Written by Len
Written by Len

Meong

mlendrijulian-meong-shortstory


Kegelapan selalu dibutuhkan. Ketika malam tiba, manusia menyalakan sinar buatan yang diberi nama lampu. Berbagai jenis rumah bersinar di kala malam. Namun, ketika malam semakin larut, hanya lampu bagian luar rumah yang tetap menyala. Mereka menggelapkan bagian dalam rumahnya. Kegelapan memang selalu dibutuhkan.

Meong, seekor kucing dengan bulunya berwana abu-abu dan hitam, terjaga dari tidurnya ketika matahari hendak terbit. Setelah melewati malam yang dingin dengan tidur di luar rumah, Meong menanti-nanti matahari terbit. Dengan berjemur di bawah naungan matahari, mungkin kehangatan akan mengusir sisa-sisa dingin di tubuhnya. Waktu berjalan sangat cepat dan akhirnya sang mentari menampakkan sinarnya.

Meong pun berjalan menuju sinar matahari yang telah menusuk bumi itu. Meong merebahkan tubuhnya, dan siap bermandikan sinar matahari di tengah pelataran pada sebuah rumah. Tidak terasa waktu terus berjalan, satu menit, dua menit, tiga menit, Meong masih bermandikan sinar matahari.

Untungnya, di negara tempat Meong hidup, tidak tersedia musim dingin. Jika negaranya adalah negara yang memiliki musim dingin, Meong pasti membutuhkan sebuah rumah. Lebih lembutnya, Meong membutuhkan manusia untuk merawatnya.

Hidup di negara tropis tidak membuat Meong membutuhkan manusia untuk merawatnya. Dia bebas untuk tidur dimana saja. Jika musim kemarau, Meong hanya butuh atap untuk melindunginya dari sinar matahari. Jika musim hujan, Meong hanya butuh atap untuk melindunginya dari rintik-rintik hujan. Hidup di negara tropis, bagi Meong, yang diperlukan hanyalah atap.

Meong hidup sendiri. Bapak dan ibunya entah kemana. Yang dia tahu, tubuhnya kian membesar, darahnya bukan darah kucing-kucing kelas atas seperti Angora, dan yang pasti dia tahu, tidak ada manusia yang benar-benar merawatnya. Meong hanyalah kucing, yang sedang bertahan hidup di tengah negara tropis sampai Tuhan memanggilnya untuk kembali ke pangkuan-Nya.

Entah apa yang dipikirkan Meong tentang Tuhan. Mungkin baginya Tuhan itu tidak ada. Mungkin baginya Tuhan itu sedang melucu ketika menciptakannya. Mungkin juga, Meong menganggap dirinya adalah utusan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran kepada sesamanya.

Sang Penghuni Rumah, yang pelatarannya ditempati Meong berjemur, membuka pintu rumah. Lelaki yang sudah berumur senja itu terlihat oleh Meong. Terlihat olehnya Sang Penghuni Rumah berjalan lambat menuju gerbang, kemudian membuka gerbang itu, dan akhirnya Meong tersadar bahwa Sang Penghuni Rumah sedang menatapnya.

"Bukankah enak, berjemur di pagi yang cerah seperti ini?" Gumam Sang Penghuni Rumah seraya menatap Meong. Meong hanya membalas tatapannya. Pada pagi itu, di pelataran rumah, terlihat Sang Penghuni Rumah dan Meong sedang menikmati tubuhnya bermandikan sinar matahari.

Tak lama kemudian, Sang Penghuni Rumah melepaskan dirinya dari sinar matahari. Meong memerhatikan gerak-geriknya. Sang Penghuni Rumah meninggalkan Meong, dan kembali memasuki rumahnya. Pintu rumah pun kembali tertutup.

Tak lama kemudian juga, Meong menjauhi sinar matahari. Waktu berjemur pun usai. Kehangatan mungkin sudah cukup menyelimuti tubuhnya. Kedinginan mungkin sudah lenyap dari tubuhnya, tetapi masih ada yang belum terpenuhi, Meong masih mempunyai nafsu untuk makan.

Meong pun kembali berjalan. Kini langkahnya menuju pintu rumah. Dia pandangi pintu rumah itu dalam diam. Akhirnya, Meong pun mengeong!

