Written by Len
Written by Len

Rudy Habibie (2016): Sikap Nasionalisme Seorang B. J. Habibie

Tanggal 11 September 2019 akan diingat sebagai tanggal wafatnya Presiden ke-3 Republik Indonesia, sekaligus seorang ilmuwan dunia, B. J. Habibie. Seseorang yang disebut-sebut sebagai "Bapak Demokrasi Indonesia" itu meninggalkan banyak kisah bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga, walaupun jasadnya telah dikuburkan, jiwanya, semangatnya, karyanya, akan selalu hidup di muka Bumi.

Dikutip dari mojok.co, B. J. Habibie lahir di tanah Parepare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau dilahirkan dari rahim seorang ibu berdarah Jawa bernama R. A. Tuti Marini Puspowardojo. Sedangkan sang Ayah, yang bernama Alwi Abdul Jalil Habibie, memiliki darah Bugis. B. J. Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara.

Selama 83 tahun hidup di muka Bumi, B. J. Habibie telah banyak menggoreskan kisahnya dalam sejarah. Dari mulai menemukan Crack Propagation Theory, hingga kisah cintanya dengan Hasri Ainun Besari. Kisah-kisah tersebut menginspirasi beberapa kalangan masyarakat untuk membuat karya tersendiri. Salah satunya dengan membuat film tentang perjalanan B. J. Habibie. Setidaknya, sudah ada dua film tentang B. J. Habibie yang masuk ke perbioskopan Indonesia.

Salah satunya adalah sebuah film yang diberi judul Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2) yang liris pada tahun 2016. Film tersebut merupakan adaptasi dari sebuah novel yang berjudul "Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner", yang ditulis oleh Ginatri S. Noer, yang diterbitkan pada tahun 2015. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo itu, secara garis besar, menggambarkan masa-masa perkuliahan B. J. Habibie ketika di RWTH (Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule), Aachen, sebuah kota yang terletak di sebelah barat Jerman. Berdasarkan hasil survey dari filmindonesia.or.id, film tersebut berada pada peringkat ke- 6 dari 15 film, berdasarkan banyaknya penonton, pada tahun 2016. Dengan begitu, film tersebut sudah menjadi sebuah monumen bagi umat manusia, khususnya bagi bangsa Indonesia, dalam mengenang sosok B. J. Habibie.


Rudy habibie - mlendrijulian - review


Tokoh Rudy Habibie atau B. J. Habibie, dalam film tersebut, diperankan oleh seorang aktor ternama bernama Reza Rahadian. Seperti film sebelumnya, yang berjudul "Habibie dan Ainun" yang liris pada tahun 2012, yang disutradarai oleh Faozan Rizal, Reza Rahadian kembali dipercayai memerankan sosok B. J. Habibie. Pada film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2), Hanung Bramantyo telah membuat Reza Rahadian berlogat ala B. J. Habibie. Hanung juga telah membuat Reza berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman di layar lebar.

Hanung Bramantyo, dalam kr.jogja.com, pada acara Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2016, mengemukakan asal muasal inspirasinya dalam membuat film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2). Hanung mengatakan "Terdapat momen penting dari kehidupan B. J. Habibie yang harus saya sampaikan kepada masyarakat Indonesia. Bagaimana perjuangan beliau sewaktu menjaga identitas negara Indonesia di negara lain dan kegigihan yang ia lakukan untuk membela negara adalah hal penting yang perlu disampaikan."

Sesuai dengan asal muasal inspirasi sang sutradara, film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2) ini mengisahkan perjuangan B. J. Habibie di negara Jerman. Dengan bermodalkan uang dari sanak keluarganya yang sederhana, B. J. Habibie memberanikan diri untuk berkuliah di Jerman. Rintangan demi rintangan menimpanya ketika menjadi perantau di tanah Jerman. Namun demikian, B. J. Habibie tetap berusaha untuk mempertahankan identitas tanah airnya, Indonesia.

Untuk mempertahankan identitas Indonesia, B. J. Habibie memutuskan untuk bergabung dengan Perhimpuan Pelajar Indonesia. Dengan didukung oleh beberapa tokoh seperti Liem Keng Kie (Ernest Prakasa), Peter Manumasa (Pandji Pragiwaksono), Poltak Hasibuan (Boris Bokir), Ayu (Indah Permatasari), dan tokoh lainnya, B. J. Habibie dipercayai untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia. Dengan dirinya yang terpilih menjadi ketua PPI, B. J. Habibie berinisiatif untuk membuat sebuah seminar yang berjudul "Seminar Pembangunan".

Rintangan demi rintangan seringkali menghambat proses berjalannya Seminar Pembangunan tersebut. B. J. Habibie pun seringkali merasakan keputus-asaan. Namun seringkali juga dirinya bangkit kembali. B. J. Habibie memiliki sebuah rumus dalam setiap menyelesaikan permasalahannya. Rumus tersebut berbunyi "Fakta, masalah, dan solusi."

