Written by Len
Written by Len

A Silent Voice (2016): Kekuatan Bahasa yang Tak Terdengar

Hari ini, 23 September, dunia sedang memperingati sebuah hari "bahasa isyarat". PBB menetapkan tanggal tersebut sebagai "Hari Bahasa Isyarat Internasional" pada 23 September 2017 lalu. Dipilihnya tanggal tersebut karena bertepatan dengan Kongres pertama tuli dunia yang berlangsung pada tanggal 23 September 1951 di Italia.

Hari peringatan bahasa isyarat internasional tersebut sudah seperti sebuah bentuk kasih sayang dunia kepada manusia-manusia yang mengalami ketidaknormalan pada beberapa alat inderanya. Untuk berkomunikasi, mereka, sebut saja orang tuli, mengalami kesulitan dalam menyampaikan/menerima sebuah pesan. Oleh karena itu, bahasa hadir sebagai alat bantu bagi mereka. Salah satunya dengan menggunakan bahasa isyarat. Terciptanya "Hari Bahasa Isyarat Internasional" merupakan sebuah monumen besar dalam kesejarahan umat manusia.

Bahasa merupakan alat komunikasi yang terstruktur, walaupun sering disebut-sebut mempunyai sifat arbiter. Terbilang terstruktur karena segala pesan yang disampaikan harus tersampaikan dengan sempurna oleh si penerima pesan. Adapun terbilang arbiter, karena bahasa mampu membebaskan dirinya dari segala yang terstruktur. Terkadang bahasa bersifat strukturalis, terkadang juga bersifat post-strukturalis.

Begitupun dengan bahasa isyarat. Bahasa isyarat mempunyai struktur-struktur tersendiri yang harus diterapkan ketika menggunakannya. Namun, bahasa isyarat pun bisa menjadi bahasa yang arbiter, bahasa yang bebas, bahasa yang tidak memerlukan struktur-struktur yang sudah ditetapkan, ketika si penggunanya mempunyai hobi 'mempermainkan' bahasa. Bahasa adalah sebuah alat komunikasi, sekaligus sebuah alat bermain bagi manusia.

Dengan memperingati "Hari Bahasa Isyarat Internasional", setidaknya umat manusia mengakui bahwa terdapat bahasa yang tidak memerlukan bunyi di Bumi ini. Setidaknya, manusia-manusia yang terlahir tidak tuli, mampu menghargai manusia-manusia yang terlahir tuli. Dengan begitu, kesolidaritasan antar umat manusia akan terjalin, walau tak sedarah, tak seagama, tak sebangsa, dan sebagainya.

Untuk memperingati "Hari Bahasa Isyarat Internasional", terdapat sebuah film yang berjudul A Silent Voice: The Movie, yang diliris pada tahun 2016. Film tersebut disutradarai oleh Naoko Yamada, dan ditulis oleh Reiko Yoshida. Tersurvey oleh imdb.com, film tersebut memiliki rating 8,2/10. Dapat dikatakan, film tersebut memperoleh penonton yang meledak-ledak.


A Silent Voice- mlendrijulian - writtenbylen


Film yang berbentuk anime ciptaan Jepang itu mengisahkan seorang tokoh lelaki bernama Shoya Ishida, yang semasa kecilnya mempunyai pengalaman buruk. Ketika Ishida duduk dibangku sekolah, katakanlah SD kelas 6, dia berjumpa dengan seorang murid baru bernama Shoko Nishimiya. Ishida mendapati bahwa Nishimiya, teman barunya itu, merupakan seorang perempuan yang tuli. Seiring berjalannya waktu, Ishida menjadi seorang pem-bully, yang selalu menganggu kehidupan Nishimiya.

Namun keadaan berbalik kepada Ishida. Suatu ketika Ishida mendapati hukuman atas tindakannya sendiri. Hukuman itu tidak hanya memberatkan kehidupannya di sekolah, melainkan di segala aspek kehidupannya. Teman-teman yang mulanya dekat dengannya, mulai menjauh darinya. Hingga akhirnya, kehidupan telah menciptakan kesendirian untuknya.

Ketika masuk ke tingkat sekolah selanjutnya, katakanlah SMA, Ishida menjadi pendiam. Dia enggan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Sifat periangnya sewaktu SD, kian menghilang ketika SMA. Seakan-akan, Ishida telah menjadi seorang yang tuli pada waktu itu.

