Saya tidak menyangka akan mengajarkan kepada para peserta didik tentang The Expressions of Happiness and Sadness. Yang di mana, saya harus mengajarkan kepada mereka tentang apa saja ungkapan-ungkapan untuk menunjukan rasa senang maupun rasa sedih. Salah satu ungkapan yang menarik bagi saya adalah ungkapan yang berbunyi "This is the lowest time in my life." Yang kira-kira memiliki arti: Inilah titik terendah dalam hidupku.
Ungkapan tersebut masuk kepada The Expression of Sadness. Sebuah ungkapan yang menunjukan rasa sedih. Saya harap tidak ada dari pembaca yang menganggap ungkapan tersebut sebagai The Expression of Happiness. Sebab, kata "low" itu sendiri memiliki arti yang menyesakkan. Contohnya seperti pada kalimat peringatan "Your battery is running low." Kalimat peringatan tersebut pasti menyesakkan ketika gawai sedang asik-asiknya dimainkan.
Ditambah, The Expression of Sadness itu menggunakan mode superlative untuk kata "low"-nya: "lowest". Jika sesuatu menggunakan adjective "lowest", maka sesuatu itu akan lebih menyesakkan dari "low". Artinya, sesuatu itu "paling" atau juga "benar-benar" menyesakkan.
Dengan mengajarkan itu kepada para peserta didik, secara tidak langsung saya pun memberi mereka sebuah persiapan berupa ungkapan untuk digunakan ketika mereka berada di "the lowest time". Namun, secara tidak langsung juga, ungkapan itu dapat digunakan oleh saya sendiri ketika saya yang menghadapi "the lowest time" itu. Oleh karenanya, dalam tulisan ini, saya ingin mengungkapkan bahwa "This is the lowest time in my life!"
Titik Terendah
Saya tak tahu apakah ini sesuatu yang normal untuk dialami oleh seseorang dalam hidup, ketika merasa "ketidaksadaran" di hari-hari yang sedang dilalui? Akhir-akhir ini saya merasakan itu. Saya merasa "tak sadar" kalau saya sedang menjalani hidup. Jiwa terasa kosong. Di setiap langkah kaki saya merasakan kehampaan, atau lebih tepatnya "ketakutan".
Saking tebalnya ketakutan yang menyelimuti saya, ketidaksadaran tumbuh secara perlahan, menggerogoti gairah untuk merasa sadar akan "hidup". Ketakutan itu yang membuat saya akhir-akhir ini enggan bereksistensi. Ketika hendak bertindak apapun, dengan siapapun, di manapun, ada rasa takut, malu, pesimis, sehingga membuat saya diam di tempat. Secara tidak sadar, hal-hal itu selalu saja datang walau tak pernah diundang. Bukankah itu sangat membelenggu?
Saya merasakan beberapa teman berusaha untuk mendorong saya agar menjauhi ketidaksadaran itu. Akan tetapi, semakin mereka mendorong, semakin diri ini dikuasai ketidaksadaran. Usaha mereka yang mulia itu saya khianati secara tidak sadar. Saat-saat seperti itulah yang membuat saya berada di "the lowest time".
Sebelumnya saya sudah mengategorikan ungkapan "the lowest time" itu kepada The Expression of Sadness. Tapi, jika dipikir-pikir lagi, The Expression of Sadness masih terlalu baik bagi ungkapan "the lowest time." Merasakan kesedihan, menurut saya, lebih baik daripada merasakan ketidaksadaran. Orang yang merasa sedih secara sadar mengakui bahwa dirinya merasa sedih. Entah itu disebabkan oleh rasa bersalah, kehilangan, atau mungkin terkhianati. Rasa sedih lebih baik ketimbang tidak merasakan apapun. Sedangkan, di dalam ketidaksadaran, ada kekosongan yang menyelimuti jiwa. Sehingga, jiwa tak sanggup merasakan emosi seperti happiness ataupun sadness. Itulah "the lowest time" versi saya. Oleh karenanya, saya akan memindahkan ungkapan "This is the lowest time in my life." dari The Expression of Sadness ke The Expression of Unconsciousness (Ungkapan Ketidaksadaran).
