Ada tangga di rumahku. Aku berniat melangkahi tangga-tangga itu. Tapi aku tidak bisa. Tapi aku ingin. Mungkin itulah kutukan yang menimpaku saat ini. Aku menginginkan sesuatu, tapi aku tidak bisa menggapainya. Atau lebih tepatnya, aku takut menggapainya.
Banyak pepatah menasehati, "Kalau kau terus-menerus menjadi penakut, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau." Namun, di sisi lain, sebuah pepatah berkata, "Kau tidak bisa berbuat semaumu. Tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan." Aku tidak bisa menentukan mana pepatah yang benar. Mungkin karena aku terlalu takut untuk memilih.
Tapi sungguh, aku ingin menaiki tangga itu. Tapi kukira kapasitasku terlalu rendah untuk menaikinya. Aku seperti tidak pantas menaikinya. Kukira orang lain juga berpikiran seperti itu. Kurang lebih seperti itulah yang kukira-kira. Aku tidak tahu kenapa aku mengira-ngira seperti itu.
Para stoa sudah berulang-ulang mengingatkan bahwa kita lebih menderita di dalam imajinasi kita ketimbang di dalam realitas yang kita miliki. Tentu saja, realitasku tidak seperti seorang pangeran dalam sebuah kerajaan. Aku hanyalah pembawa beban bagi planet bumi. Aku pun terlalu bodoh untuk melakukan gerakan "menyelamatkan bumi" seperti yang Greta Thunberg perjuangkan. Yang kuinginkan saat ini adalah menaiki tangga di rumahku.
Sembari mengumpulkan keberanian untuk menaiki tangga itu, alangkah baiknya jika aku mencicipi secangkir kopi hangat. Aku yakin 99℅ bahwa mencicipi kopi bukanlah sebuah kesalahan. Satu persen itu kusisakan untuk dokter kesehatan yang mengatakan bahwa kopi itu mengandung banyak gula, dan itu berbahaya. Tapi aku lebih mengikuti yang 99%. Dengan mengikuti mayoritas, aku tidak takut. Tidak ada yang akan memarahiku. Tidak ada yang akan mendebatku. Tidak ada yang akan mengusikku. Maka amanlah aku.
Aku tidak tahu apakah itu sebuah sikap yang bijaksana, atau malah mungkin sebuah kepengecutan. Lagi-lagi, aku tidak bisa menentukan jawabannya. Mungkin karena aku terlalu takut untuk memilih. Tapi, aku benar-benar ingin menaiki tangga itu.
"Hai, sedang apa kau?" Seseorang tiba-tiba menyapaku yang sedang menikmati secangkir kopi sambil memandangi tangga.
"Oh, hai. Mari ngopi." Aku membalas menyapanya.
"Baguslah! Terima kasih. Lain waktu saja. Aku sedang terburu-buru."
"Baiklah, hati-hati."
"Yah!"
Yang kugumamkan dalam hati adalah "Sial, untuk mengungapkan keinginanku saja aku tidak bisa." Atau, seharusnya aku menjawab sapaan orang itu dengan sedikit lelucon, misal, "Ya, aku sedang bernafas!" Memang, menurutku, komedi tidak hanya berfungsi menghibur seseorang, tapi bisa juga untuk menutupi kebodohan dalam diri. Aku selalu menggunakan komedi ketika mendapati pertanyaan-pertanyaan sulit menghantam. Tapi, sayangnya, aku tidak bisa terus-menerus berkomedi kepada orang. Alasannya, lagi-lagi, aku takut.
Memang banyak komedian yang dihargai karena komedinya. Bahkan, ketika ajal komedian itu telah tiba, dia dikenang sebagai komedian legendaris. Tapi kurasa duniaku bukan dunia para komedian legendaris itu. Aku menyukai komedi. Aku pun seringkali membuat komedi. Namun, untuk menjadi orang yang selalu berkomedi, ada bayarannya. Itu yang aku takuti.
Ketika membuat komedi, aku harus siap direndahkan, dianggap kata-katanya tidak berguna, bahkan dibalas dengan kata-kata yang dimana aku tidak tahu apakah itu komedi atau bukan. Pepatah agama sering menasehati bahwa manusia adalah makhluk yang rendah. Bahkan, manusia dianjurkan untuk selalu merendahkan diri. Ya, aku sangat setuju itu. Akan terasa indah jika semua manusia di bumi ini bersikap merendah ke satu sama lain.
