Sapardi Djoko Damono sangat dikenal dalam dunia sastra Indonesia, khususnya oleh kaum milenial negeri ini. Sajak-sajaknya selalu terpampang dalam media sosial anak bangsa. Namun, hari ini, 19 Juli 2020, Sapardi menghembuskan nafas terakhirnya di umurnya yang ke-80.
Aku mengenal Sapardi ketika aku duduk di bangku kuliah. Kalau tidak salah, pada saat itu aku mendapati mata kuliah Creative Writing. Di sanalah sang dosen mengenalkanku dengan nama: Sapardi Djoko Damono.
Aku Ingin, adalah sebuah puisi karya Sapardi yang kali pertama kudengar. Melalui puisi yang hidup semenjak tahun 1989 itu, sang dosen menerangkan cara berlogika dalam berpuisi. Puisi itu bebas, tetapi harus punya logika juga. Kira-kira begitulah penjelasan dari sang dosen sembari mengaitkannya dengan Aku Ingin. Beginilah bunyi puisi tersebut:
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abuaku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Dalam puisi itu, kita dapat melihat sekaligus berlogika ketika kayu bertemu dengan api, maka hasilnya akan menjadi abu. Kemudian, ketika awan bertemu dengan hujan, maka awan itu akan menjadi tiada. Tentu hal semacam itu merupakan sebuah logika dari alam ini.
Jadi, dalam berpuisi, logika sangat diperlukan. Puisi tanpa logika sama halnya dengan manusia yang tidak punya akal. Tentu kita tidak mungkin mengatakan bahwa ketika kayu bertemu api maka hasilnya menjadi air. Kita juga tidak mungkin mengatakan bahwa ketika awan bertemu hujan maka hasilnya menjadi meteor.
Terlepas dari apa yang hendak Sapardi sampaikan dalam puisinya itu, logika yang runtut diperlukan dalam puisi. Sepeti apa yang Sujiwo Tejo cetuskan dalam pidatonya di Tedx Talks bahwa orang yang bagus matematikanya pasti bagus sastranya.
Namun, biasanya, hal-hal yang tidak logis pun memiliki maknanya tersendiri. Orang-orang sastra biasa menyebutnya dengan "majas". Mari kita lihat puisi lain dari Sapardi, seperti berikut:
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itutak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itutak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Kita dapat melihat ada tiga sifat yang hanya bisa dimiliki oleh manusia: tabah, bijak, dan arif. Sedangkan Sapardi, melekatkan ketiga sifat itu pada "hujan bulan Juni". Tentu hal ini tidak berlogika. Namun, mungkin Sapardi me-majaskan "hujan bulan Juni" itu kepada satu atau beberapa manusia.
Begitulah puisi. Di satu sisi membutuhkan logika. Di sisi lain mempunyai majas yang sifatnya bertentangan dengan logika. Itu berarti, puisi mengajarkan kepada siapapun yang ingin menciptakannya, agar mampu mempertanggungjawabkan apa yang hendak dituliskan. Walaupun terkadang majas bertentangan dengan logika, tentu yang membuat majas itu harus mampu melogikakan majasnya itu. Kita tidak mungkin menjawab, "Aku tidak tahu. Itu datang dengan sendirinya.", ketika ditanya, "Kenapa kau menyamakanku dengan bulan?"
Dua puisi yang hidup semenjak tahun 1989 itu, adalah peninggalan Sapardi Djoko Damono untuk anak bangsa atau bahkan untuk dunia. Kepergian penulis itu telah menciptakan duka tersendiri bagi negeri ini, khususnya bagi dunia kesusastraan Indonesia. Yang pada akhirnya, bukan hujan bulan Juni yang turun ke bumi, melainkan hujan air mata di bulan Juli yang membasahi bumi.
Purwakarta




Post a Comment