Salah satu alasan aku menulis adalah karena aku malas berbicara. Bagiku, berbicara memerlukan gairah. Semakin dipaksa untuk berbicara, semakin aku enggan berbicara. Hingga akhirnya, lahirlah rasa ketidaknyamanan ketika aku sedang berkumpul dengan orang-orang, baik itu teman, keluarga, dan lain-lain.
Aku tidak ingin menyebut diriku sebagai seorang yang anti-sosial. Aku sangat ingin bersosial, berkumpul, saling bertatap-muka, bercakap, bahkan merasakan kesedihan atau kebahagiaan orang lain. Namun, keinginanku itu tidak mudah aku wujudkan. Seringkali aku memilih untuk diam daripada berusaha mengutarakan pikiranku melalui ucapan.
Memilih untuk diam justru membuat keadaanku menjadi bertambah buruk. Dengan diam aku hanya mendengar orang-orang (kawan bicara) terus berbicara. Dan itu menjengkelkan. Menjadi pendengar yang baik itu menjengkelkan! Mungkin kau menganggapku egois. Tak apa, itu hak-mu.
Terkadang aku mendapati kawan bicara yang dengan kuatnya berbicara hingga berjam-jam. Secara otomatis, aku memaksakan pendengaranku untuk bekerja mengiringi si kawan bicara itu. Terkadang aku mendapati kawan bicara yang tak mau disanggah olehku. Mereka seperti berusaha membungkam mulutku. Akhirnya, mau tak mau, pendengaranku bekerja lagi. Terkadang juga aku mendapati kawan bicara yang sama-sama malas berbicara. Akhirnya kami bertemu dalam diam. Tetapi itu lebih baik, karena aku tak harus memaksakan pendengaranku terus bekerja.
Menjadi makhluk sosial merupakan beban tersendiri bagiku. Aku akan bertemu berbagai macam orang dengan kepribadian yang berbeda-beda. Menyadari hal semacam itu membuatku semakin enggan berbicara. Alasannya adalah "takut salah". Aku tidak pernah tahu apa dampak dari ucapanku kepada mereka. Itulah yang membuatku takut.
Walaupun Nietzsche mengatakan "Apa salahnya salah?", aku selalu takut berbuat salah. Orang berbeda-beda kepribadiannya. Ada orang yang memarahiku ketika aku berbuat kesalahan. Ada juga orang yang tenang-tenang saja ketika aku berbuat kesalahan. Daripada aku dimarahi, aku pun memilih untuk diam.
Pada akhirnya aku hanya akan berbicara jika dipinta untuk berbicara. Aku akan berbicara sesuai dengan yang dipinta. Jika aku ditanya A, aku akan menjawabnya dengan A. Selama aku tidak diberi kesempatan berbicara, aku tidak bisa berbicara.
Namun, dengan bersikap seperti itu, aku mendapati ketidaknyamanan. Ketika aku menghadiri sebuah perkumpulan, aku selalu diam dan mendengarkan orang berbicara hingga berlarut-larut. Situasi seperti itu membuatku terasingkan, dan itu membuatku tidak nyaman.
Ketika teman mengajakku berkumpul, jawabanku selalu tidak. Sampai ada beberapa teman yang berkata padaku bahwa aku sulit untuk diajak main. Aku memilih tidak ikut berkumpul karena aku sudah meng-algoritma-kan apa yang akan terjadi ketika aku ikut berkumpul. Aku diam, teman bercakap dengan teman lainnya, dan aku pun merasa terasingkan. Daripada aku merasa terasingkan dan menyalahkan teman-temanku, maka lebih baik aku tidak ikut berkumpul.
Aku tidak tahu kenapa orang selalu lantang berbicara hingga berlarut-larut. Mereka selalu bisa mengatakan pengalamannya hingga hal-hal yang bagiku tidak terlalu penting. Aku tak tahu bagaimana mereka melakukannya. Aku tak tahu kenapa mereka ingin menceritakannya.
Aku tidak bisa berbicara seperti orang, tetapi aku pun bosan menjadi pendengar yang baik. Oleh karenanya, sementara ini aku memilih hidup dengan kesendirian. Tak ada kata-kata yang harus diucapkan, dan tak ada kata-kata yang harus didengarkan, kecuali film dan musik. Kau mungkin akan menceramahiku, "Keluarlah dari zona nyaman!" Aku akan menjawab, "Tidak akan! Bukankah orang-orang selama ini mencari kenyamanan? Selama kenyamananku tidak menganggu orang, aku akan terus berada dalam jalanku ini."
Yang kumaksud dari "kesendirian" adalah bahwa aku membatasi diriku membuka diri dengan sembarang orang. Aku memilih untuk membuka diri dengan hanya beberapa orang yang aku percayai. Orang-orang yang membuatku nyaman untuk berbicara, dan nyaman bagiku untuk mendengarkan.
