Apakah jiwa itu ada? Jawaban untuk pertanyaan ini akan sangat variatif. Jika saya menanyakan pertanyaan ini kepada seorang ilmuwan biologi, dia akan menjawab "Ah, aku belum pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!". Namun, jawaban yang berbeda akan saya dapatkan, jika saya bertanya kepada psikolog atau agamawan.
Teori yang saya ingat dari Sigmund Freud, yang selalu disebut bapak psikologi, bahwa manusia mempunyai tiga lapisan dalam jiwanya: id, ego, dan super-ego. Segala hasrat, perasaan, pikiran, akan berkumpul dalam id seseorang. Tetapi semua itu tidak dapat diluapkan begitu saja, karena manusia mempunyai ego, yang mengalkulasi segala kondisi ataupun situasi dalam realitasnya. Di sisi lain, ada super-ego yang berfungsi menyerap segala moral dan nilai yang berlaku dalam lingkungan seseorang, baik dari orang tua maupun dari masyarakat.
Analoginya kurang lebih seperti ini: seseorang sedang mengendarai sebuah mobil di jalan raya. Tiba-tiba orang itu mendapati lampu lalu lintas berwarna merah. Jika orang itu menghentikan mobilnya, maka dia mengikuti super-ego-nya. Jika orang itu terus mengemudikan mobilnya, dia terhanyut dalam id-nya. Ya, si pengemudi adalah ego. Lampu lalu lintas adalah super-ego. Lalu mobil adalah id. Si mobil adalah hasrat, perasaan, dan pikiran yang dapat meluap kapan dan dimana saja.
Bukankah hal tersebut seperti kisah-kisah yang selalu diceritakan? Seperti ada setan dan malaikat dalam setiap individu? Si setan akan senantiasa mendorong manusia mengikuti hawa nafsunya. Sedangkan si malaikat akan senantiasa membawa manusia kepada jalan yang benar. Dan semuanya ada di tangan si manusia itu sendiri.
Saya tidak ingin mengatakan Freud sedang mengarang sebuah cerita. Teori tentang id, ego, dan super-ego-nya itu terus dipelajari oleh akademisi. Bahkan, universitas-universitas telah membangun fakultas khusus untuk psikologi. Semuanya berkat Freud dan kawan-kawan psikolog lainnya. Namun, walaupun dipelajari dan dibuatkan fakultas, id, ego, dan super-ego sangat abstrak untuk dilihat oleh mata kepala.
Psikologi adalah ilmu tentang kejiwaan. Sudah pasti, jika saya memercayai ada jiwa dalam diri saya, dan mendapati semacam penyakit jiwa, maka salah satu pilihan saya adalah mendatangi psikolog. Saya akan mulai dengan bertanya "Ada apa dengan jiwa saya?". Hingga akhirnya, pertanyaan terakhir pun muncul: Apa yang harus saya lakukan? Si psikolog pun akan menjawabnya secara profesional.
Begitupun dalam masyarakat agama. Orang lebih memercayai seorang ahli hikmah (agamawan yang memahami masalah kejiwaan), ketimbang pergi kepada para psikolog. Namun, mereka memiliki ritual yang sama. Pertanyaan pasiennya selalu: ada apa dengan jiwa saya?, apa yang harus saya lakukan? Kurang lebih seperti itu.
Jika psikolog maupun ahli hikmah itu menemukan pasien yang jiwanya sudah rusak parah alias gila, ritual mereka pun tetap sama. Para psikolog akan menggiring pasien gila tersebut ke dalam rumah sakit jiwa. Adapun para ahli hikmah yang menggiring pasien semacam itu ke dalam sebuah tempat khusus. Baik rumah sakit jiwa maupun tempat khusus ahli hikmah, para pasien gila itu dikurung di dalamnya dan dijauhi dari masyarakat yang masih sehat jiwanya.
Kasus-kasus seperti itu setidaknya memberikan sebuah jawaban bahwa jiwa itu memang benar adanya. Namun, bukankah itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru? Seperti misalnya: Jika jiwa itu memang ada, bagaimana bisa satu jiwa disebut sakit, sedangkan jiwa lainnya disebut sehat-sehat saja? Siapa yang memutuskannya?
Para ilmuwan biologi, seperti Charles Darwin, mengenyahkan kepercayaannya terhadap jiwa. Para ilmuwan biologi yang memercayai jiwa adalah bukan karena mereka telah menemukan segumpal jiwa di tubuh manusia, melainkan karena kepercayaan mereka terhadap agama yang mengharuskan mereka percaya dengan adanya jiwa, atau mungkin juga karena kesukaan mereka terhadap psikologi. Itu karena, bukan tugas ilmuwan biologi untuk meneliti jiwa, apalagi memercayainya.
Jika saya mengalami yang disebut penyakit jiwa dan bertanya kepada seorang ilmuwan biologi, jawaban yang saya dapati bukanlah wejangan-wejangan yang harus dikontemplasikan, melainkan seperti ini: minumlah pil ini, niscaya neuron anda akan membawa anda kepada kebahagiaan!
