Written by Len
Written by Len

Acara Pernikahan

acara pernikahan-mlendrijulian-comedy writing

Saya selalu tidak habis pikir, kenapa orang rela mengeluarkan uang yang besar untuk pernikahan? Mereka menyewa gedung yang besar, gaun pengantin yang indah, dan sebuah guci besar yang siap menampung amplop. Ya, saya selalu melihat guci itu di pernikahan yang mewah maupun di pernikahan yang sederhana. Jadi, ketika diundang ke sebuah acara pernikahan, saya harus membawa amplop. Ya, amplop yang isinya amplop lagi.

Terkadang, acara pernikahan juga sering dijadikan ajang pamer. Bukan hanya pengantin yang memakai pakaian-pakaian mahal, tetapi tamu undangan pun turut memakai pakaian-pakaian yang tak kalah mahal dari si pengantin. Ada tamu yang memakai batik yang harganya sampai puluhan juta, ada tamu yang memakai celana jeans dari Gucci, ada juga tamu yang memakai gaun seperti pengantin. Mungkin tamu yang ketiga itu mengira sedang berada di acara pernikahan massal.

Namun, ada juga tamu undangan yang tidak tahu malu. Tamu itu memakai pakaian yang seadanya (seperti mahasiswa tingkat akhir), memakai sandal jepit swallow, dan juga memberi amplop yang isinya amplop juga. Jika kalian menemukan tamu seperti itu, sudah pasti itu teman saya.

Terlebih lagi, dalam acara pernikahan, selalu ada makanan sejauh mata memandang, atau biasa kita sebut dengan "prasmanan". Tentu inilah yang ditunggu-tunggu oleh tamu yang tidak tahu malu, seperti teman saya. Ketika mengunjungi prasmanan, teman saya mengambil sepiring nasi dan lauk-pauknya untuk dimakan dalam acara, dan membawa sekantong makanan dan lauk-pauknya untuk dibawa pulang.

Setiap tamu yang memiliki pasangan, pasti membawa pasangannya ke acara pernikahan. Itu pasti menjengkelkan, terutama bagi tamu yang tidak punya pasangan, seperti teman saya. Para tamu yang memiliki pasangan akan menikmati acara pernikahan layaknya menonton bioskop: duduk berdua, makan berdua, dan juga pergi ke toilet berdua. Setelah tiba di toilet, salah satu dari pasangan itu berkata, "Eh sayang, anak kita ketinggalan!"

Mari kita bayangkan bagaimana sikap tamu yang tidak punya pasangan. Dia datang sendiri, memakai batik yang puluhan juta, tetapi memakai sandal jepit swallow. Dilihatnya para tamu yang hadir dengan pasangannya. Kemudian dia ditanya oleh seorang tamu, "Mana pasanganmu?" Dia pun menjawab, "Sedang mengurus anak di rumah."

Namun, alasan semacam itu tidak akan membuat konflik batin si tamu yang tidak punya pasangan mereda. Dia tetap kebingungan. Ketika tamu yang punya pasangan makan makanan prasmanan dengan pasangannya, si tamu yang tidak punya pasangan makan makanan prasmanan dengan panitia pengurus prasmanan yang sedang berada di dapur.

Kemudian ada acara sesi bersalaman, dimana para tamu undangan mengucapakan "selamat" kepada para pengantin. Para tamu yang punya pasangan mungkin tidak terlalu terbebani oleh acara itu. Sedangkan tamu yang tidak punya pasangan, pasti akan mendapati pertanyaan dari si pengantin, "Kapan menyusul?"

"Aduh, maaf yah. Aku harus segera pulang, anakku menunggu di rumah, selamat, yah!" Jawab si tamu yang tidak punya pasangan. Dia pun segera pulang, sembari membawa sekantong makanan prasmanan.

Sudah cukup merundung tamu yang tidak punya pasangan. Pernikahan memang menyebalkan. Jika ada yang meminta saya untuk menyebutkan satu produk kebudayaan yang seharusnya tidak ada, saya akan menjawab: pernikahan. Pernikahan membuat hidup saya serba salah. Jika saya menikah dan mengundang para tamu, pasti akan ada banyak uang yang keluar. Jikapun saya menikah dan tidak mengundang para tamu, pasti akan ada ucapan "Ih, sombong sekali, menikah kok tidak ngundang?"

Adanya media sosial mungkin memperburuk keadaan. Dengan melihat pernikahan teman-teman atau artis-artis yang "diabadikan" dalam media sosial, orang menjadi memiliki gairah untuk menikah. Orang-orang akhirnya berlomba-lomba untuk membuat pernikahannya menjadi waw dilihat. Media sosial pun menjadi penuh dengan orang-orang yang menikah. Jika ditanya, "Apa tujuanmu menikah?" Mungkin jawabannya, "Agar orang melihat pernikahanku di media sosial."

Pada akhirnya, orang pasti mengomentari, "Ah, kamu itu iri!" Jika bertemu dengan orang yang seperti itu, saya akan bersiap-siap menjauhinya, tetapi sebelum pergi, saya akan memberinya amplop yang isinya amplop juga.


Purwakarta

Post a Comment