Written by Len
Written by Len

Two Days, One Night (2014): Sisifus Masih Ada

Mari kita lihat ke-absurd-an hidup ini dalam film Two Days, One Night, atau dalam Bahasa Perancis-nya disebut Deux Jours, Une Nuit.

Film yang diliris pada tahun 2014 ini, disutradarai sekaligus ditulis oleh dua Dardenne (Jean-Pierre Dardenne dan Luc Dardenne). Film ini meraih nominasi Oscar untuk kategori pemeran utama terbaik. Walaupun tidak memenangkan piala Oscar, masuk dalam nominasi merupakan bukti bahwa karya tersebut pernah dipertimbangkan untuk mendapatkan sebuah piala.


Two Days One Night- mlendrijulian - review - Written by len




Dalam film ini, Sandra (Marion Cotillard) selaku tokoh utama terjebak dalam situasi yang absurd. Cerita dalam film ini berawal dari Sandra yang sedang tertidur, dan kemudian tiba-tiba masalah yang absurd menghantamnya dari sebuah telepon. Sandra tiba-tiba harus mempertahankan pekerjaannya, atau kalau tidak, kehidupan ekonominya akan berantakan.

M. Dumont (Baptiste Sornin) selaku bos, membuat sebuah kebijakan yang mempersulit Sandra. Kebijakannya adalah berupa pilihan bagi karyawan-karyawannya. Pilihan pertama adalah para karyawan akan mendapatkan 1000 Euro atau 16 juta-an Rupiah, tetapi Sandra akan diberhentikan dari pekerjaannya. Pilihan kedua adalah sebaliknya, Sandra tetap bekerja, dan para karyawan tidak akan mendapatkan bonus yang banyak itu. Tentu hanya orang-orang yang "tidak gila uang" yang akan memilih Sandra untuk tetap bekerja.

Walaupun demikian, orang-orang yang "gila uang" tidak salah juga. Uang sudah seperti Tuhan pada masa kini. Hidup dan mati seseorang dapat dikendalikan oleh uang. Uang dapat memberikan kebahagiaan, sekaligus memberikan kesengsaraan. Pada akhirnya orang-orang menyembah uang dengan cara berusaha sekeras mungkin untuk bisa mendapatkannya. Di situlah letak ke-absurd-an hidup.

Untuk lebih memahami ke-absurd-an hidup, alangkah baiknya jika kita menengok sebentar kepada kisah Sisifus. Sisifus adalah seorang tokoh, raja, yang diberi kutukan oleh dewa Zeus. Sisifus dikutuk harus mendaki sebuah gunung sembari menggelindingkan sebuah batu besar. Namun, ketika Sisifus tiba di puncak gunung, batu besarnya kembali menggelinding menuju kaki gunung. Sisifus pun harus kembali menjalani kutukannya. Begitu seterusnya.

Kisah dari Yunani tersebut dijadikan sebuah landasan teori oleh absurdisme, khususnya oleh Albert Camus. Lelaki kelahiran Perancis itu menulis sebuah esai yang berjudul Le Mythe de Sisyphe, dalam Bahasa Indonesia-nya Mitos Sisifus, dan terbit pada tahun 1942. Dalam esai tersebut, Camus menjelaskan bagaimana orang mengalami "feeling of absurdity", situasi di mana harapan dan kenyataan seseorang saling bertentangan.

Dalam cerita Two Days, One Night, Sandra sedang mengalami feeling of absurdity. Dia berada di antara harapannya untuk tetap bekerja dan realita yang seakan-akan tidak mendukungnya. Namun, Sandra tetap bersikeras untuk mendapatkan pekerjaannya kembali. Dia menghampiri rekan-rekan kerjanya untuk memilihnya agar bisa kembali bekerja. Tentu hal itu menjadi beban bagi rekan-rekan kerjanya itu, karena bonus senilai 1000 Euro akan lenyap dari harapan mereka.

Namun, Sandra pun tidak punya pilihan lain. Mau tak mau dia harus melobi rekan-rekan kerjanya untuk memilihnya. Di sisi lain, Sandra pun tidak bisa memaksa rekan-rekan kerjanya itu. Walau bagaimanapun, uang sebesar 1000 Euro amatlah banyak, dan itu adalah hal yang normal jika rekan-rekan kerjanya memilih uang tersebut ketimbang dirinya.

Albert Camus dan absurdisme-nya memang terkesan memandang dunia ini sebagai ketidak-bermakna-an (meaningless). Namun, Camus sendiri adalah seorang pemberontak. Apa yang dia tulis dalam Mitos Sisifus-nya justru tak lain untuk memberontak. Dengan memahami ke-absurd-an hidup, setidaknya orang tidak akan terkejut dengan realita yang tiba-tiba akan menghantamnya. Dalam esainya itu, Camus lebih mengajak pembacanya untuk dapat memberontak ke-absurd-an hidup dengan cara "tidak terus-menerus mencari kebahagiaan".

Di awal-awal tulisan dalam esainya itu, Camus mengatakan, "I see many people die because they judge that life is not worth living. I see others paradoxically gettin killed for the ideas or illusions that give them a reason for living (what is called a reason for living is also an excellent reason for dying). I therefore conclude that the meaning of life is the most urgent of questions."

Dalam kutipan tersebut Camus bertanya-tanya. Kenapa ada orang yang menganggap hidup ini tidak berarti dan kemudian memilih mati? Kenapa juga ada orang yang terbunuh karena alasan tertentu, yang katanya demi kehidupan? Apakah hidup ini berarti? Jika iya, mengapa harus ada yang mati?

Dalam kisah Sisifus di atas, mungkin orang akan bertanya-tanya juga. Jika Sisifus sudah tahu bahwa batunya akan kembali menggelinding ke kaki gunung, mengapa Sisifus terus berusaha menggelindingkan batunya ke puncak gunung? Mungkin orang akan membuat jawabannya sendiri, "Ya, itu karena kutukan dari dewa Zeus!" Jika seperti itu, apakah ke-absurd-an hidup ini juga adalah kutukan dari Tuhan?

Kembali kepada cerita Two Days, One Night. Selama dua hari satu malam, Sandra berusaha meyakinkan rekan-rekan kerjanya untuk memilihnya agar dapat kembali bekerja. Usahanya ternyata membuahkan hasil. Beberapa rekan kerja memilihnya untuk kembali bekerja, walaupun 1000 Euro akan melayang.

Namun, beberapa rekan kerja lainnya lebih senang memilih 1000 Euro tersebut. Alhasil, nilai yang diperoleh adalah seri. Setengah memilih Sandra, setengahnya lagi memilih uang. Saya tidak perlu menceritakan kelanjutannya. Tetapi yang jelas, pada akhir cerita, Sandra berkata kepada suaminya, Manu (Fabrizio Rongione), melalui telepon genggam bahwa "Aku senang."

Begitupun dengan Albert Camus dalam menilai kisah Sisifus. Kata-kata terakhir dalam esainya yang sedari tadi disebut, Camus berkata, "The struggle itself towards the heights is enough to fill a man's heart. One must imagine Sisyphus happy." Dengan begitu, dalam menghadapi ke-absurd-an hidup ini, kita juga hanya bisa berharap, "Semoga hidup kita bahagia."

-

Purwakarta

Post a Comment