Rumus "Fakta, masalah, dan solusi" adalah sebuah rumus yang mendeskripsikan kekukuhan hati dan pikirannya. B. J. Habibie, dalam film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2), digambarkan mempunyai sifat kukuh terhadap pendiriannya. Jika dia berkata "A", maka haruslah jadi "A". Dengan memakai rumus "Fakta, masalah, dan solusi", B. J. Habibie mampu untuk mempertahankan argumennya dalam mengambil sebuah keputusan.

Beberapa adegan dalam film memperlihatkan hal tersebut. Ketika Negara Indonesia sedang mengalami gejolak di Papua, pihak pemerintah memaksa mahasiswa yang ada di luar negeri, termasuk B. J. Habibie dan teman-temannya, untuk turut membantu. Namun B. J. Habibie menolak hal tersebut. Dia lebih memilih untuk melanjutkan Seminar Pembangunannya. Dengan menggunakan rumus "Fakta, masalah, dan solusi"-nya, B. J. Habibie pun melontarkan kekukuhannya. "Faktanya: Indonesia sudah merdeka. Masalahnya: setelah merdeka lalu apa? Solusinya: Seminar Pembangunan." Katanya dalam film tersebut.

Kekukuhannya itu bahkan terasa oleh teman-temannya, dan sempat menciptakan konflik di antara mereka. Namun demikian, teman-temannya itu memahami kekukuhan seorang B. J. Habibie dan selalu setia untuk menemaninya. Semakin konflik bermunculan, semakin banyak hikmah yang tercipta. Alhasil, kehidupan B. J. Habibie di Jerman pun jadi penuh akan warna.

Selain penuh dengan lika-liku proses perjalanan Seminar Pembangunan, Film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2) ini pun mengandung unsur romance. Dalam film tersebut, B. J. Habibie dipertemukan oleh seorang tokoh perempuan berkebangsaan Polandia, yang memiliki ikatan kenangan tentang Indonesia. Tokoh tersebut bernama Ilona Ianovska, yang diperankan oleh seorang aktor ternama bernama Chelsea Islan. Mereka bertemu, dan akhirnya cinta pun mempersatukan dua tokoh tersebut.

Namun kisah percintaan antara dua tokoh tersebut menciptakan rasa dilematik bagi keduanya. B. J. Habibie berada pada situasi yang memaksanya untuk memilih, antara Ilona atau negaranya. Pada akhirnya, B. J. Habibie lagi-lagi menggunakan rumus "Fakta, masalah, dan solusi"-nya. "Faktanya: saya cinta Indonesia. Masalahnya: saya cinta Indonesia. Solusinya: saya cinta Indonesia." Katanya kepada Ilona. Berakhirnya hubungan mereka menjadi sebuah alasan mengapa B. J. Habibie pada akhirnya menikah dengan Hasri Ainun Besari.

B. J. Habibie pun telah membocorkan kisah kasihnya bersama Ilona pada acara Mata Najwa. Pada acara tersebut, B. J. Habibie menyatakan bahwa Ilona adalah kekasihnya sewaktu di Jerman. B. J. Habibie pun mengatakan bahwa banyak teman-temannya yang tidak setuju terhadap hubungannya dengan Ilona. Bahkan, B. J. Habibie mengatakan bahwa Ilona berusaha untuk memisahkannya dari Indonesia. "Indonesia tidak memberikan apa-apa padamu." Kata Ilona, yang dikutip oleh B. J. Habibie pada acara tersebut.

Film Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2) yang liris pada tahun 2016 ini, telah mengabadikan berbagai macam perjuangan sosok B. J. Habibie dalam membela negaranya. Aktor-aktor yang bermain pada film tersebut pun memiliki seni akting yang tinggi. Walaupun penontonnya tidak sebanyak yang didapati oleh film sebelumnya, "Habibie dan Ainun (2012)", setidaknya film ini bisa menjadi sebuah rujukan bagi bangsa Indonesia dalam mengenang Presiden ke-3-nya itu. Setidaknya, film ini telah menggambarkan sikap dari seseorang tokoh yang cinta akan negaranya.

Kecintaan B. J. Habibie kepada Indonesia tidak dapat diragukan lagi. Sikapnya menggambarkan bagaimana sikap seorang nasionalisme seharusnya. Sehingga, walaupun kini Bacharuddin Jusuf Habibie telah berjumpa dengan Hasri Ainun Besari di alam yang lain, sejarah kehidupannya akan selalu terkenang oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Faktanya: B. J. Habibie telah tiada di muka Bumi. Masalahnya: B. J. Habibie telah tiada di muka Bumi. Solusinya: Kalau bukan kita, siapa lagi yang mencintai negeri?


Purwakarta


Post a Comment