Lantas, jika pil si ilmuwan biologi itu memang ada, kenapa pasien-pasien penyakit jiwa dikurung di rumah sakit jiwa atau tempat khusus ahli hikmah, bukan pergi mengunjungi si ahli biologi dan meminta pil kebahagiaannya? Spekulasi saya adalah bahwa pil kebahagiaan itu belum ada! Atau, pil itu sudah ada, tetapi harganya serupa dengan harga sebuah pulau.
Kalaupun pil itu ada, si ilmuwan biologi akan berkata "Fungsi pil ini bukanlah sebagai pengobat jiwa, melainkan sebagai stimulus neuron anda agar anda menuju kebahagiaan." Bagi para ilmuwan biologi, bukan jiwa yang harus diobati, melainkan struktur-struktur organ makhluk hidup yang terlihat oleh mata kepala mereka sendiri. Lagipula, kalaupun pil itu ada, dan segala macam masyarakat dapat mendapatkannya, bagaimana nasib para psikolog dan para ahli hikmah? Sesungguhnya itu bukan pertanyaan yang serius.
Ketika mendengar berita "Seseorang telah melakukan pembunuhan.", seorang ilmuwan biologi akan bergumam "Itu adalah hal yang wajar. Itu disebabkan tegangan sel-sel saraf si pembunuh yang memaksanya melakukan pembunuhan. Seperti halnya seekor singa yang membunuh seekor babi hutan." Jika tidak ada faktor yang berhubungan dengan kasus itu, si ilmuwan biologi tidak perlu pergi ke pengadilan dan berkata "Itu perbuatan yang tercela!" kepada sang hakim. Yang berani memutuskan perbuatan si pembunuh adalah tercela antara lain: para aktivis HAM, pengadilan, agamawan, dan mungkin juga psikolog.
Riset-riset biologi berkembang pesat seperti halnya teknologi. Dari menciptakan vaksinasi, hingga menciptakan organ tubuh buatan. Dari meneliti spesies seperti manusia, hingga meneliti spesies-spesies makhluk hidup seperti bakteri. Maka dari itu, ketika sebuah kasus pembunuhan terjadi, seorang ilmuwan biologi tidak mungkin dengan mudahnya mengatakan bahwa si pelaku melakukan perbuatan tercela.
Tubuh manusia terdiri dari sel-sel organ yang bermacam-macam fungsinya. Jika sebuah sel rusak, maka akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Di sanalah ilmuwan biologi hadir untuk menelitinya, sekaligus memperbaikinya. Memang hal tersebut tidak akan semudah yang dibayangkan. Namun, biologi itu seperti teknologi, berkembang pesat dari zaman ke zaman.
Mungkin, dua ratus tahun mendatang, atau bahkan lebih cepat, seseorang yang sedang ingin membunuh mengunjungi seorang ilmuwan biologi, meminta menggantikan hasrat membunuhnya menjadi hasrat yang penuh dengan cinta. Pada akhirnya, kasus pembunuhan pun tidak terjadi. Ya, itu terdengar seperti fiksi sains. Namun, manusia Zaman Batu pun tidak pernah percaya dengan sebuah alat bernama handphone.
Dengan begitu, manusia akan hidup dengan tubuhnya sendiri, tanpa memerlukan psikolog atau agamawan untuk mengurusi jiwanya. Tiada lagi yang dikurung di rumah sakit jiwa atau tempat khusus ahli hikmah. Bahkan, tiada lagi yang dapat mengenali apa itu jiwa.
Para agamawan percaya bahwa jiwa manusia akan selalu hidup dan abadi. Ketika seorang manusia meninggal dunia, jiwanya akan tetap hidup di alam yang lain. Di sisi lain, para ilmuwan biologi akan mengatakan bahwa tubuh manusia yang telah meninggal akan kembali menjadi tanah, bukan diangkat ke langit layaknya Nabi Isa. Masalah alam lain, silakan bertanya kepada agamawan.
Sudah banyak kata-kata bijak dan bahkan lagu-lagu yang berbunyi "Jiwa yang sehat, jiwa yang sakit" atau "Jiwa yang baik, jiwa yang jahat". Bagi jiwa-jiwa yang baik dan sehat, akan menuju surga yang telah dijanjikan. Sedangkan jiwa-jiwa yang jahat dan sakit akan digiring menuju neraka yang telah dijanjikan. Pandangan dualisme seperti itu sangat dianut oleh agama dan pengikutnya. Jikapun ada seorang ilmuwan biologi yang ingin memercayainya, silakan saja.
Perlu keyakinan yang kuat akan entitas jiwa dalam diri manusia. Tidak ada salahnya juga dengan apa yang dilakukan oleh para ilmuwan biologi. Jiwa adalah hal yang abstrak, yang mata kepala tidak dapat melihatnya. Pada akhirnya, ketika seorang manusia meninggal, mendiang tidak akan lagi bertanya "Apakah jiwa itu ada?"
*
Purwakarta




Post a Comment