Akhir-akhir ini, saya enggan bertindak, seperti yang telah saya katakan. Bahkan, untuk membuat story WA pun, ada ketakutan yang menghampiri. Jadi, bukanlah rasa malas yang berada di balik "keengganan" saya ketika hendak bertindak. Saya masih akan bersyukur jika saya masih bisa merasakan sebuah rasa malas. Tapi untuk "hantu" ketakutan, saya berdoa agar supaya Tuhan segera mengusirnya dari rumah yang disebut jiwa ini.
Selain rasa ketakutan untuk bertindak, ketidaksadaran pun membuat pandangan saya terhadap orang menjadi sebuah ketakutan baru. Ketika saya melihat, berjumpa, bahkan memikirkan tentang seseorang, lagi-lagi ketakutan menghampiri. Hal tersebut membuat kontak saya dengan mereka menjadi mempunyai poin buruk. Bahkan, untuk hal yang penuh kelembutan seperti "menyapa" pun, ketakutan selalu menghantui. Sehingga, hal tersebut akan membuat saya melihat dunia ini dengan amat buruk. Sekali lagi, bukan karena rasa malas saya mengenyahkan tata menjalin hubungan dengan orang lain.
Tetapi untungnya, hal tersebut belum terlalu ekstrim merasuk. Masih ada beberapa orang yang ketika saya menemuinya, rasa ketakutan seperti enyah dari jiwa. Ketidaksadaran pun seperti tidak betah untuk tinggal. Ketenangan pun tiba. Dengan dipertemukannya saya dengan orang-orang itu, saya merasa sadar bahwa saya sedang hidup. Untuk itu rasa terima kasih kepada mereka saya ucapkan melalui tulisan ini.
Di sisi lain, kepada orang-orang yang ketika saya menemuinya, selalu ada rasa takut menghantui, saya tegaskan: saya bukan malas untuk menyapa kalian, saya bukan tidak mengakui keberadaan kalian, saya bukan membenci kalian. Mungkin rasa takut saya kepada kalian disebabkan dengan adanya perbedaan level jiwa. Jiwa kalian mungkin terlalu bersih untuk bersahabat dengan jiwa saya yang penuh dengan lumpur, yang bisa menutupi mata hati. Sehingga, ketika berjumpa dengan kalian, saya enggan untuk menyapa, dan itu saya lakukan bersama "ketidaksadaran" yang saya alami. Untuk itu, kalian pantas untuk menerima maaf dari saya.
Sekali lagi, ketidaksadaran adalah "the lowest time" versi saya. Yang di mana mungkin itu merupakan sebuah penyakit jiwa. Penyakit pasti akan menghambat kelangsungan hidup. Bahkan biasanya, sebuah penyakit bisa menghantarkan si penderitanya menuju nafas terakhir. Namun, ada penawar bagi beberapa penyakit, dan saya harap penyakit jiwa "ketidaksadaran" ini merupakan salah satunya. Dengan begitu, jika ketidaksadaran itu menghilang, saya tidak perlu lagi mengungkapkan "This is the lowest time in my life."
Penawar
Lagi-lagi saya bertanya, "apakah penyakit seperti ketidaksadaran ini normal untuk dialami setiap orang?" Jika itu normal dialami setiap orang, maka saya tidak perlu untuk mencari-cari penawar untuk menyembuhkannya. Saya tinggal berharap penyakit itu akan hilang dengan seiring berjalannya waktu. Saya akan menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang sering disebut-sebut "Quarter Life Crisis".
Namun, takutnya, penyakit ketidaksadaran ini merupakan penyakit yang tidak normal dialami oleh seseorang. Artinya, saya khawatir jika penyakit ini hanya dialami oleh diri saya sendiri. Dengan begitu, saya harus mencari-cari penawarnya. Sesungguhnya, tulisan ini merupakan salah satu cara saya untuk menemukan penawar dari penyakit ketidaksadaran ini. Dengan menulis, saya merasakan kesadaran atas ketidaksadaran saya. Dengan menulis, setidaknya saya terbebas dari belenggu rasa takut. Dengan menulis, setidaknya saya merasa hidup.
*
Purwakarta




Post a Comment