Written by Len
Written by Len

Karya Sastra dan Kasus Pembunuhan

Sastra dan pembunuhan - mlendrijulian - writtenbylen


Belakangan ini media massa di Indonesia menyiarkan warta pembunuhan. Kasus tersebut kian membeludak di kalangan masyarakat. Dalam kasus itu, masyarakat dibagi menjadi tiga golongan: pelaku, korban, dan penonton. Pelaku yang telah ditetapkan menjadi tersangka pun bervariasi: tua-muda, pria-wanita, individu-kolektif. Media mainstream/non mainstream dibuat laris oleh kasus-kasus pembunuhan.

Kasus pembunuhan yang sedang hangat diwartakan ialah kasus yang dilakoni oleh seorang wanita di Kabupaten Sukabumi. Wanita itu telah ditetapkan menjadi tersangka. Suami dan anaknya menjadi korban pembunuhannya. Polisi telah menyelidiki bahwa metode yang digunakan pelaku adalah metode kolektif, sebuah metode yang dilakukan oleh beberapa orang. Dengan dibantu oleh beberapa rekan, wanita itu telah sukses melancarkan aksi pembunuhannya, walau pada akhirnya harus berujung pada jeruji besi.

Setelah diselidiki lebih mendalam lagi, polisi mendapati sumber terjadinya kasus pembunuhan tersebut. Tersangka mengakui bahwa asal-muasal dia membunuh suami dan anaknya disebabkan oleh hutang beratus-ratus juta rupiah yang sedang melilitnya. Ketika wanita (tersangka) itu dihadapkan dengan para wartawan, air matanya berlinang, tersendu-sendu, sembari mengaku menyesal atas perbuatannya.

Selain di media massa, kasus-kasus pembunuhan telah banyak direfleksikan dalam karya sastra. Rene Wellek dan Warren Austin (1956) menyebut karya sastra sebagai "A Social Creation". Isu-isu sosial seringkali menjadi tema utama dalam sebuah karya sastra. Karya sastra sudah seperti "miniatur" dari kehidupan, atau mungkin kehidupan inilah yang sesungguhnya "miniatur" dari karya sastra?

Jika dipermainkan lebih liar lagi, A Social Creation bisa menjadi multi-sudut pandang. Bisa jadi, sebuah keadaan sosial-lah yang telah menciptakan sebuah karya sastra. Bisa jadi juga, karya sastra-lah yang telah menciptakan sebuah keadaan sosial di kehidupan umat manusia. Karya sastra memang sulit lepas dari isu-isu sosial. Namun, tak sedikit juga isu-isu sosial yang bersumber dari karya sastra.

Sebuah novel Indonesia berjudul "Dilan" karya Pidi Baiq berusaha mengubah pembacanya dalam urusan percintaan. Novel tersebut telah mengilustrasikan betapa indahnya berpacaran sewaktu muda. Disisi lain, sebuah novel Indonesia yang berjudul "Ayat-Ayat Cinta" karya Habiburrahman, berusaha mengajak pembacanya untuk fokus dalam mencari ilmu, serta menambah amal-amal ibadah dalam kehidupannya. Kedua novel tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, namun mempunyai satu kesamaan: berusaha menciptakan sebuah keadaan sosial dalam kehidupan manusia.

Karya sastra memang terkadang dapat menjadi sebuah "agama" yang menuntun manusia dalam kebaikan. Karya sastra juga terkadang menjadi sebuah "senjata" yang menguntungkan segelintir orang. Namun demikian, sebuah karya sastra tidak dapat diadili begitu saja. Setiap karya sastra, mempunyai reader response. Reader response inilah yang mampu mengubah sebuah karya sastra menjadi "agama", atau juga mengubahnya menjadi "senjata".

Kasus pembunuhan yang tadi dibahas, tentang seorang wanita yang membunuh suami dan anaknya, mengaku terinspirasi dari sebuah sinetron yang sering ditontonnya. Hal tersebut tertulis dalam artikel CNNIndonesia.com. Dengan begitu, sinetron tersebut telah menginspirasi si tersangka untuk melakukan pembunuhan. Namun bukan si sutradara sinetron tersebut yang berujung pada jeruji besi, melainkan si wanita (tersangka).

Boggs dan Petrie dalam "The Art of Watching Films"-nya telah mengemukakan bahwa film serupa dengan drama. Drama merupakan salah satu jenis dari karya sastra. Hanya saja, film lebih menggunakan alat-alat yang modern dalam mempertunjukan ceritanya. Secara garis besarnya, film maupun drama sama-sama mempunyai garis alur dalam penceritaannya: dari beggining, rising conflict, hingga ending. Terlepas dari bagaimana mempermainkan garis alur itu, film maupun drama tetaplah memiliki alur.

Begitupun dengan sinetron. Sinetron, walau bagaimanapun, tetap memiliki alur dalam penceritaannya. Bahkan, ada beberapa sinetron yang diadaptasi menjadi sebuah film, dan masuk ke dalam perbioskopan Indonesia. Dengan begitu, sinetron mubah hukumnya disebut sebagai sebuah film ataupun drama. Mubah dikatakan juga, sinetron merupakan anak yang dilahirkan oleh sastra. Hanya saja, sastra memiliki sifat "To tell", sedangkan sinetron atau film atau drama, bersifat "To show".

