Written by Len
Written by Len

Seseorang yang Telah Diundang

Muni terkejut luar biasa ketika mendapati dirinya dikelilingi oleh empat orang yang tak dikenalinya.

Yang telah diundang - mlendrijulian - shortstory


Muni terkejut luar biasa ketika mendapati dirinya dikelilingi oleh empat orang yang tak dikenalinya.

"Siapa kalian?!" Tanyanya.

"Pertanyaan konyol!" Seorang menyahut.

"Siapa kami, kamu tak perlu tahu!" Sahut seorang lainnya.

"Lebih baik kau diam!" Seru seorang lainnya.

Dengan jawaban yang tidak ramah itu, Muni menyimpan kesal di hatinya. Tetap saja, bertemu dengan orang yang tak dikenali dan berada entah di mana adalah masalah utama yang harus dipecahkannya, dibanding dengan dia harus meluapkan sebuah kekesalan.

Muni pun segera mengenyahkan dirinya dari empat orang tersebut, berharap dia mengetahui siapa mereka dan di mana dirinya berada. Lebatnya pepohonan menaunginya dari sinar matahari. Angin berhembus mengenai daun-daun hingga jatuh dari pohonnya. Tiada tanda-tanda kehidupan yang dilihat bahkan dirasakan oleh Muni. Yang dilihatnya hanya empat orang yang tak dikenalinya.

"Apakah ini hutan?" Muni kembali bertanya.

"Jika ini hutan, apakah kau melihat seekor harimau?" Seorang kembali menanyainya.

"Kenapa juga di hutan harus ada seekor harimau?" Seorang yang lain membuka pertanyaan baru.

"Kenapa tidak? Bukankah lebih baik seekor harimau beserta jajarannya berada di hutan? Jika mereka memasuki perkotaan, habislah negara ini!" Akhirnya seorang lainnya memberi tanggapan.

"Iya, selain mencegah banjir, hutan pun melindungi orang dari harimau!"

"Jadi, jika ini hutan, tak lama lagi kita akan bertemu dengan harimau!"

"Jika seperti itu, kau mau apa?"

"Lagi-lagi pertanyaan konyol, jelas aku akan lari!"

"Tidak, aku akan memakannya!"

"Kau ingin memakannya, di perut harimau itu?"

Ketiga orang itu cekikikan. Muni kini semakin yakin, selain dikelilingi orang yang tidak dikenalinya, dia pun dikelilingi orang-orang aneh. Namun, keanehan itu membuat Muni memberikan sebuah senyuman. Senyuman yang setidaknya mengurangi keterasingannya. Sehingga, dia kembali memberanikan diri untuk bertanya.

"Apakah ini akhirat? Apakah aku telah mati? Apakah kalian telah mati?"

"Lagi-lagi pertanyaan konyol!"

"Itu pertanyaan yang tak layak ditanyakan!"

"Hei, kau, yang sedang bingung! Daripada kau terus menerus menghabiskan tenaga untuk bertanya, lebih baik carikan makanan untuk dimakan nanti!"

"Ya! Itu ide yang bagus!"

"Kau, temani orang yang sedang bingung itu!"

"Aku? Kenapa harus aku?"

"Cepatlah! Kau ingin makan tidak?!"

"Baiklah. Ayo kita cari makan, orang bingung!"

Demi menghilangkan rasa bingungnya, Muni pun menerima ajakan itu. Pikirnya, dengan mencari-cari makanan, dia akan mengetahui keberadaannya. Akhirnya, diutuslah dua orang untuk mencari makan, tiga orang lainnya tetap tinggal di tempat.

***

Muni sedang mencari-cari makanan dengan orang yang tak dikenalinya. Langkah-langkahnya kian menjauh dari tiga orang yang sedang diam di tempat. Pepohonan masih menaunginya dari sinar matahari. Masih tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan.

"Bagaimana bisa kau ada di sini?" Muni mulai bertanya kepada orang yang tak dikenalinya itu. Setidaknya itu bisa mengusir sepi.

"Entahlah, hanya Si Pencipta yang tahu."

"Si Pencipta?"

"Iya, bukankah kita diciptakan?"

"Iya. Lalu apakah tiga orang itu adalah temanmu?"

"Aku tak tahu siapa mereka."

"Lalu, bagaimana kau bisa ada di sini?"

"Sudah kubilang, hanya Si Pencipta yang tahu!"

Kebingungan Muni pun semakin menjadi-jadi. Tak tahu di mana dirinya. Entah siapa yang sedang bersamanya, yang tak mengenali satu sama lain. Yang bisa dilakukannya ialah mencari makan.

"Apa itu? Lihat! Itu makanan!" Tiba-tiba seorang yang tak dikenali Muni itu menyeru.