Oleh karena itu, aku takut untuk berkomedi. Aku takut kewibawaanku lenyap. Tapi, di sisi lain, aku pun tidak gila wibawa. Aku tidak ingin orang segan denganku. Bahkan aku pernah mendengar pepatah, entah di mana, yang berbunyi "Lebih baik direndahkan, daripada dianggap tidak ada."
Tapi benar-benar aku sedang ingin menaiki tangga itu. Aku ingin tahu apa yang akan kulihat ketika tangga itu selesai kulangkahi. Tapi secangkir kopi yang menemaniku kini belum sirna. Aku tidak ingin meninggalkannya. Kopi itu sudah menemaniku. Aku tidak ingin mengecewakannya.
Melalui secangkir kopi, tiba-tiba terbesit dalam benakku tentang teman. Hidup di dunia yang penuh warna-warni ini membuat manusia membutuhkan teman. Sebuah film, aku lupa apa judulnya, melontarkan sebuah pepatah, "Jika ingin bertahan di dunia ini, maka ada dua cara: mempunyai banyak teman atau mempunyai banyak harta, kau tidak bisa memilih keduannya." Baiklah, kini aku bukanlah orang yang bergelimangan harta. Maka, jika aku mengikuti pepatah itu, untuk bertahan hidup, aku membutuhkan banyak teman.
Tapi, lagi-lagi, jika ingin mempunyai banyak teman, ada hal yang harus kubayar. Aku tidak akan bisa berbuat semauku di hadapan para teman. Aku harus menyingkirkan beberapa egoku untuk mempertahankan hubungan pertemanan. Aku tidak ingin teman-teman menganggapku egois. Aku tidak bisa, atau mungkin aku takut.
Walau begitu aku mempunyai teman. Dan kupikir teman-temanku adalah orang yang baik. Tapi, aku tidak tahu apakah mereka akan datang ke hari pernikahanku. Aku tidak tahu apakah mereka akan datang menengok ketika aku sakit. Aku tidak tahu apakah mereka akan sudi datang melayat ketika aku meninggal. Pasalnya, aku tidak tahu seperti apa mereka memandangku. Apakah mereka memandangku sebagai seorang teman yang berharga, atau mungkin sebaliknya? Sungguh, aku takut untuk menerka-nerkanya.
Tapi aku tidak akan memaksa mereka untuk datang ke pernikahanku. Atau datang menengok ketika aku sakit. Atau datang melayat ketika waktu ajalku tiba. Yang kuinginkan adalah mereka menganggapku sebagai teman di saat aku membutuhkan mereka ataupun tidak. Tapi, lagi-lagi aku tidak akan memaksa mereka melakukannya. Aku takut untuk melakukan sebuah pemaksaan.
Rintik-rintik hujan mulai bercucuran ketika aku sedang mengumpulkan keberanian untuk menaiki tangga. Rintikan hujan itu terasa menenangkan atmosfir. Rasanya seperti aku kembali ke masa kecil. Beruntunglah aku hidup di negara yang mempunyai musim hujan. Kupikir seharusnya pemerintah menetapkan Hari Hujan Nasional, agar masyarakat ikut turut bersyukur akan indahnya hujan turun ke bumi. Tapi, jika aku berkata seperti itu, akankah pemerintah menganggapku sedang mengujarkan kebencian? Dan di kemudian hari aku akan dipenjara. Itu buruk. Sungguh, dipenjara itu tidak lucu. Aku takut.
Mungkin sudah saatnya aku menggapai keinginanku: menaiki tangga. Sudah saatnya aku mencintai diriku sendiri. Aku penakut. Tapi setidaknya ada sebuah perjuangan untuk mencintai diri sendiri. Aku penakut. Tapi aku ingin berani. Aku ingin menaiki tangga itu. Aku ingin bebas. Kupikir kopiku sudah habis.
Seekor kucing datang menghampiriku. Dia mengelus-ngelus tubuhnya ke tubuhku. Bulu-bulunya seperti berusaha menghangatkanku dari dinginnya udara akibat hujan. Kupikir dia menyukaiku. Aku berdiri. Kucing itu melototiku. Kulangkahkan kakiku, dan si kucing mengikuti melangkahkan kakinya. Kupikir dia ingin mengikutiku menaiki tangga. Maka kuijinkan dia mengikutiku. Kulangkahkan kakiku menuju kaki tangga. Si kucing masih mengikuti. Tangga pertama kuinjak. Dengan menghapus ketakutan dalam hati, aku menaiki tangga.
*
Purwakarta




Post a Comment