Setelah ditinggal istrinya, kini Kakek Piu hidup dengan kesendirian. Kesepian yang selalu menyelimuti membuat hidupnya tak karuan di masa tua. Jika masih muda, pikirnya, hidup sendirian bukanlah sebuah beban yang berat. Bahkan, pikirnya lagi, alangkah beruntungnya bagi mereka yang meninggal pada usia muda.
Kakek Piu sering memberikan dua pilihan kepada dirinya sendiri. Pilihan pertama, bunuh diri dan menyusul istrinya di alam yang lain. Sedangkan pilihan kedua, berlagak seperti ilmuwan dan membuat istrinya hidup kembali seperti Frankenstein. Namun, kedua pilihan itu hanyalah omong kosong. Sebab, dia yakin, jika dia memilih pilihan kedua, itu artinya dia hanya akan membuat cinta yang palsu. Jikapun kalau dia memilih pilihan pertama, itu hanya akan membuat luka yang baru: luka untuk ketiga anak laki-lakinya, yang kini sedang tidak bersamanya. Akhirnya, tidak ada pilihan yang harus dipilih.
Dari beberapa potret keluarga yang terpampang di dinding-dinding rumah, hanya satu potret yang selalu Kakek Piu tatap. Potret dirinya dan istrinya yang berada di pelaminan. Dirinya dan istrinya yang pada waktu pernikahan masih muda-mudi, masih tampan-cantik, dan juga masih perjaka-perawan. Namun, kini yang mudi, cantik, dan juga perawan itu telah pergi meninggalkannya.
Dia pandangi dalam-dalam potret pernikahan itu. Beberapa kenangan yang masih tersimpan di otaknya yang sudah lemah itu, terkadang membawanya kepada masa lalu. Kenangan yang terkadang membuatnya tersenyum, sekaligus kenangan yang terkadang membuat air matanya tumpah. Mungkin hanya tersenyum dan menangis yang bisa ia lakukan kini. Tetapi itu lebih baik daripada tidak merasakan apapun.
Kakek Piu selalu mencoba mengenang bagaimana dia dan istrinya pertama bertemu. Setidaknya, dengan mengenang momen seperti itu, kesendirian memudar walau sekejap. Selain momen itu, Kakek Piu juga selalu mengenang bagaimana dia dan istrinya menjalin hubungan, hingga akhirnya menuju pelaminan. Momen-momen seperti itu selalu dia kenang dalam kesendiriannya.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" Tanya Kakek Piu kepada potret istrinya yang sedang bersamanya di waktu pelaminan.
"Ah, kuyakin kau bahagia di sana. Kuyakin kau sedang bersama malaikat-malaikat tampan yang bersedia menemanimu. Sedangkan aku? Apa kau memperhatikanku? Apa kau prihatin? Apa kau telah lupa padaku? Sial, kau tidak menjawab."
Kakek Piu pun kemudian terdiam. Ada satu momen yang ingin dia kenang: momen ketika dia dan istrinya mengasuh ketiga anak laki-lakinya. Anak pertama diberi nama Dar. Anak kedua diberi nama Der. Anak ketiga diberi nama Dor. Kakek Piu mengenang bagaimana ketiga anaknya seringkali melakukan kenakalan. Dia mengenang bagaimana ketiga anaknya itu seringkali menangis. Dia mengenang bagaimana suasana dahulu kala di rumah itu. Tetapi itu sudah menjadi sebuah kenangan. Kini, bukan saja istrinya yang meninggalkannya. Dar, Der, dan Dor yang dahulu turut meramaikan rumah, kini sudah meramaikan rumahnya masing-masing. Kakek Piu pun hanya bisa bergumam, "Untung aku masih memiliki kemampuan untuk mengingat masa lalu."
***
Dar, si anak sulung, berniat membuat grup panggilan video dengan adik-adiknya, Der dan Dor. Panggilan video itu bertujuan mendiskusikan bagaimana mereka dapat berkumpul kembali di rumah lamanya. Lebih khususnya, bagaimana mereka bisa mengunjungi orang tua mereka yang kini masih hidup, sang ayah, Kakek Piu. Mereka pun bertatap muka dalam grup panggilan video tersebut.
