Written by Len
Written by Len

Plong

plong-mlendrijulian-shortstory


Akhir-akhir ini Kakek menginginkan seekor burung. Lelaki yang kulitnya sudah meliat itu akan terus-terusan merasa resah, jika tidak ada satu ekor burung pun yang tinggal di rumahnya. Alhasil, sebelum meninggal, Kakek memutuskan untuk pergi berburu seekor burung.

"Sudahlah Kek, di umur Kakek yang sekarang, lebih baik Kakek santai saja di rumah." Kata cucunya.

"Tidak bisa cu. Kakek tidak bisa santai. Biarkan Kakek pergi berburu burung. Setelah itu, Kakek akan bersantai."

"Duh, Kek. Kalau nanti Kakek diserang harimau, terus meninggal, aku kan jadi sedih Kek."

"Hahaha. Kalau Kakek meninggal ketika berburu, tidak apa-apa cu. Jangan sedih. Kakek akan meninggal dengan tanpa penyesalan."

"Kenapa tidak beli saja, Kek?"

"Membeli itu harus punya uang. Sedangkan untuk mempunyai uang, itu tidak mudah, cu. Lagipula, berburu itu lebih asik."

"Kakek ini keras kepala."

"Keras kepala? Hahaha. Dalam menggapai cita-cita, kita memang harus keras kepala, cu."

"Kalau begitu, dengan siapa Kakek pergi berburu?"

"Sendiri saja. Kakek masih kuat."

"Tidak Kek. Biarkan aku menemani Kakek berburu. Aku kan laki-laki, masih muda, dan juga kuat. Jadi Kakek tidak usah pergi sendiri."

Akhirnya Kakek merestui cucunya itu untuk menemaninya berburu.

"Jadi Kek, alat apa yang akan kita gunakan untuk berburu burung? Kakek kan tidak punya senapan?"

"Pakai ketapel pun jadi cu. Hahaha."

"Aku tidak yakin ketapel bisa membantu kita berburu seekor burung."

"Cu, alat tidaklah penting. Yang penting adalah kita yang menggunakannya. Sebuah pensil pun mampu digunakan untuk membunuh manusia. Selama yang menggunakannya adalah orang cerdas, orang baik, semua macam alat akan jadi bermanfaat. Yakinlah cu, walaupun hanya dengan ketapel, kita akan berhasil dalam perburuan kita."

"Ya sudah, Kek. Aku akan berusaha untuk yakin."

Alhasil mereka pergi berburu dengan hanya bermodalkan ketapel. Kakek memegang satu ketapel. Cucunya pun memegang satu ketapel. Tidak penuh dengan pertimbangan lagi, mereka pergi menuju ke sebuah hutan, sebuah tempat dimana binatang apapun dapat diketemukan.

Pada waktu itu, matahari sedang memanasi kulit kepala. Uap-uap panas terlihat mengudara dari kejauhan. Pemandangan seakan-akan sedang menampakkan sebuah gurun pasir. Bumi seakan-akan memohon diturunkannya hujan untuk membasahinya. Namun Kakek dan cucunya masih terus berjalan, melangkahkan kakinya menuju hutan.

Perjuangan Kakek dan cucunya melawan matahari tidaklah sia-sia. Mereka tiba di tempat tujuan dengan selamat. Kerajaan binatang pun sudah ada di depan mata. Terlihat pepohonan yang lebat, yang mampu mencegah sinar matahari menusuk-nusuk tanah. Demi mengusir lelah, Kakek dan cucunya itu memutuskan untuk mengambil istirahat sejenak.

"Apakah perjuangan selalu melelahkan, Kek?"

"Tentu saja cu. Di dalam perjuangan, akan selalu ada kelelahan. Akan selalu ada rintangan. Itu dinamakan proses cu."

"Tapi Kek, bagaimana jika perjuangan kita gagal? Bukankah kelelahan kita akan sia-sia?"

"Ingat, cu. Kegagalan bukanlah kesia-siaan, tapi pembelajaran. Yang terpenting itu prosesnya cu, bukan hasilnya. Biarkan kegagalan itu menjadi sejarah. Tidak akan ada yang sia-sia dalam perjuangan, cu."

"Lantas, bagaimana jika kita tidak memiliki perjuangan yang harus dituju?"

"Bukankah hidupmu akan membosankan, cu?"

"Tak apa hidupku bosan, Kek. Yang penting, aku terbebas dari perjuangan. Aku tidak akan merasakan lelah, Kek."