Dia mengeong tepat di depan pintu rumah. Tapi tak kunjung juga pintu itu terbuka. Meong tetap mengeong. Dia tetap mengeong, berharap mendapati sesuatu untuk mengisi perutnya.

Meong mungkin kebingungan, kenapa Tuhan menciptakan nafsu makan kepadanya. Tapi di sisi lain, mungkin Meong bersyukur dirinya diciptakan sebagai seekor kucing. Seekor kucing tidak perlu repot membeli pakaian untuk menutupi tubuhnya. Seekor kucing tidak perlu sibuk memamerkan harta, tahta, dan wanita kepada sesamanya.

Tapi justru mungkin Meong makin kebingungan, kenapa juga Tuhan menciptakan nafsu seks kepadanya. Kebutuhannya pun bertambah: makanan, kemudian seks. Tapi mungkin Meong tidak ingin berhubungan seks. Mungkin yang dibutuhkannya kini ialah memenuhi nafsu makannya. Urusan seks, Meong hanya perlu mencari kucing betina yang sedang melewat, dan dengan harapan mau berhubungan seks dengannya.

Meong masih mengeong di depan pintu, berharap Sang Penghuni Rumah membuka pintu dan melemparkan sesuatu kepadanya untuk dimakan. Harapannya masih belum sirna. Meong masih mengeong di depan pintu. Akhirnya, Sang Penghuni Rumah membuka pintu!

"Kau ini, pagi-pagi sudah meminta makan." Sang Penghuni Rumah menggerutu. Sang Penghuni Rumah terlihat lebih muda, bahkan tidak bisa dikatakan tua. Setelah pemuda itu membuka pintu, dilemparnya sesuatu hingga membuat Meong menjauhi pintu. Ketika Meong menghampiri sesuatu itu, Si Pemuda bergegas menutup pintu, dan menempatkan dirinya di luar rumah.

Meong sedang mengendus sesuatu itu. Sesuatu itu sangat kecil, tapi kemudian Meong memakan sesuatu itu. Si Pemuda yang sedang berada di luar rumah, bergegas melangkahkan kakinya menuju loteng. Ketika memuncaki anak tangga, Si Pemuda mendapati Meong mengikutinya. Meong mengikuti Si Pemuda menuju loteng sembari mengeong.

"Sial, kenapa kau mengikuti? Aku tidak membawa makanan apapun. Apa yang kau mau dariku? Daripada kau mengeong di sini, lebih baik kau mengeong di restoran. Di sana banyak makanan yang dibuang secara percuma." Gumam Si Pemuda ketika berada di anak tangga yang ke sepuluh dari empat belas anak tangga menuju loteng.

Sampailah Si Pemuda di anak tangga terakhir. Terlihat sebuah kamar dengan pintu tertutup di loteng itu. Selain sebuah kamar, akan terlihat juga pelataran yang cukup luas di loteng tersebut, yang tak kalah luasnya dari pelataran di bagian bawah. Si Pemuda bergegas membuka pintu kamar itu. Sedangkan Meong tetap saja mengeong.

Pintu kamar dibuka, SI Pemuda bergegas memasuki kamar, tapi Meong berhasil mengikutinya hingga masuk ke dalam kamar. "Sial, kau berhasil!" Gumam Si Pemuda kesal karena Meong memasuki kamar. "Sudah kubilang aku tidak membawa apa-apa. Kini biarkan aku sendiri. Sini, kuangkat kau keluar. Aku tidak bermaksud mengusir, tapi kau memang harus keluar!" Si Pemuda mengangkat Meong untuk diletakkan di luar kamar. Setelah Meong di luar kamar, pintu kamar pun tertutup dengan rapat.

Meong kini berada di luar kamar loteng tersebut dan tetap saja mengeong di depan pintu. Sayangnya, pintu kamar tidak juga terbuka. Tapi Meong tetap mengeong.

Hari sudah semakin siang. Meong berhenti mengeong di depan pintu dan memutuskan berjalan menuju pelataran loteng. Di pelataran itu, akan terlihat berbagai jenis rumah berjajar. Terkadang, sesuatu yang dilihat dari atas membuat sesuatu itu terlihat indah. Meong mengendus di sekitar pelataran itu, mungkin sedang berharap menemukan sesuatu untuk dimakannya.

