Written by Len
Written by Len

Tragedi 'Dibakar' dan 'Terbakar'

Bakar- writtenbylen- mlendrijulian- thought


Sebuah artikel dari kompas.com mengatakan "sambil mengenakan masker, massa yang tergabung dalam Persatuan Masyarakat Riau Jakarta (PMRJ) juga membentangkan sebuah spanduk bertuliskan 'Riau Dibakar, Bukan Terbakar'."

Kata 'dibakar' ataupun 'terbakar' sama-sama merupakan kata yang berbentuk pasif. Kedua kata tersebut lahir dari kata dasar yang sama: bakar. Kedua kata tersebut pun sama-sama berstatus sebagai 'kata kerja'. Walaupun memiliki beberapa kesamaan, kata 'dibakar' ataupun 'terbakar' selalu diartikan secara berbeda.

Menurut KBBI, kata 'dibakar' diartikan: dipanaskan (dipanggang) di atas api. KBBI pun mengartikan kata 'dibakar' sebagai: sangat kikir; sangat kuasa. Merujuk pada pengertian pertama, kata 'dibakar' mempunyai hubungan dengan api. Sedangkan pada pengertian kedua, kata 'dibakar' sudah seperti sebuah idiom. Pada pengertian kedua, kata 'dibakar' dijauhkan hubungannya dengan api.

Sedangkan kata "terbakar", KBBI mengartikan: sudah atau sedang berkobar; habis dihanguskan api. Ada dua arti yang diberikan oleh KBBI untuk kata 'terbakar'. Pertama, kata 'terbakar' identik dengan kata 'berkobar'. Kata 'berkobar' memiliki banyak hubungan dengan kata lain, salah satunya dengan kata 'api'. Sedangkan untuk arti yang kedua, kata 'terbakar' akan muncul ketika kata 'api' menjadi objeknya.

'Dibakar' memiliki imbuhan awalan 'di-'. Ketika imbuhan tersebut disandingkan dengan kata kerja, maka kata kerja tersebut akan menjadi pasif. Kata kerja 'bakar' akan menjadi aktif jika dirubah menjadi 'membakar', namun setelah dirubah menjadi 'dibakar', kata kerja 'bakar' menjadi pasif.

Sedangkan 'terbakar' memiliki imbuhan awalan 'ter-'. Imbuhan 'ter-' memiliki lebih banyak makna dibanding dengan imbuhan 'di-'. Dalam kata 'terbakar', makna-makna berkeliaran mengitari kata itu. 'Terbakar' dapat dimaknai menjadi kata kerja yang tidak disengaja, atau kata kerja yang terjadi tiba-tiba, atau juga kata kerja yang (telah) terjadi.

Sebuah kalimat yang memiliki kata kerja pasif biasanya menunjukkan si 'subjek' menjadi 'korban' dari 'objek'-nya. Adapun kalimat yang memiliki kata kerja pasif, namun kalimat tersebut menyembunyikan/ tidak memerlukan objeknya, "kalimat pasif intransitif" sebutannya. Meskipun demikian, kalimat pasif tetap menunjukan bahwa si 'subjek' adalah 'bukan pelaku'. Dengan kata lain, si 'subjek' berstatus sebagai 'korban' dan si 'objek' menjadi pelakunya, ketika berada pada kalimat pasif.

Pada spanduk yang bertuliskan "Riau Dibakar, Bukan Terbakar", dapat diketahui bahwa kata 'Riau' adalah subjek dari kalimat tersebut. Kata 'Dibakar' menunjukkan bahwa kalimat pada spanduk itu merupakan kalimat pasif. Begitupun dengan kata 'Terbakar', kata kerja pasif yang juga membebani 'Riau'.

Spanduk tersebut berusaha menggambarkan bahwa 'Riau' adalah korban. Spanduk tersebut juga menegaskan bahwa kata kerja 'dibakar'-lah yang menjadi pilihan katanya. Spanduk tersebut lebih memilih menggunakan imbuhan awalan 'di-', ketimbang menggunakan imbuhan awalan 'ter-'.

Namun demikian, kalimat pada spanduk tersebut merupakan "kalimat pasif intransitif". Tidak ada objek yang tertulis. Si 'objek' seakan-akan sedang bersembunyi, atau mungkin sengaja disembunyikan, atau mungkin juga tidak diketahui. Spanduk tersebut seakan-akan berusaha untuk menuntut, mengajak, atau mencurahkan kekesalan kepada pembacanya untuk segera menemukan si 'objek'.

Dengan begitu, kata 'dibakar' ataupun 'terbakar' sama-sama merupakan kata kerja pasif, yang berada pada sebuah kalimat pasif intransitif. Spanduk yang bertuliskan "Riau Dibakar, Bukan Terbakar" telah menunjukkan bahwa kedua kata kerja pasif tersebut sedang membebani 'Riau', selaku si 'subjek'. Spanduk tersebut meminta kepekaan kepada pembacanya untuk segera menemukan si 'objek' yang telah membuat 'Riau' terbebani oleh kata 'dibakar' ataupun 'terbakar'.

Imbuhan 'di-' telah dipilih oleh spanduk tersebut untuk disandingkan dengan kata 'bakar'. Spanduk tersebut menolak untuk menggunakan imbuhan awalan 'ter-', karena jika imbuhan tersebut disandingkan dengan kata 'bakar', maka hanya akan bermakna: tidak disengaja, atau terjadi secara tiba-tiba, atau juga kejadian yang (telah) terjadi. Spanduk tersebut telah menggambarkan sebuah tragedi bahwa 'Riau' itu hanya 'dibakar', bukan 'terbakar'!


*

Purwakarta

Post a Comment