Pada waktu itu Ishida hanya menyimpan rasa sesal. Rasa sesal yang tumbuh akibat perbuatannya yang telah mem-bully Nishimiya. Di dalam memori dan batinnya, Ishida menegaskan bahwa dia telah menghancurkan kehidupan Nishimiya. Demi keluar dari zona sesal itu, Ishida pun berniat untuk menemui Nishimiya dan meminta maaf dengan sebesar-besarnya.

Film A Silent Voice: The Movie (2016) ini sekaligus sebuah kritik untuk para pem-bully yang selalu menganggu kehidupan. Setiap manusia mempunyai kebebasan, dan pem-bully selalu berusaha merampasnya. Korban dari pem-bully selalu digambarkan lebih lemah dari pem-bully itu sendiri. Sedangkan pem-bully, selalu digambarkan lebih kuat dari korbannya. Budaya seperti itu, harus segera dilenyapkan! Pem-bully-an bukanlah sebuah motivasi untuk berubah menjadi lebih kuat, melainkan sebuah penindasan kepada yang lebih lemah.

Shoya Ishida, dalam film tersebut, ketika dia menjadi seorang pem-bully, digambarkan lebih kuat dari Shoko Nishimiya. Sedangkan Shoko Nishimiya yang tuli, digambarkan menjadi seorang perempuan yang lemah. Alhasil, Ishida memberanikan diri untuk mem-bully Nishimiya. Walau pada akhirnya, Ishida menjadi korban dari perbuatannya sendiri.

Seperti halnya dengan kehidupan kenegaraan. Seseorang yang mempunyai kuasa, selalu mempunyai kuasa untuk menindas yang lemah. Alhasil, ketika yang tidak punya kuasa mempunyai kuasa suatu waktu, dia pun menjadi punya kuasa untuk menindas. Hal tersebut sudah seperti "lingkaran setan" yang membudaya. Orang yang hebat adalah dia yang mampu menghapus "lingkaran setan" tersebut dalam kehidupan.

Untungnya, "lingkaran setan" tidak diberlakukan dalam film A Silent Voice: The Movie (2016). Shoko Nishimiya seperti orang hebat yang mampu menghapus "lingkaran setan". Walaupun Nishimiya tuli, tidak bisa berkata-kata, dia mampu untuk membunyikan bahasa yang lembut, bahasa yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Suara dari bahasa tersebut tidak akan bisa didengar oleh gendang telinga yang berada di dalam kepala, melainkan oleh hati yang tulus untuk mendengarkannya.

Husserl, dalam fenomenologinya, telah menelaah bahwa manusia mempunyai dua bentuk phone dalam bahasa. Yang pertama disebut kolokui (colloquy). Kolokui adalah kemampuan manusia ketika berkomunikasi dengan menggunakan suara sebagai penandanya. Sedangkan yang kedua, disebut solilokui (soliloquy). Solilokui inilah yang merupakan kemampuan komunikasi manusia, dengan suara yang tidak terdengar oleh telinga. Solilokui adalah fenomenological silence. (Al-Fayyadl, Derrida: 58-59)

Shoko Nishimiya telah menunjukkan bagaimana solilokui bekerja. Dia telah menunjukkan bahwa setiap manusia mempunyai bahasa, walaupun panca inderanya terlahir tidak normal. Berbahasa adalah hak setiap insan! Dan setiap insan, berhak didengar bahasanya.

Sedangkan tokoh Shoya Ishida, berusaha untuk memahami fenomena solilokui tersebut. Dia berusaha mendengar suara-suara dari bahasa yang tidak terdengar oleh telinga. Melalui Shoko Nishimiya, Ishida telah menemukan bahasa yang tidak terdengar itu. Dia menemukan betapa indahnya ketika bahasa itu terdengar oleh hatinya. Sehingga, dia tersadar bahwa tidak ada bunyi yang bersembunyi. Sebab, yang bersembunyi itu tetaplah sebuah bunyi yang mampu didengar.

Film A Silent Voice: The Movie (2016) adalah sebuah film yang mampu menggambarkan bunyi yang bersembunyi itu. Keindahan berbahasa telah digambarkan oleh film ini. Tokoh-tokoh yang tercipta dalam film tersebut telah memberikan amanat kepada penontonnya. Setidaknya, film ini dapat menjadi sebuah rujukan bagi umat manusia dalam memperingati "Hari Bahasa Isyarat Internasional".

"Hari Bahasa Isyarat Internasional" sudah menjadi sebuah monumen dalam merayakan indahnya berbahasa, termasuk berbahasa dengan isyarat. Bahasa isyarat adalah a silent voice. Bahasa tersebut telah membuktikan bahwa setiap manusia berhak didengar, walaupun tak ada bunyi yang nampak.


Purwakarta

Post a Comment