"Bagaimana kabar kalian?" Dar membuka percapakan.
"Baik, baik." Der dan Dor menjawab dengan serentak.
"Kakak bagaimana kabarnya?" Dor, si bungsu, langsung kembali bertanya.
"Baik, baik. Syukurlah jika kalian baik-baik saja." Dar menanggapi.
"Bagaimana keadaan bapak?" Tanya Der, si anak tengah.
"Ah, iya. Kita tidak memberinya telepon genggam. Alhasil, kita tidak tahu bagaimana kabarnya." Sahut Dar.
"Lagipula, bapak mungkin akan kesulitan menggunakan telepon genggam." Sahut Dor. Kedua kakaknya pun tertawa mendengar itu.
"Yah, kita memang harus melongoknya." Kata Der.
"Iya." Sahut Dar dan Dor dengan serentak.
"Kira-kira, kapan kita bisa melongoknya?" Dar bertanya.
"Waktu luang yang aku punya hanya hari Minggu." Keluh Dor.
"Aku Sabtu." Lanjut Der.
"Aku bebas." Lanjut Dar. Lalu berkata lagi, "Berarti, waktu yang memungkinkan kita untuk berkumpul bersama di rumah adalah Sabtu atau Minggu, yah?
"Iya, kak." Der dan Dor menjawab dengan serentak.
"Tidak adakah di antara kalian yang bersedia mengalah?" Tanya Dar.
"Pekerjaan ini sangat penting bagiku, Kak. Sayang jika aku kehilangan pekerjaanku hanya karena satu hari." Jawab Der.
"Apalagi aku, Kak. Hidupku sedang susah. Pekerjaan ini satu-satunya harapan. Tidak mungkin aku berani meninggalkannya." Sahut Dor.
"Bagaimana kalau kita bergantian saja, Kak?" Der mengusulkan.
"Ah, kalau bergantian seperti itu, hilanglah kesempatan kita untuk berkumpul bersama. Bapak akan lebih senang jika kita berkumpul bersama. Ayolah, beri bapak kita kebahagiaan di hari tuanya, walau sekejap." Dar mengajak.
"Aku sangat ingin kita berkumpul bersama, Kak. Tapi aku tidak bisa." Sahut Der.
"Sudah kukira hal seperti ini akan terjadi. Seharusnya kita sudah membawa bapak ke panti jompo." Dar mengeluh.
"Tidak. Kita tidak akan pernah membawa bapak ke panti jompo." Sahut Dor.
"Yah, kau pasti berkata demikian, Dor." Kata Dar.
Mereka terdiam. Grup panggilan video masih menghubungkan mereka. Tetapi tiada kata yang terucap. Tiada suara yang terdengar. Yang terlihat hanya tingkah tiga bersaudara yang sedang berpikir keras.
"Sial!" Tiba-tiba Dar mengeluarkan ucapan.
"Kenapa, kak?" Tanya Der dan Dor dengan serentak.
"Aku lupa."
"Lupa apa?" Tanya Der dan Dor dengan serentak lagi.
"Aku lupa, sekarang sedang masa pandemi! Barang siapa yang melaksanakan mudik, dia akan didenda."
"Didenda berapa, Kak?" Tanya Der.
"Ratusan juta."
"Sial!" Kata Dor.
"Kita lupa." Kata Dar.
***
Kakek Piu masih menatap potret dia dan istrinya ketika di pelaminan. Terkadang matanya berbinar-binar menciptakan senyum. Terkadang pula matanya berkaca-kaca penuh dengan haru. Hidup sendiri pada masa tua, pikirnya, adalah sebuah kutukan yang menimpa segelintir manusia.
Pernah Kakek Piu berniat pergi kepada seorang psikolog, agar dia tahu bagaimana dia harus hidup pada masa tuanya. Pernah juga Kakek Piu berniat pergi kepada ahli biologi, untuk meminta satu pil yang mampu membuat hormonnya terus berbahagia. Namun, tidak semua orang mampu pergi ke psikolog. Tidak semua orang mampu membeli sebuah pil untuk mendapatkan kebahagiaan. Akhirnya Kakek Piu mengurungkan niatnya itu, dan kembali menjalani hari-harinya yang penuh dengan kesendirian.