Sebuah narasi dari sebuah sinetron yang menginspirasi si wanita (tersangka) dalam melakukan pembunuhan tadi, akan sulit jika dibawa ke pengadilan untuk diadili. Yang dapat dilakukan oleh para penegak hukum hanya memberhentikan tayangan sinetron tersebut. Tetapi untuk memberhentikan sebuah tayangan sinetron, tetap memerlukan alasan yang logis dan juga pertimbangan yang sudah matang.

Dahulu, terdapat beberapa karya sastra yang sempat menghebohkan dunia pada masanya. Sebuah novel berjudul Uncle Tom's Cabin (1852), yang ditulis oleh seorang wanita bernama Harriet Beecher Stowe, disebut-sebut sebagai sebuah percikan api yang menyulut Perang Sipil pada tahun 1862 di Amerika. Walaupun telah menyulut sebuah perang, Harriet Beecher Stowe tidak pernah dijatuhi hukuman. Hanya saja, beberapa kritik terlontarkan kepada Stowe dan karya besarnya itu. Alhasil, semakin banyak kritikan maka semakin besar pula karya tersebut.

Berbeda halnya dengan Salman Rushdie. Penulis abad ke-20 yang heboh dengan karya besarnya yang berjudul The Satanic Verses (1988) itu pernah diburu oleh salah seorang Pemimpin Spritual Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Alasannya, novel yang ditulis oleh pria kelahiran India itu mengandung penistaan terhadap agama. Dalam wawancaranya di Agence France Presse (AFP), Rushdie menceritakan kisahnya yang selama bertahun-tahun bersembunyi dengan cara memalsukan identitasnya. Namun pada akhirnya, kini Salman Rushdie pun terbebas dari ancaman eksekusinya, dan The Satanic Verses-nya menjadi salah satu karya besar yang dimiliki oleh sejarah kehidupan umat manusia.

Kedua kisah penulis dan karya sastranya itu telah membuktikan bahwa karya sastra bukan hanya menceritakan kisah-kisah pembunuhan di setiap bab-nya, melainkan telah menciptakan berbagai macam pembunuhan pada alur kehidupan. Namun, layakkah karya sastra dieksekusi? Bukankah itu menghalangi kebebasan berekspresi? Akankah masyarakat benci terhadap karya sastra?

Ketika masa Adam dan Hawa, manusia pertama yang menghuni Bumi, karya sastra masih belum menampakkan dirinya. Namun, kisah pembunuhan pertama sepanjang sejarah umat manusia pun terjadi pada masa itu. Kasus pembunuhan itu dilakoni oleh seorang anak Adam kepada seorang anak Adam lainnya. Kisah pembunuhan itu pun diwariskan dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dari bangsa ke bangsa. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, alat yang digunakan untuk melakukan pembunuhan berbeda-beda. Namun satu kisah yang tergoreskan dalam kertas sejarah selalu sama: kisah pembunuhan.

Entah mengapa kasus pembunuhan melekat pada kehidupan manusia. Dari mulai membunuh binatang untuk bertahan hidup, hingga membunuh manusia lainnya, menandakan bahwa manusia memang mempunyai naluri membunuh. Itu sebabnya Thomas Hobbes, seorang filsuf berkebangsaan Inggris, mengistilahkan manusia sebagai "Homo Homoni Lupus", yang berarti "manusia adalah serigala bagi sesamanya." Manusia terkadang bisa seperti hewan yang paling buas, terkadang juga bisa menjadi malaikat yang penuh cinta.

Terdapat salah satu cerpen Amerika berjudul The Most Dangerous Game (1924) yang juga ditulis oleh seorang berkebangsaan Amerika, yang bernama Richard Connel. Cerita pendek itu telah menggambarkan betapa naluri pembunuhan sangat melekat pada manusia. Cerita itu berkisah tentang seorang tokoh bernama General Zaroff yang tinggal di sebuah pulau misterius. Dalam kisah itu, General Zaroff adalah seorang yang ahli dalam berburu. Suatu ketika, General Zaroff merasakan kebosanan dalam memburu binatang-binatang buas. Akhirnya General Zaroff memiliki nafsu untuk berburu manusia. Namun, dia merasakan berburu manusia pun membosankannya. Untuk menghilangkan rasa bosannya itu, General Zaroff menciptakan sebuah game yang bertemakan "Memburu atau Diburu". Lawannya dari game tersebut adalah seorang tokoh bernama Sanger Rainsford dari New York, yang kebetulan sedang mengunjungi pulau misterius itu dalam rangka berburu.

Dari kisah tersebut, manusia memang memiliki naluri untuk membunuh. Si wanita (tersangka) dari kasus pembunuhan yang telah dipaparkan tadi, telah membiarkan naluri untuk membunuh menguasai dirinya. Naluri membunuh memang bersemayam dalam diri manusia, namun merenggut nyawa seseorang merupakan tindakan pelanggaran hak asasi manusia untuk hidup. Dari sinilah seharusnya karya sastra berperan.

Karya sastra memang bisa menjadi sebuah "senjata" bagi umat manusia. Namun karya sastra juga bisa menjadi sebuah "agama" yang menuntun umat manusia menuju kedamaian. Semuanya kembali kepada si penulis dan reader response-nya. Seperti yang dikemukakan oleh Horace, seorang penyair yang hidup pada abad sebelum Masehi, tentang bagaimana sifat karya sastra itu seharusnya. Horace mengemukakan dalam karyanya yang berjudul Ars Poetica bahwa karya sastra itu haruslah bersifat "Utile et Dulce" atau "To Instruct and To Delight" atau "Mendidik dan Menghibur".


*

Purwakarta

Post a Comment