Mugi sedang berusaha untuk sembunyi. Dia berusaha sembunyi dari teman-temannya, dari orang-orang di sekitarnya, dari keluarganya, dan juga dari kehidupannya. Mugi merasakan kenikmatan ketika bersembunyi, karena dengan sembunyi, dia mendapatkan kesendirian, keterasingan, hingga ketenangan. Bersembunyi adalah salah satu hal yang selalu menghiasi hari-harinya.
"Dimana aku harus sembunyi?" Tanyanya pada diri sendiri, ketika di rumah sedang ada acara keluarga.
"Oh iya aku tahu!" Gumamnya lagi pada dirinya sendiri.
Akhirnya Mugi pergi menuju kamarnya. Dia mengunci pintunya. Dia menutup gordennya, tak membiarkan cahaya matahari memasuki kamar melalui jendela. Dia keluarkan hape dari saku celananya. Lalu dia cari sebuah headset. Setelah ketemu, dia sambungkan headset itu dengan hapenya. Ditutupi lubang telinganya dengan eartips dari headset itu. Setelahnya Mugi segera membaringkan diri ke kasurnya, sambil menikmati alunan lagu Take Me Home-nya John Denver.
Sebelum lagu itu berhenti, terdengar olehnya beberapa kali ketukan pada pintu kamarnya. Ternyata itu adiknya. Mugi segera melepaskan headset dari telinganya, dan menyahut "Iya, nanti Kakak keluar." Namun Mugi tidak pernah keluar dari kamarnya. Yang dilakukannya adalah memasang kembali headset itu ke telinganya, membaringkan tubuh ke kasurnya, dan segeralah Mugi menidurkan dirinya. Sebelum tertidur, Mugi bergumam pada dirinya sendiri "Tidur adalah alat yang paling ampuh untuk sembunyi!"
Matahari sudah hampir tenggelam, dan Mugi baru terbangun dari tidurnya. Untuk menyegarkan diri, Mugi membuka pintu kamarnya yang terkunci, dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Diguyurnya sekujur tubuhnya. Setelah selesai dari mandinya, Mugi bergegas keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamarnya. Sebelum menuju ke kamarnya, Mugi melirikan matanya ke arah ruang tamu, dan mendapati acara keluarga yang sedari tadi berlangsung, belumlah usai.
Mugi mempercepat langkah kakinya menuju kamar. Dia kembali mengunci pintu. Dipilih-pilih baju yang akan dikenakannya. Mugi pun memilih sebuah kaos berwarna hitam dan sekain sarung yang juga berwarna hitam sebagai bawahannya. Setelah dikenakannya sepasang pakaian itu, Mugi bercermin, menatap dalam-dalam parasnya yang baru selesai mandi itu. Tiba-tiba terdengar lagi suara ketukan pintu. Lagi-lagi adiknya. "Kak, keluarlah dulu."
"Iya, sebentar lagi Kakak kesana." Jawab Mugi.
Terpaksa Mugi harus keluar dari kamarnya. Dia kunjungi para keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu. Segera dia pasang wajah ramah, siap untuk berakting. Sesampainya di ruang tamu, Mugi pun menyalami para keluarga yang sedang berkumpul itu.
"Aduh. Ini pemuda sudah besar lagi." Sambut salah seorang keluarga.
"Iya. Haha" Sahut Mugi sambil memasang bibir senyum.
"Sudah bereskah kuliahmu?" Tanya seorang keluarga lainnya.
"Sudah."
"Bagus, hebat! Sudah dapat kerja?"
"Belum."
"Kalau menikah, mau kapan?"
"Nanti, kalau sudah kerja."
Malam sudah tiba pada hari itu. Acara keluarga pun telah usai. Para keluarga itu meninggalkan rumah. Ruang tamu pun sepi seketika. Mugi pun segera kembali menuju ke kamarnya. Namun tak lama kemudian, Mugi keluar lagi dari kamarnya.
"Mah, Mugi keluar dulu." Kata Mugi tiba-tiba kepada Ibunya yang sedang menonton televisi. Mugi memang sering keluar pada malam hari, dan pulang pada malam yang larut.
"Mau kemana?" Tanya Ibunya.
"Ke warung."
"Jangan terlalu malam pulangnya."
"Iya."
Mugi pun melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan rumah, menuju ke warung tempat biasa dia menyendiri. Setibanya, terlihat sepi olehnya warung tersebut. Biasanya, selalu ada beberapa teman yang nongkrong di warung itu. "Mantap!" Gumam Mugi penuh semangat. "Kini aku bisa bersembunyi dengan tenang." Lanjutnya.