Kurasa bukan hanya aku yang bersikap seperti itu. Mungkin kau, dia, atau mereka juga bersikap "menyendiri" sepertiku. Aku seringkali menemukan teman-teman yang "berkelompok". Kulihat mereka selalu bersama-sama. Jarang sekali mereka berkumpul dengan teman yang bukan dari kelompoknya. Satu kelompok biasanya terdiri dari lebih dari dua orang, bahkan ada kelompok yang hanya terdiri dari dua orang. Bagiku kelompok-kelompok itu tercipta bukan karena setiap kelompok saling membenci, melainkan karena mereka semua mencari sesuatu yang disebut dengan "kenyamanan".
Lebih uniknya lagi, terkadang aku melihat kelompok di dalam kelompok. Coba lihat saja sebuah organisasi. Di dalam sebuah organisasi, kerapkali terdapat anggota yang berkelompok. Mungkin seluruh anggota dalam sebuah organisasi memiliki satu ideologi, tetapi belum tentu mereka memiliki satu kesamaan dalam hal perasaan.
Memiliki kesamaan tentu menjadi kekuatan tersendiri bagiku untuk bersosial dengan orang lain. Ketika menjadi mahasiswa baru, aku lebih mudah berbicara dengan teman-teman mahasiswa yang juga baru, daripada berbicara dengan mahasiswa yang sudah senior. Itu karena aku menyadari bahwa aku dan teman-teman mahasiswa baru memiliki kesamaan yaitu sama-sama mahasiswa baru. Semakin banyak kesamaan yang dimiliki olehku dan orang lain, semakin dekat pula aku dengan mereka.
Ketika aku menjadi "anak baru" di sebuah lingkungan, aku cenderung sulit untuk beradaptasi. Butuh waktu yang lama untukku bersosialisasi dengan orang yang sudah lama tinggal di lingkungan tersebut. Ketika menjadi "anak baru", kekakuan menimpa tubuhku. Lagi-lagi aku menjadi gagu. Lagi-lagi aku menjadi penyendiri. Dan itu melahirkan ketidaknyamanan. Ketika itu juga aku menyadari bahwa aku terkena Culture Shock.
Menyendiri membuatku enggan ikut-ikutan acara sosial, seperti kerja bakti. Aku tidak malas untuk bekerja bakti. Justru aku ingin sekali membuat hidupku berharga dengan turut serta dalam acara sosial itu. Yang membuatku malas dari kerja bakti adalah sosialnya itu sendiri.
Aku pernah mengikuti satu atau dua acara kerja bakti. Tetapi kemudian ketidaknyamanan menyelimutiku lagi. Tiba-tiba aku merasakan "serba-salah", dan itu membuatku takut. Aku takut dicap malas ketika aku ingin mencicipi kopi sejenak. Aku takut dicap "pencintraan" ketika aku memaksakan diriku terus bekerja. Perasaan "serba-salah" itu kerapkali terbesit dalam benakku. Pernah teman menasehatiku bahwa aku harus bersikap tak acuh terhadap apa yang orang lain pikirkan. Namun, kemudian aku bertanya dalam hati, "Bukankah bersikap tak acuh seperti itu membuatku dijauhi juga?"
Pada akhirnya aku selalu malas ketika ada yang mengajakku kerja bakti, atau acara sosial lainnya. Aku hanya ingin mengikuti acara sosial seperti kerja bakti, dan sejenisnya, jika aku dikelilingi oleh rekan-rekan yang membuatku nyaman. Kenyamanan, bagiku, adalah prioritas yang harus aku dapati sebelum aku melakukan sesuatu.
Pernah aku mendengar sebuah pepatah yang berbunyi "Seribu teman lebih baik daripada satu musuh." Aku sangat setuju dengan itu. Namun, bagiku pepatah itu kurang lengkap, maka akan kulengkapi begini, "Seribu teman lebih baik daripada satu musuh, tetapi satu teman yang benar-benar teman lebih kuat daripada seribu teman."
Aku tak tahu kenapa aku menulis semua ini. Tak biasanya aku menulis hal semacam ini. Tiba-tiba saja aku ingin mengeluarkan keresahan, keluh-kesah, kegalauan yang ada dalam diriku. Aku hanya ingin jujur dengan itu semua.
Seni tulis sangat membantuku dalam mengeluarkan itu semua. Sangat sulit memberitahukan hal semacam ini dengan berbicara. Aku tak tahu apakah orang akan membaca ini. Namun, setidaknya, keresahan, keluh-kesah, kegalauan yang menimpaku saat ini, telah aku tumpahkan di sini.
Purwakarta




Post a Comment