Berbicara tentang Ramadan, kita akan menemukan bahwa bulan ini adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh kaum muslimin (yang benar-benar bertaqwa). Begitu hilal Bulan Ramadan terlihat dan diputuskan bahwa esok hari akan berpuasa, mereka senang bergembira untuk menyambut Ramadan. Namun, jangan suudzon dulu, kaum muslimin (yang masih lemah ketaqwaannya) pun ikut merindukan kesucian Bulan Ramadan ini. Hanya saja, kegembiraan mereka baru akan terlihat sangat jelas ketika hilal Bulan Syawal telah nampak.
Kaum muslimin yang benar-benar merindukan Bulan Ramadan, akan dengan senang hati menjalankan ibadah puasa mereka. Mereka mengisi hari-hari berpuasa mereka dengan hal-hal positif. Tadarus, berolahraga, berbagi, dan sebagainya. Sedangkan orang-orang yang masih lemah ketaqwaannya, mereka mengisi hari-hari berpuasa mereka dengan menghitung hari ketika waktu berbuka puasa tiba. "Ah, 29 hari lagi!" Gumam mereka.
Memang, untuk menahan rasa lapar dan haus berjam-jam amatlah berat. Apalagi bagi orang-orang yang profesinya juga berat. Contohnya supir angkot. Saya masih ingat ketika saya SD dulu. Ketika SD, saya pulang pergi ke/dari sekolah menaiki angkot. Ketika tiba Bulan Ramadan, saya pulang menaiki angkot. Pada waktu itu matahari sedang ganas-ganasnya menerkam bumi. Si supir angkot tiba-tiba berhenti di persimpangam jalan. Biasa, nge-tem. Di sela-sela menunggu penumpang, si supir meminum sebotol air mineral. Lalu si supir melirik penumpang yang duduk di sebalahnya, dan berkata, "Daripada saya pingsan?". "Iya, betul." Sahut si penumpang.
Si penumpang meng-iya-kan mungkin karena dia memaklumi pekerjaan si supir angkot yang berat dan melelahkan. Mungkin juga karena si penumpang takut. Mungkin juga karena si penumpang juga sedang tidak berpuasa. Atau tidak mau berpuasa. Atau mungkin dia seorang non-muslim. Atau? Atau? Ngapain juga saya ngebahas si penumpang, ya?
Dengan begitu, saya jadi ingin mengusulkan ide kepada pemerintah. Saya ingin agar masyarakat tidak ada yang pekerjaannya berat di Bulan Ramadan. Seperti supir angkot, kuli bangunan, tukang sapu jalanan, dan sebagainya. Saya ingin pemerintah memberikan pekerjaan yang ringan kepada mereka sebagai gantinya. Tapi, eh, bagaimana dengan masyarakat yang tidak mempunyai kendaraan pribadi? Bagaimana dengan mereka yang sedang ingin membangun rumah? Bagaimana dengan sampah-sampah yang berserakan di jalanan, yang membuat kota menjadi tidak indah. Jika tidak indah, maka Allah tidak menyukainya. Yah, saya jadi pusing, Pak/Bu pemerintah! Oh, iya! Bagaimana kalau Bapak/Ibu pemerintah yang menggantikan para pekerja yang pekerjaannya berat itu? He he, becanda.
Tapi, saya ingin membayangkan. Boleh, kan? Saya membayangkan Bapak/Ibu pemerintah berkeliling kota, dengan mobil plat merahnya, menggantikan para supir angkot mencari penumpang. Jadi, para supir angkot bisa menjalankan ibadah puasanya, dan masyarakat yang membutuhkan angkutan umum masih bisa menaiki mobil plat merahnya Bapak/Ibu pemerintah. Lalu, Bapak/Ibu pemerintah menggantikan para kuli bangunan yang sedang membangun proyek, sehingga para kuli bangunan itu juga bisa menjalankan ibadah puasanya. Lalu juga, Bapak/Ibu pemerintah bisa menggantikan para tukang sapu jalanan untuk membersihkan sampah-sampah kota yang berserakan, sehingga kota kita tetap bersih, dan para tukang sapu bisa menjalankan ibadah puasanya. Kalau kota bersih dan indah, Allah pasti menyukainya. Namun, jika seperti itu, siapa yang akan mengurusi segala macam administrasi rakyat? Siapa yang akan mengurusi berbagai hal seperti: pendidikan, ekonomi, ataupun sistem-sistem kerakyatan? Ampun... Pusing, dah. Sudahlah, Pak/Bu pemerintah, saya tarik usulan saya. He he.
Mari kita kembali ke Bulan Ramadan. Fenomena menarik lainnya dari bulan suci ini adalah Tarawih. Solat malam ini menjadi ciri khas di Bulan Ramadan. Seperti biasa, ada yang senang melaksanakannya, ada pula yang sambil tertidur ketika melaksanakannya. Mungkin karena terlalu kenyang ketika buka puasa. Biasanya, yang senang dan kuat melaksanakan Solat Tarawih 30 malam full, adalah para orang tua yang lanjut usia. Yang mudanya? Kadang solat, kadang tidak, kadang tertidur ketika solat.
Solat Tarawih pun bermacam-macam formatnya. Ada yang 20 rakaat dengan durasi 30 menit. Ada juga yang 8 rakaat dengan durasi 1 jam. Ada juga yang super-duper-express solatnya. Anda pasti pusing melihat rekamannya. Ya, kalau masalah khusyuk, hanya Allah yang tahu.
Ini adalah Bulan Ramadan 1442 Hijriah. Itu berarti, sudah kurang lebih 1442 tahun Bulan Ramadan ini menemani kaum muslimin. Apakah saya benar? Anggap saja saya benar, ya. Saya hanya berharap, semoga ibadah puasa kita tahun ini, diterima di sisi Allah SWT., menjadikan dosa-dosa kita lenyap tak tersisa, dan juga menjadikan kita insan yang bertaqwa. Aamiin yra. Waallahu A'lam.
Purwakarta




Post a Comment