"Hahaha. Jadi kau tidak memiliki keinginan untuk berjuang? Begini, cu. Walaupun kau tidak memiliki keinginan apa pun, tidak memiliki perjuangan apa pun, kau akan selalu dituntut untuk berjuang. Kau akan berjuang melawan keinginanmu. Pada akhirnya, walaupun kau tidak sedang berjuang, sesungguhnya kau sedang berjuang, cu. Hidup adalah perjuangan, cu."

"Jadi, kita harus berjuang?"

"Bukan hanya harus, cu. Manusia memang ditakdirkan untuk berjuang. Ayo cu. Kita lanjutkan perjuangan kita. Hari sudah hampir sore."

Mereka pun mulai memasuki hutan rimba itu. Terlihat pepohonan yang besar dan lebat. Suara dedaunan yang terinjak kian terdengar, ketika mereka melangkahkan kaki. Gelap, namun mata mereka masih sanggup untuk melihat-lihat. Si cucu menggunakan matanya untuk melirik ke kiri-ke kanan. Sedangkan Kakek, terus menggunakan matanya untuk melihat langit-langit.

"Bagaimana Kek, sudah ketemu?"

"Belum. Mungkin burung-burung itu masih asik terbang keliling langit."

"Apakah tidak ada burung yang sedang hinggap di pohon, Kek?"

"Itu, yang sedang Kakek cari, cu."

"Mungkin kita harus bersiul-siul, Kek. Siapa tahu burung-burung itu datang menghampiri?"

Dengan tidak banyak berpikir, mereka pun bersiul-siul di hutan rimba yang sepi.

"Kenapa tidak datang juga, yah?"

"Mungkin siulan kita kurang kenceng, cu."

Mereka mengencangkan suara siulan mereka.

"Ah. Aku nyerah saja, Kek."

"Sabar cu. Ingat, ini proses, cu. Proses."

Si cucu mengurungkan niatnya untuk menyerah. Matanya kembali mencari-cari lagi burung. Dia tatap langit-langit hutan rimba itu. Ditelusurinya setiap pohon. Siulan pun terus ia bunyikan.

"Aha! Itu dia, cu. Kakek menemukannya. Teruslah bersiul."

Kakek menyiapkan ketapelnya. Diambilnya sebuah batu dari tanah. Dia bidik burung yang sedang hinggap di sebuah pohon yang lebat. Kakek menghirup nafas dalam-dalam. Lalu dikeluarkannya nafas itu secara perlahan.

"Ayo, Kek. Cepat. Tembaklah sebelum burung itu terbang lagi. Cepat, Kek. Cepat."

"Sabar, cu. Tenang."

"Ayo, Kek. Tembak!"

"Huh. Siap, satu, dua, tiga!"

Kakek menembakan batu kepada burung yang telah dibidiknya itu.

"Tidak mungkin! Kakek berhasil mengenai kepalanya! Hebat, Kek!"

"Ayo, kita ambil burung itu."

"Apakah burung itu mati, Kek?"

"Semoga saja tidak. Untung sayapnya tidak tertembak. Semoga saja dia hanya pingsan, cu."

Kakek dan cucunya itu dengan gesitnya menjumpai burung yang telah dibuat terjatuh itu. Mereka melangkahkan kakinya dengan cepat.

"Itu dia, Kek."

"Nah. Dia masih hidup, cu. Mungkin kepalanya pusing terkena batu tadi. Kakek jadi merasa bersalah, cu."

"Sudah, Kek. Tidak usah merasa bersalah. Toh, perjuangan Kakek akhirnya tercapai. Kelelahan kita tidak sia-sia, Kek."

"Iya, cu. Ayo kita bawa pulang."

"Siap, Kek. Kira-kira, berapa lama dia akan terbangun, Kek?"

"Tidak lama, cu. Mungkin hanya tiga hari. Tugas kita sekarang adalah: mengobati burung ini, membuatkannya sangkar, dan juga memberinya makan ketika dia sudah terbangun nanti."

Mereka pun bergegas meninggalkan hutan rimba itu. Pada waktu itu hari sudah berada pada senja. Si cucu berjalan sembari membawa burung itu dengan dibungkus oleh sebuah kain tipis di tangannya. Sedangkan Kakek, berjalan dengan penuh kepercayaan diri dengan tangan menggenggam dua buah ketapel.