Memandangi potret pernikahannya adalah satu rutinitas yang selalu Kakek Piu jalankan setiap harinya. Namun, hari ini berbeda. Kakek Piu mendapati sesuatu yang tidak bisa dipikirkan akalnya. Potret istrinya yang selalu ia tatap, tiba-tiba menatap balik kepadanya. Lebih buruknya lagi, potret istrinya itu tiba-tiba mampu mengeluarkan kata-kata. Kakek Piu pun tercengang.
"Apa kabar, suamiku sayang?" Potret istri Kakek Piu mulai berbicara.
Kakek Piu masih terdiam.
"Kenapa kau tidak menjawabku, sayang? Apa kau telah melupakanku? Kau takut padaku? Hahaha. Sayang, kenapa kau takut? Aku ini istrimu. Lihat aku, cantik bukan?"
Kakek Piu tetap terdiam.
"Baik, baik. Aku mengerti. Mungkin kau takut padaku. Maaf di hari-hari kemarin aku tidak menyahutmu. Kini mungkin aku mendapatkan karmanya. Oh sayangku, maafkan aku yang telah meninggalkanmu."
"Sial! Sial! Kau ini apa, hah? Kau bukan istriku! Kau adalah hantu. Kau adalah setan! Pergi dari potret istriku!" Kakek Piu mulai berbicara dengan penuh kesal.
"Bodoh! Sudah berapa lama aku meninggalkanmu? Kini kulihat kau seperti seorang penakut yang sedang kesepian. Walaupun aku hantu, atau setan sekalipun, percayalah, aku masih istrimu. Kemarin kau mengajakku berbicara, kini kau malah mengusirku. Kau memang suami yang bodoh!"
"Apa aku sudah gila? Apa aku sudah gila? Sial! Sial!"
"Hahaha. Iya, mungkin kau sudah gila. Aku sengaja datang kemari, hanya ingin bertemu denganmu. Kuyakin kau sedang kesepian. Tidak, kau memang sedang kesepian. Bagaimana kabar Dar, Der, dan Dor, suamiku?"
Kakek Piu terdiam. Tiba-tiba air matanya bercucuran, membasahi pipinya yang sudah liat.
"Sial! Aku kesepian. Kau benar! Aku kesepian. Dar, Der, dan Dor? Kuyakin mereka baik-baik saja." Kakek Piu mulai berkata lagi sembari menangis.
"Akhirnya kau kembali seperti dulu. Sayangnya, kini kita tidak bisa berpelukan. Hahaha. Hidup memang kejam."
"Iya, hidup memang kejam."
"Sekarang, sayangku. Aku sudah tiada. Anak-anak kita sudah punya keluarganya sendiri. Jangan ganggu mereka. Satu hal yang harus kauingat, sayang. Kau tidak pernah sendirian. Aku selalu melihatmu. Tuhan selalu melihatmu. Kami bersamamu."
"Hahaha. Itu kata-kataku dulu. Kini kau meminjamnya."
"Hahaha. Kau benar, suamiku. Itu kata-katamu."
Mereka terdiam sejenak. Potret sang istri berbicara lagi kemudian.
"Waktu terus berjalan. Itu mengerikan! Kini sudah waktunya bagiku untuk meninggalkanmu untuk kali kedua. Kau keberatan?"
"Tentu aku keberatan! Tetaplah di sini. Jangan tinggalkan aku lagi. Tetaplah di sini."
"Sudah kubilang, aku selalu bersamamu."
"Sial! Sial!"
Potret sang istri kembali seperti sediakala. Kakek Piu terlihat murung. Namun, Kakek Piu melirik ke arah pintu rumah kemudian. Dia palingkan matanya dari potret pernikahannya, dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. Dibukanya pintu rumah. Dilihatnya dunia dengan berbagai jenis orang yang sedang beraktifitas. Dia tersenyum.
"Terima kasih, sayangku." Gumamnya.
Purwakarta




Post a Comment