Tapi Meong tak kunjung menemukan makanan. Dia kembali menuju pintu kamar. Mengeong kembali. Pintu kamar masih tertutup. Meong berhenti mengeong, lalu merebahkan tubuhnya di depan pintu kamar itu. Mungkin harapannya sirna. Pagi itu, Meong hanya memakan sesuatu yang kecil dari Si Pemuda.

*

Waktu berjalan sangat cepat, membuat langit kembali menggelap. Malam kembali tiba. Lampu-lampu dari berbagai jenis rumah kembali dinyalakan. Alam kembali menyuguhkan udara dingin, ditambah dengan hadirnya hujan yang ikut serta meramaikan malam itu.

Meong pun melindungi tubuhnya dari rintik-rintik hujan dengan atap. Kaki dan tangannya tidak akan dia langkahkan menuju pelataran yang tidak beratap. Meong sudah tahu, berdiam di depan pintu rumah tidak akan membuatnya terkena rintik-rintik hujan. Maka dia berjalan menuju pintu depan rumah. Dalam kesempatan itu, Meong kembali mengeong, dan pintu rumah pun akhirnya terbuka!

Meong mengeraskan suaranya ketika melihat Sang Penghuni Rumah (Lelaki Tua), keluar dari pintu tersebut dengan membawa sebuah piring. Lelaki Tua melangkah menjauhi pintu. Dia mengenyahkan sesuatu dari piring itu ke lantai. Meong sadar bahwa sesuatu itu ditujukan untuknya, segeralah dia menghampiri sesuatu itu. Meong mengendus sesuatu itu, kemudian dilahapnya dengan cara seksama. Setelah melihat Meong memakan sesuatu yang dibawanya, Lelaki Tua kembali ke dalam rumah. Pintu pun kembali tertutup.

Meong masih ditemani hujan ketika memakan sesuatu dari Sang Penghuni Rumah. Atap pun masih melindunginya dari serangan rintik-rintik hujan. Begitu lahapnya Meong memakan sesuatu itu. Hingga akhirnya dia tersadar bahwa sesuatu itu telah habis dimakannya.

Sehabis makan, tiba-tiba Meong kedatangan tamu. Tamu yang berupa seekor kucing dengan bulu berwana mayoritas hitam. Meong menatap tamu itu dalam-dalam. Si tamu pun menatapnya dalam-dalam. Tak lama kemudian, mereka saling mendengkur.

Dengkuran itu semakin keras. Sebuah pertanda akan ada pertempuran setelahnya. Dengkuran mereka yang begitu nyaringnya memungkinkan menganggu telinga Sang Penghuni Rumah dan para tetangganya. Tapi Meong dan si tamu menghiraukan itu semua. Hingga pertempuran antara mereka pun berlangsung sengit.

Suara pertempuran yang mengganggu itu meresahkan Sang Penghuni Rumah. Pintu rumah terdengar terbuka. Sang Penghuni Rumah, seorang anak kecil, datang untuk menghentikan pertempuran itu. Digenggamnya sapu dengan lidi-lidinya yang keras. Si Anak Kecil pun melibas sapu lidi itu ke tanah. Para petarung itu langsung ketakutan. Si tamu segera melarikan diri. Sedangkan Meong tidak lari dan masih mendengkur. Setelah pertarungan yang bising itu usai, Si Anak Kecil kembali memasuki rumah dan pintu kembali tertutup.

Seraya dengan berakhirnya pertarungan antara Meong dan si tamu, hujan pun mengakhiri rintik-rintiknya. Meong yang perutnya baru terisi, kembali ditinggal sendiri. Dengan kesendiriannya itu, dia langkahkan kaki dan tangannya menuju anak-anak tangga, yang akan membawanya kembali kepada loteng.

Meong tiba di pelataran loteng yang terasnya masih tergenang hujan. Dia hiraukan kaki dan tangannya yang basah, dan tetap berjalan ke sana-kemari di pelataran loteng. Tiba-tiba Meong menghentikan langkahnya, mungkin dia kelelahan setelah makan dan bertempur dengan si tamu. Dia hinggap di ujung pelataran. Dilihatnya segala sesuatu dari atas: rumah-rumah, pepohonan, kelap-kelip lampu, dan juga kegelapan.


*

Purwakarta

Post a Comment