan begitu dia telah berpergian ke berbagai macam daerah dengan hanya bermodalkan bola mata untuk membaca. Gadis itu telah bertemu dengan Suku Indian ketika membaca Indian Camp-nya Ernest Hemingway. Dia juga telah bertemu dengan warga Amerika abad ke-17an ketika membaca Scarlet Letter-nya Nathaniel Hawthorne. Alangkah ajaibnya, dia bisa menjelajahi ruang dan waktu.
Gadis itu makin cinta akan buku walau ingatannya tak kunjung pulih. Hari demi hari kian berputar cepat. Semakin dia berusaha memulihkan ingatan, semakin banyak dia melahap kata-kata. Rupanya Semesta masih menginginkannya untuk terus bercinta dengan buku.
"Bu, apakah Aku punya kekasih?" Tanyanya tiba-tiba pada Ibunya yang terpaksa harus dia akui, bahwa itu Ibu kandungnya.
"Setahu Ibu tidak punya. Tapi banyak juga yang naksir padamu." Jawab Ibunya.
"Baguslah!"
"Kenapa bagus?"
"Karena kekasihku hanya buku, Bu. Haha."
"Ah Kamu ini. Pergilah keluar rumah. Jalan-jalan. Siapa tahu ingatanmu pulih."
"Ya, akan kuusahakan."
Terpaksa gadis itu melangkahkan kakinya keluar rumah. Yang dipandangnya hanyalah keasingan. Segalanya terasa begitu asing sejauh mata memandang. Jalanan berbatu, pohon-pohon mangga milik tetangga, hingga hembusan udara senja yang menggelitiknya serasa asing. Namun dia terus melangkahkan kakinya.
Di sebuah danau yang tenang, berhenti langkah gadis itu pada tepiannya. Dia tatap ketenangan air. Dihirupnya udara senja dalam-dalam. Ditahannya beberapa detik. Kemudian dihembuskannya secara perlahan. Kantung matanya menutupi bola matanya. Dia mencoba merasakan keberadaan Semesta. Tiba-tiba air matanya memaksa berlinang. Dia tersendu-sendu. Makin deras air matanya. Membasahi pipi. "Alam yang indah! Aku cinta hidup ini." Jeritnya pada danau yang tenang.
Hari menuju malam. Gadis itu masih tersendu di tepian. Namun dia tak bisa selamanya terdiam di sana. Ada orang tua menunggu di rumah. Dia hapus sisa-sisa linangan air mata. Akhirnya bergegaslah dia kembali menuju rumah.
Ingatannya belum pulih. Namun dia jatuh cinta akan kehidupannya saat ini. Dia langkahkan kakinya menuju rumah dengan senang, walaupun dunia sedang asing. Senangnya gadis itu dimanjakan oleh dunia yang saat ini tak dikenalinya, seperti juga bayi yang senang dimanjakan oleh orang-orang yang belum dikenalinya.
Gadis itu tiba di rumah. Hari-hari setelahnya dia pakai untuk membantu segala pekerjaan Ibunya. Mulai dia bersosialisasi dengan para tetangga. Kecintaannya pada buku-buku belum sirna. Kata-kata selalu menjadi santapan sarapan dan makan malamnya. Hari-harinya dia penuhi dengan energi-energi positif. Sampai-sampai dia terlupa bahwa dirinya sedang lupa ingatan.
*
Purwakarta




Post a Comment