Written by Len
Written by Len

Joker (2019): Ironi That's Life

2019 meninggalkan beberapa kenangan fiksi maupun non-fiksi yang membekas. Apalagi jika mendengar kata Joker yang sempat menghebohkan dunia perfilman. Sebuah film anti-hero tersebut telah menjadi ikon pada tahun 2019.


Joker - mlendrijulian - writtenbylen- review

Film adalah sebuah karya yang tak bisa lepas dari kritik para penikmatnya. Remy Sylado, pada tanggal 29 November 2019, melontarkan kritikannya kepada pengkritik film di laman suaramerdeka.news. Selain mengkritik pengkritik film, Remy pun dengan gagahnya mengkritik film Bumi Manusia yang juga liris pada tahun 2019.

Salah satu unsur yang dikritik Remy pada film Bumi Manusia adalah lagu. Remy menegaskan bahwa lagu Kulihat Ibu Pertiwi, yang menjadi lagu pengiring film Bumi Manusia, adalah plagiat. Lagu Kulihat Ibu Pertiwi yang disusun oleh komposer pada tahun 1960-an adalah lagu plagiat dari lagu yang berjudul What A Friend We Have in Jesus yang liris pada tahun 1870-an. Remy menggerutu, bagaimana mungkin film yang sangat nasionalis itu mempunyai lagu pengiring hasil plagiat dari sebuah himne di Amerika?

Telah terbukti bahwa unsur-unsur dalam perfilman, seperti halnya lagu,

sangat penting diperbincangkan. Film Joker yang menghebohkan tahun 2019 pun memiliki lagu pengiring sebagai pelengkap dalam pembuatannya. Salah satu lagu pengiring dalam film tersebut adalah lagu yang berjudul That's Life yang terkenal dinyanyikan oleh Frank Sinatra.

That's Life ditulis oleh Dean Kay dan Kelly Gordon. Awalnya, lagu tersebut dinyanyikan oleh Marion Montgomery pada tahun 1963. Kemudian, lagu tersebut menjadi populer ketika dinyanyikan oleh Frank Sinatra pada tahun 1966. Akhirnya, lagu tersebut dipopulerkan kembali oleh film Joker pada tahun 2019.

Kedua penulis maupun kedua penyanyi lagu That's Life tersebut adalah orang-orang yang besar di Amerika. Amerika pula yang telah menontonkan Joker kepada khalayak ramai. Terlepas dari nasionalisme atau tidak, perbuatan plagiat tidak ditemukan dalam lagu That's Life.

Lagu That's Life menggambarkan bagaimana kehidupan ini bekerja. Sasaran lagu ini adalah psikis para pendengarnya. Sebab, lagu ini terkesan mengajak para pendengarnya untuk merelakan segala yang terjadi di muka bumi.

Lagu ini pun berusaha untuk memotivasi pendengarnya untuk bangun kembali ketika jatuh.

Di dalam film Joker (2019), lagu Thats Life terdengar ketika karakter Joker telah berhasil menumpahkan segala amarah kepada ketidakadilan yang menimpanya. Kala itu lagu That's Life menjadi sebuah penanda yang menandakan bahwa karakter Arthur Fleck, yang diperani oleh Joaquin Phoenix, telah mengubah dirinya menjadi Joker.

Joker adalah karakter anti-hero yang selalu dibedaki mukanya seperti badut. Badut yang selalu diidentikan dengan kelucuan yang menghibur, menjadi sebuah kengerian ketika dikontekskan kepada Joker. Joker si badut adalah penjahat, lebih tepatnya menikmati kejahatan.

Joker si badut yang jahat sudah menuai ironi. Begitupun dengan lagu That's Life yang dimainkan ketika Arthur Fleck menjadi Joker. Lagu That's Life yang mengajak untuk merelakan segala yang terjadi dan bangkit ketika jatuh, menjadi sebuah ironi dalam film Joker (2019). Seharusnya, Arthur Fleck merelakan segala sesuatu yang menimpa kehidupannya, dan bangkit menjadi komedian terkenal sesuai dengan cita-citanya. Setelah itu, barulah lagu That's Life dimainkan.

Argumen yang dikeluarkan oleh film Joker (2019) atas keironian yang menimpa Arthur Fleck adalah ketidakadilan. Mendapati ketidakadilan adalah hal yang menjengkelkan, dan seperti kata kaum Sofis, "Melakukan ketidakadilan lebih menyenangkan ketimbang mendapati ketidakadilan".

Ketidakadilan kerap menimpa Arthur Fleck. Mulai dari penyakit tertawanya hingga mengetahui bahwa penyakitnya itu berasal dari sang ibu. Ketidakbahagiaan pun menyelimuti batin Arthur Fleck.

Film Joker (2019) beserta lagu Thats Life-nya telah mempertontonkan bagaimana sebuah ironi dalam kehidupan. Kemarin seseorang berperilaku sebagai warga negara yang baik, esoknya dia menjadi ancaman negara. Kemarin kebahagiaan menyelimuti batin, esok ketidakbahagiaan menguasai diri. Jika sudah seperti itu, dengan lapang dada, manusia hanya bisa bergumam " Itulah hidup."

Kritik terhadap sebuah karya adalah ibadah yang harus dilestarikan. Kritik merupakan pembelajaran. Menghargai sebuah karya bukan hanya dengan memblokir situs-situs penyebar karya bajakan. Kritik pun berfungsi sebagai sebuah nilai etis dalam menghargai sebuah karya.

-

Purwakarta


Post a Comment