Written by Len
Written by Len

Mental di antara Kita

Di balik ke-variasi-an mental, ada satu kesamaan yang diinginkan orang: kesehatan dari mentalnya.

mental di antara kita-mlendrijulian-thought



Akhir-akhir ini banyak yang membicarakan kesehatan mental. Hal itu bisa menjadi pertanda bahwa masyarakat kini mulai ngeh bahwa dalam tiap nyawa insan terprogramkan sesuatu yang disebut "mental". Bukankah menyebalkan? Dalam diri satu manusia ada begitu banyaknya program-program yang harus dijaga, dirawat, diurus, agar senantiasa sehat, berfungsi dengan baik, sehingga hidup bisa lebih terkontrol.

Seperti sebuah barang pada umumnya, program-program tersebut memerlukan sentuhan dari para ahli yang sesuai dengan program tersebut. Seorang dokter gigi tidak akan mengurusi pasien yang terkena struk. Beliau tidak mungkin pergi bercukur rambut ke warteg. Apalagi sampai sibuk-sibuk mengurusi kesehatan mental orang lain.

Ya, sebuah mental harus sehat. Mungkin itulah yang menjadi penyebab masyarakat kini mulai ngeh. Mendapatkan kebahagian menjadi tujuannya. Untuk mendapatkan kebahagian pun macam-macam jalannya. Seperti dalam film The Pursuit of Happyness (2006), yang menggambarkan bahwa untuk meraih kebahagiaan, setiap orang harus mengejarnya. Atau seperti kata pantun milik Orang Indonesia, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian." Tapi apakah benar, bahwa untuk mendapatkan kebahagian haruslah bersusah-susah dahulu?



Mengenal Mental


Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, atau mungkin bahasa lainnya, sama-sama menggunakan kata "mental". Hanya pronunciation-nya saja yang berbeda. Sehingga beberapa kamus pun menerjemahkannya. Menurut KBBI, mental adalah sesuatu yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia. Sedangkan dalam Merriam Webster, mental adalah sesuatu yang relating to the mind atau the ways of thinking.

Seorang filsuf yang populer kita kenal, Descartes, mempunyai motto-nya yang selalu menempel di ingatan, "cogito ergo sum", "aku berpikir maka aku ada". Jika mengacu kepada kamus Merriam Webster tadi, dapat diteorikan bahwa yang dimaksud "berpikir" oleh Descartes adalah "bermental" (menjadi kata kerja). Orang yang bermental, mempunyai mental, atau selalu bermental, maka orang itu sesungguhnya sedang "ada".

Tapi dengan Merriam Webster dan Descartes saja tidak cukup. Belum diketahui mental seperti apa yang harus dimiliki, sehingga bisa disebut "ada"? Seperti apa kegiatan "bermental" itu? Ada berapa banyak jenis dari mental? Ah, terlalu banyak bertanya akan menyerupai kaum Nabi Musa!

Jika mental tidak dapat terlihat oleh mata, maka para ahli biologi tidak akan percaya akan adanya mental. Sebab, secara profesi, mereka hanya mengurusi segala tentang makhluk hidup, yang terlihat oleh mata mereka. (Lih: Menengok Jiwa Sebentar). Tentu itu bukan pernyataan yang terlalu serius. Mereka boleh saja percaya akan adanya mental! Akan tetapi, mental bukan urusan mereka. Biarkan Sigmund Freud, dan kawan-kawan yang mengurusnya.

KBBI pun ikut menyederhanakan pengertian dari kata "mental". Menurutnya, sesuatu yang berhubungan dengan batin dan watak seseorang disebut dengan mental. Itu artinya, mental berhubungan dengan tingkah laku, karakter, kepribadian dari seseorang. Dengan mengetahui bahwa tingkah laku setiap orang itu berbeda, maka dapat didiagnosa juga bahwa mental sangatlah variatif. Ada variasi mental di muka bumi ini. Itu menunjukkan bahwa para ahli mental di negeri ini harus diperbanyak lagi jumlahnya.

