Aku memanggilnya dengan sebutan "Ki Udin". Lelaki tua yang selalu berkeliling untuk menjual alat-alat kebersihan. Lelaki tua yang ketika kulewati rumahnya, selalu mengatakan "Sini, mampir, minum dulu." Namun, di awal bulan Februari ini, ia meninggalkanku, meninggalkan keluarganya, meninggalkan dunia ini.
Ketika mendengar kabar itu, kutatap langit sore. Terasa langit menyimpan segala kisahnya. Kuharap kisah-kisah itu terus tersimpan, agar senantiasa terkenang sebagai pijakan. Sebagai pijakan yang selalu mengatakan "Aku percaya padamu."Suaranya sering terdengar ketika fajar datang. Membangunkan orang untuk sembahyang. Menggambarkan sebuah bentuk keikhlasan. Wahai suara yang mulia, yang melantunkan nada-nada suci, engkau telah kembali kepada Sang Pemilik. Tunggu dan temuilah aku, walau di lain ruang dan waktu.
Terima kasih. Bumi telah merekam jejak-jejak langkahmu. Yang membimbingku untuk berjalan. Membuka mata dan bertumbuhlah yang harus kulakukan. Percayalah, tidak akan kuhapus tentang segalanya. Terima kasih, guru.
-
Purwakarta, Feb 1st, 2022
Purwakarta, Feb 1st, 2022



Post a Comment