Akhirnya, setelah menelusuri hutan rimba, Kakek dan cucunya itu tiba di rumah dengan selamat. Segera mereka mengistirahatkan diri. Kakek tidak lagi memperlihatkan keresahannya. Hatinya kini tenang, karena telah membawa seekor burung ke rumah. Kakek kini merasakan plong.

Tiga hari kemudian. Ternyata benar, burung hasil perburuan itu telah pulih dari pingsannya. Burung itu kini sudah berada dalam sangkar buatan Kakek. Sesuai dengan tugasnya, Kakek memberikan burung itu makan. Terlihat Kakek sangat menyayangi burung itu. Burung itu terlihat sehat, segar, dan seringkali burung itu bersiul-siul.

"Wah, Kakek sekarang terlihat bahagia yah?"

"Hahaha. Iya, cu. Beginilah rasanya ketika perjuangan kita telah tercapai. Hati kita serasa tenang, gembira, dan merdeka. Kau ingat kan, cu? Perjuangan itu tidak ada yang sia-sia."

"Iya, Kek. Aku ingat. Tapi, Kek. Bagaimana jika perjuangan kita kemarin tidak membuahkan hasil? Apa yang akan Kakek lakukan?"

"Sudah jelas kan, cu? Kakek akan kembali berjuang."

"Lantas, apa yang kini Kakek perjuangkan?"

"Hmm. Kini, perjuangan Kakek adalah menikmati hasil perjuangan. Kakek akan berjuang untuk terus hidup, agar bisa merawat burung ini."

"Bagaimana kalau nanti Kakek meninggal? Siapa yang akan berjuang untuk merawat burung ini?"

"Hmm. Itu Kakek belum tahu, cu. Apakah kau tidak mau meneruskan perjuangan Kakek?"

"Entahlah, Kek. Bukannya aku tidak mau, tapi, itu bukan perjuanganku, Kek."

"Jadi, kau tidak mau, cu?"

"Maafkan aku, Kek."

Keesokan harinya. Kakek terlihat lagi menunjukan sebuah keresahan. Kebahagiaan seakan-akan telah menghilang dalam dirinya. Raut wajahnya tidak secerah kemarin-kemarin. Kakek kembali terlihat seperti sebelum-sebelumnya, seperti seseorang yang sedang dirundung pilu.

"Kek, kenapa Kakek terlihat tidak bahagia?"

Kakek hanya terdiam.

"Bukankah Kakek sedang menikmati hasil perjuangan? Bukankah seharusnya Kakek kini merasa tenang, gembira, dan juga merdeka? Kenapa Kakek kini terlihat seperti terjajah? Maafkan aku, Kek. Maafkan aku yang sudah tidak mau meneruskan perjuangan Kakek."

"Sudah, cu. Tak perlu kau meminta maaf. Setiap orang mempunyai perjuangannya masing-masing. Kini, kau benar, cu. Kakek merasa terjajah. Kakek terjajah oleh perjuangan Kakek sendiri. Kini, hati Kakek berkata untuk melepaskan burung ini. Namun, di sisi lain, Kakek enggan untuk melepaskannya. Kini, Kakek benar-benar sedang terjajah, cu."

"Kenapa Kakek ingin melepaskan burung itu?"

"Entahlah, cu. Kakek merasa, burung ini pun sedang berjuang. Dia berjuang untuk keluar dari sangkar. Dia berjuang untuk kembali ke habitatnya yang semula. Tapi, Kakek pun sedang berjuang. Kakek sedang berjuang untuk merawatnya."

"Sabar, Kek. Aku yakin Kakek adalah lelaki yang kuat. Bukankah melepaskan burung itu juga merupakan sebuah perjuangan, Kek? Bukankah Kakek pernah bilang bahwa hidup ini adalah perjuangan? Ayo, Kek. Kakek adalah pejuang yang kuat!"

"Kau telah dewasa, cu. Kau telah berjuang untuk memberiku sebuah perjuangan lagi. Iya, cu. Kakek akan berjuang untuk melepaskan burung ini."

Pada waktu itu, dengan penuh perjuangan, Kakek berusaha melepaskan burung itu dari sangkarnya. Berat. Melelahkan. Namun, setelah burung itu terbang melangit entah kemana, Kakek merasakan kembali hati yang tenang, hati yang gembira, dan hati yang merdeka. Setelah burung itu lepas, Kakek merasakan kembali hati yang plong.


*

Purwakarta

Post a Comment