Tapi dari terjemahan tersebut, apakah hanya manusia yang memiliki mental? Bagaimana dengan binatang, tumbuhan, jin, malaikat, dan makhluk lainnya?


Mengejar Kebahagiaan


Di balik ke-variasi-an mental, ada satu kesamaan yang diinginkan orang: kesehatan dari mentalnya. Jika dilihat dari pengertian-pengertian di atas, kesehatan mental berarti, sehatnya pikiran, sehatnya batin, sehatnya watak. Dengan begitu, kebahagian dapat diraih.

Dari mulai kajian-kajian agama, hingga pemikiran-pemikiran kaum stoic, menjadi media untuk menjaga kesehatan mental. Sebab, jika mental sudah terkena penyakit, bisa menghadirkan kematian. Sedangkan kematian bisa melahirkan kesedihan, dan kesedihan bisa menjadi pemicu bagi datangnya penyakit mental.

Seorang teman pernah memberanikan diri untuk menyilet pergelangan tangannya. Hampir urat nadinya terputus. Yang lebih menghebohkannya lagi, dia menyempatkan mempublikasikan pergelangan tangannya yang bersimbah darah itu ke media sosial. Sehingga membuat teman yang melihatnya khawatir. Kira-kira seperti itu contoh kasus kecil dari sebuah mental yang terganggu.

Jika pengertian mental adalah pikiran, batin, watak dari seseorang, maka seorang teman yang menyilet pergelangan tangannya tadi, pikirannya, batinnya, wataknya, sedang berada di kondisi yang jauh dari kata sehat. Setelah dapat diajak bercakap-cakap, alasan dirinya memberanikan diri melakukan hal yang hampir mengundang kematian itu adalah "cemburu sosial". Dia merasa dirinya tidak ditemani, diasingkan, pantas untuk menyendiri. Pemikiran semacam itu pastinya menyiksa diri sendiri. Pemikiran semacam itu yang hampir membuat nyawanya melayang. Pemikiran semacam itu yang menyadarkan bahwa ada kalanya sebuah pemikiran sangat berbahaya! Motto Descartes yang menyatakan, "aku berpikir, maka aku ada", menjadi "aku berpikir, maka aku tidak ada (meninggalkan dunia)", jika pemikiran seperti seorang teman tadi ada di kepala.

Mungkin kasus seperti itu tidak hanya menimpa seorang teman tadi, mungkin saja anda, kalian, mereka, pun sempat mengalaminya. Oleh karenanya, ketika seseorang sedang berproses berpikir, harus dipastikan bahwa pemikirannya itu membuat dirinya "ada". Mengkaji pemikiran-pemikiran kaum stoic bisa menjadi sebuah jalan. Mengingat ayat Al-Qur'an yang berbunyi, "Laa tahzan, innallah ma'anaa," pun bisa menjadi jalannya. Ketika proses berpikir sedang berjalan, mulai tanyakan, cara apa yang digunakan agar pemikiran itu membuat si yang berpikir itu menjadi ada?

Pemikiran-pemikiran yang membuat yang ada menjadi tidak ada terkadang tidak datang dari diri sendiri. Terkadang, mereka datang dari sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri, dari luar diri sendiri, dari keluarga, saudara, teman, kekasih. Mereka tidak dapat dikontrol. Mereka dan pemikiran-pemikiran sakit itu datang secara tiba-tiba, melalui kata-kata, bisikkan, DM IG, chat WA, IG story, WA story, Facebook, Twitter, dan sebagainya. Dan, sekali lagi, itu tidak dapat dikontrol.

Seorang teman pernah berkata, "Jika hidupmu tidak bermanfaat, lebih baik mati saja!" Mungkin perkataan itu ada benarnya. Sebab, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain. Namun, perkataan itu bisa menjadi sebuah perundungan atau racun yang memicu akal berpikir pemikiran yang membuat diri menjadi tidak ada. Perkataan seperti itu sudah menghakimi orang yang mendengarnya: tidak bermanfaat, dan lebih baik mati. Si orang yang mendengarnya akan merasa dirinya useless dan kematian menyangkut di pikirannya. Si orang itu akan bersedia memberi manfaat, karena takut dilabeli "lebih baik mati saja!" Dan hal semacam itu menyebalkan!

