Written by Len
Written by Len

Purwakarta

Purwakarta-mlendrijulian - comedy - writtenbylen


Purwakarta tidak pernah lepas dari kehidupan saya. Saya lahir di Purwakarta, TK di Purwakarta, SD di Purwakarta, hingga SMP di Purwakarta. Ketika SMA, saya merantau ke Subang, tetapi ketika kelas dua, saya kembali ke Purwakarta. Saya pun akhirnya memilih kuliah ke Bandung, tetapi setelah lulus, lagi-lagi saya kembali ke Purwakarta.

Purwakarta sudah menempel di kehidupan saya semenjak saya belum lahir. Bapak saya adalah orang Purwakarta. Mamah saya pun orang Purwakarta. Mereka bahkan bukan berbeda RT, melainkan hanya berbeda rumah. Mereka pun menikah. Walhasil, saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya mudik.

Tetapi hikmahnya saya dan keluarga tidak akan merasakan macet. Kami tidak perlu repot membawakan oleh-oleh. Kami juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk ongkos mudik. Jadi, uang kami tidak akan terbuang begitu saja.

Coba bayangkan, ketika hari lebaran. Adik saya berteriak "Ayo kita ke rumah keluarga dari mamah!". Kami menjawab "Ayo!". Kemudian adik saya berteriak lagi "Ayo kita ke rumah keluarga dari bapak!" Kami pun kembali menjawab "Ayo!". Akhirnya adik saya berteriak "Ayo kita lebaran lagi." Kami pun kembali mengunjungi rumah keluarga dari mamah, lalu kembali ke rumah keluarga bapak, lalu seperti itu seterusnya hingga adik saya bosan dengan lebaran.

Selain itu, sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan di Purwakarta. Di Jakarta, selalu ada brosur "Datanglah ke Job Fair di kampus ini, datanglah ke Job Fair di kampus itu." Di Bandung, juga selalu ada brosur "Datanglah ke Job Fair di kampus ini, datanglah ke Job Fair di kampus itu." Sedangkan di Purwakarta, brosurnya berbunyi "Datanglah ke Terminal Sadang, naiklah bus jurusan Bandung atau Jakarta, kemudian, ikutilah Job Fair di sana!"

Dahulu, kata orang, Purwakarta adalah kota santri. Sekarang, Purwakarta sering disebut-sebut sebagai kota patung. Semuanya gara-gara Bupati! Dia yang berinisiatif membuat berbagai patung di setiap sudut Purwakarta. Dari mulai patung Sukarno, patung Muhammad Hatta, hingga patung Bima Sakti yang sedang menggenggam seekor ular.

Dengan begitu, saya jadi iba kepada pemuda-pemudi Purwakarta yang sedang kasmaran. Coba bayangkan pemuda-pemudi di Bandung yang berpacaran. Si lelaki mengajak kekasihnya "Sayang, kita ke Bukit Moko, yuk, pemandangannya indah." Coba bayangkan pemuda-pemudi di Pangandaran yang berpacaran. Si lelaki mengajak kekasihnya "Sayang, ayo kita ke pantai. Pasti romantis." Lalu coba bayangkan, pemuda-pemudi Purwakarta yang berpacaran. Si lelaki mengajak kekasihnya "Sayang, ayo kita lihat patung. Pasti indah."

Tetapi kemudian si perempuan menjawab "Ah, tidak sayang. Itu tidak indah." Si lelaki pun kesal "Ya sudah! Ayo kita ke Terminal Sadang!". "Hah? Ngapain?" si perempuan bingung. "Kita ke Bukit Moko di Bandung, kemudian ke pantai di Pangandaran. Gimana? Indah, kan?" Tak lama setelah itu, mereka pun putus hubungan. Semuanya gara-gara Bupati!

Ketika Bupati ditanya alasan membuat patung-patung itu, dia menjawab "Untuk memajukan kesenian." Padahal, jika ingin memajukan kesenian, lebih baik uang patung itu digunakan untuk pendidikan anak-anak, supaya mereka bisa lebih mengenal apa itu seni. Sehingga, mereka bisa berseni di kemudian hari. Membuat patung, misalnya.

Melihat fenomena itu, saya berambisi untuk menjadi Bupati Purwakarta. Misi saya: membongkar patung-patung itu, kemudian memproduksi lebih banyak peci, sajadah, dan juga sarung, tetapi dalam bentuk patung. Jika ditanya "Kenapa anda membuat patung-patung itu?", jawabannya "Agar Purwakarta kembali menjadi kota santri, sekaligus, menjadi kota kesenian."

Dari ini semua saya mulai mengerti, kenapa saya selalu kembali ke Purwakarta. Pertama, agar saya tidak merasakan sesaknya mudik. Kedua, agar saya menjadi penganggur. Ketiga, dengan saya menganggur, saya akan belajar tentang kesenian, kemudian jadi Bupati, dan pada akhirnya, menciptakan patung sajadah.

-

Purwakarta


Post a Comment

#Most Read Stories
Nih buat jajan