"Hei, Mugi!" Tiba-tiba seseorang menyapa Mugi. Ternyata itu adalah seseorang yang biasa disebut 'Lelaki Tua.'
"Hei, Pak." Sahut Mugi dengan suara kecil.
"Kemana saja?"
"Ada saja."
Mereka berdua pun nongkrong di warung itu. Mugi terpaksa harus menemani si Lelaki Tua. Pada malam itu, si Lelaki Tua menceritakan panjang lebar tentang masa lalunya, pengalamannya, kehidupannya. Namun Mugi tidak menceritakan satu kisah pun. Mugi hanya terpaksa menjadi pendengar yang baik di malam itu.
"Sial. Aku harus bersembunyi." Gumam Mugi dalam hati.
Mugi pun menunggu si Lelaki Tua berhenti bercerita. Namun semakin dia menunggu, semakin lama juga si Lelaki Tua bercerita. Akhirnya Mugi memutuskan untuk menyela cerita si Lelaki Tua. "Duh, maaf Pak. Aku harus pulang. Sudah larut." Sela Mugi.
"Mau kemana? Masih sore." Tanya Lelaki Tua.
"Iya, haha. Nanti besok lagi saja."
"Ya sudah, hati-hati."
Mugi pun bergegas kembali ke rumah, dan bersembunyi di dalam kamarnya. Setibanya di kamar, Mugi berniat menidurkan dirinya, berusaha menyembunyikan dirinya dari malam hari. Namun kantuk belum menghampirinya. Dia paksakan memejamkan matanya, namun matanya menolak untuk menutup. Akhirnya Mugi memutuskan untuk membaca sebuah buku.
Mugi memilih membaca buku 1984-nya George Orwell. Sebuah buku yang menerangkan tentang tokoh yang berusaha sembunyi dari Big Brother. Mugi pun menyamakan dirinya dengan tokoh di novel tersebut. "Segala yang ada di dunia ini adalah Big Brother!" Gumamnya.
Tak lama kemudian, matanya lelah untuk membaca. Dia tutup novel itu, diletakkannya ke rak buku di samping kasurnya. Kini Mugi pun menatap langit-langit kamarnya. Terdiam. Tiba-tiba pikirannya seakan berbicara kepadanya.
"Manusia pasti akan mati. Datangnya pun tak diketahui. Sedetik kemudian, entah di daerah mana, di negara apa, kematian datang merenggut nyawa." Kata pikirannya.
Mugi dibuat termenung. Dia berusaha mengusir pikirannya itu. Namun semakin dia berusaha mengenyahkan pikirannya, semakin pula pikiran itu menganggunya. Pikiran itu pun kembali menghantuinya.
"Bagaimana jika kematian itu datang padamu?" Tanya pikirannya.
"Aku tidak takut." Jawab Mugi dalam hatinya.
"Yah. Kau tidak takut akan kematian yang menghampirimu. Tapi, bagaimana jika kematian itu menghampiri orang-orang di sekelilingmu?"
Mugi terdiam. Pikirannya semakin liar.
"Apa yang terjadi jika orang-orang di sekelilingmu meninggalkanmu? Apa yang akan kau lakukan? Kemana lagi kau akan bersembunyi?"
Mugi pun berbayang-bayang. Dia membayangkan, sedetik kemudian Ayah, Ibu, dan Adiknya direnggut nyawanya, pergi meninggalkannya. Dia pun membayangkan, sedetik kemudian si Lelaki Tua, teman-temannya, dan orang-orang yang ada di sekelilingnya pergi meninggalkannya. Seketika hatinya merasa sepi dan takut.
"Jangan bersembunyi lagi. Keluarlah. Hadapilah dunia! Sayangi orang-orang yang ada di sekelilingmu. Sayangi mereka!" Perintah pikirannya.
Pada malam itu, dengan duduk di atas kasurnya, Mugi meneteskan air matanya dan tersendu-sendu. Pakaiannya dibuat basah oleh air mata. Setelah berlama-lama meneteskan air mata, Mugi membaringkan tubuhnya. Dia tatap langit-langit kamarnya, dan tak lama kemudian, Mugi pun tertidur.
Esok harinya, ketika matahari mulai terbit, Mugi terbangun dari tidurnya. Segera dia buka pintu kamarnya. Terlihat olehnya Ayah yang sedang bersiap-siap pergi ke kantor, Ibu yang yang sedang menyapu ruang tamu, dan Adiknya yang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Seketika Mugi menciptakan senyum pada bibirnya. "Kali ini aku akan bersembunyi dari persembunyian." Kata hatinya berjanji.
*
Purwakarta




Post a Comment