Belum lama ada seorang mahasiswa asal Purwakarta yang menempuh kuliahnya di suatu Sekolah Tinggi Agama Islam di Purwakarta, yang terkena hujatan dari ribuan netizen. Hujatan itu datang dari kritikan si mahasiswa kepada Kang Dedi Mulyadi. Karena dianggap kritikannya tidak tahu tempat, si mahasiswa pun dihujat. Segala posting-an di media sosialnya dipenuhi komentar beracun. Bisa dibayangkan? Seorang mahasiswa yang belum pernah viral sebelumnya, tiba-tiba diserang ribuan kata beracun, dikenal karena dianggap apa yang dilakukannya tidak benar.

Mungkin yang dilakukan si mahasiswa kurang tepat, tapi untuk merundungnya dengan kata-kata racun, bisa dikatakan tepat? Lagipula, kritikan yang dilontarkan si mahasiswa kepada Kang Dedi pun tidak dipenuhi oleh racun. Setelah kejadian itu, mungkin si mahasiswa menjadi takut akan berkata-kata, menganggap dirinya orang tidak benar, tidak bisa lagi merasakan bebasnya berekspresi. Jika seperti itu, apa bedanya pemikiran si mahasiswa dengan seorang teman yang menyilet pergelangan tangannya sendiri?

Kasus seperti seorang teman yang mengatakan "lebih baik mati!" dan ribuan kata beracun netizen kepada si mahasiswa, tentunya berada di luar kontrol. Dan itu bisa memicu pemikiran yang membuat diri menjadi "tidak ada". Terkadang, ada saja nasihat konyol dari orang, "Mentalmu lemah!", "Mentalmu bukan mental baja!", dan sebagainya.

Jika ada nasihat seperti itu, ijinkan saya bergumam, "Daripada harus menguatkan mental, bersusah payah membalas cercaan yang tidak dapat dikontrol, mengasah mental supaya seperti baja, lebih baik kita sama-sama tidak membuat mental, pikiran, batin, watak, menjadi sakit. Lebih baik kita sama-sama menjaga mental satu sama lain. Lebih baik kita menghargai setiap kehidupan. Lebih baik kita mengubah kata-kata racun menjadi kata-kata yang bermadu. Lebih baik kita berusaha agar motto-nya Descartes berjalan dengan baik, bahwa ketika berpikir, kita benar-benar menjadi ada. Lebih baik kita sama-sama bahagia!"

Simpulan

Dalam film Detachment (2012), dikisahkan seorang guru yang sedang mengajar. Kemudian dia melihat muridnya yang sedang merundung temannya yang berbadan besar. Si guru pun mengeluarkan murid yang yang merundung itu. Kemudian, si guru langsung menugasi murid-muridnya untuk membuat esai. Seorang murid membantahnya, ketika dipanggil untuk ke depan, dia melemparkan tas si guru dengan kasarnya. Si guru tetap tenang kepada si murid. Si murid bertanya, "Kenapa kau tidak mengeluarkanku? Padahal perbuatanku tidak benar?!" "Kau hanya melemparkan tasku yang kosong, sedangkan murid sebelumnya, dia menyakiti perasaan temannya. Sekarang kembalilah duduk dan tulis esaimu." Sahut si guru.

Dari film itu disiratkan betapa pentingnya sebuah kesehatan mental. Dari kasus-kasus yang sudah diceritakan pada tulisan ini pun sesungguhnya menyiratkan betapa pentingnya menjaga mental. Jika tulisan ini tidak cukup untuk menyadarkan, mungkin negeri ini membutuhkan "polisi mental"! Untuk selebihnya, saya kembalikan kepada pembaca.


*

Purwakarta

Post a Comment