"Kau benar, ayo kita ambil!" Muni menyahut.

"Ayo."

Mereka pun menghampiri makanan itu.

"Kenapa ada banyak sekali?" Muni terheran mendapati ada begitu banyaknya makanan yang ditemukan.

"Aku tak tahu. Milik siapa mereka? Mungkinkah mereka diturunkan dari langit?"

"Kau, orang yang tak kukenali, akhirnya merasa bingung juga!"

"Apakah aku tidak boleh bingung?"

"Tidak, tidak. Maksudku, ketika ada orang lain yang merasa bingung juga, itu membuatku tenang."

"Sudahlah. Ayo, kita bawa makanan-makanan ini! Malam ini kita akan pesta!"

Mereka pun membawa makanan-makanan itu dan kembali menuju tiga orang yang sedang tinggal di tempat.

***

Muni bersama dengan orang yang tak dikenalinya itu kembali dengan membawa makanan yang banyak. Namun, Muni tetap tak menemukan di mana dirinya sedang berada. Kebingungan masihlah belum sirna.

"Kami kembali!" Ucap seorang yang tak dikenali, yang di mana Muni mengikutinya dari belakang.

"Wah, banyak sekali makanan yang kalian bawa!" Sahut seorang lainnya.

"Apakah kalian merampok?" Seorang lainnya bertanya.

"Tentu saja tidak! Kami tiba-tiba mendapatinya." Jawab seorang yang menjadi rekan mencari makannya Muni.

"Tiba-tiba? Mungkinkah mereka diturunkan dari langit?"

"Ha ha. Kalian pun merasa bingung!" Kata Muni cekikikan.

"Apakah pikirmu kami tak boleh merasa bingung?"

"Tidak, tidak. Sudah, lupakan. Bukankah seharusnya kita menikmati makanan yang membingungkan ini?" Seru Muni.

Mereka pun menyetujui seruan Muni. Seruan Muni itu membuat mereka untuk bersiap-siap menikmati makanan. Tempat untuk makan-makan pun dirapikan. "Jangan sampai ada serangga yang menganggu kita makan!" Seru salah seorang dari mereka.

Di sela persiapan makan itu, terlihat dan terasa cahaya matahari kian memudar, menjadikan tempat itu lebih gelap dari sebelumnya. Yang mereka miliki hanya cahaya bulan untuk menerangi. Mereka tidak terlalu peduli akan kegelapan. Yang paling mereka pedulikan adalah mengisi perut yang sedang kosong.

Setelah semuanya siap, kini mereka pun menyiapkan diri dan perut untuk diisi. Dengan khusyuknya mereka duduk dengan ditemani cahaya bulan.

"Bukankah lebih baik sebelum makan kita berkenalan terlebih dahulu?" Pinta Muni.

"Sudahlah, tidak perlu kita melakukan hal semacam itu!" Sahut salah seorang.

"Tidak, itu hal yang penting untuk dilakukan oleh manusia. Aku telah diajarkan bahwa dengan tidak saling mengenal, tidak akan ada rasa saling menyayangi. Itulah kenapa peperangan terjadi. Peperangan terjadi karena manusia tidak saling mengenal!" Jawab Muni.

Mereka terdiam.

"Baiklah, jika kalian tidak ingin mengenalkan diri kalian, maka aku akan memberi nama kepada kalian! Kau Ey, kau Bi, kau Si, dan kau, rekan mencari makanku, namamu adalah Di."

"Lakukan sesukamu!"

"Baiklah, Ey, Bi, Si, Di, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku adalah Muni. Senang bertemu dengan kalian."

Setelah sesi perkenalan itu usai, mereka pun memulai sesi untuk mengisi perut.

"Wah! Malam ini seperti pesta!"

"Kita memang sedang pesta, Si." Sahut Muni. "Apakah kalian tidak ada rencana untuk pergi dari sini?" Tambahnya.

"Saat ini kita memang sedang ditakdirkan berada di sini!"

"Kau percaya takdir seperti itu, Bi? Bagaimana jika kau ditakdirkan untuk tinggal di sini selamanya?" Tanya Muni.

"Jika sudah seperti itu, maka begitulah." Jawab Bi.

"Kau menerimanya begitu saja?"

"Begitulah! Aku, kau, kalian semua, adalah orang-orang yang telah diundang kemari. Terima itu sebagai fakta!"

"Diundang? Tapi, oleh siapa?"

"Oleh Si Pencipta." Sahut Di.

"Ya, kita semua telah diundang oleh Si Pencipta untuk berada di sini." Tambah Ey.

"Kalian memang orang-orang aneh." Ucap Muni. "Kalau begitu, apa kalian punya sebuah tujuan?" Tanyanya kembali.

"Tujuan?" Ey kembali bertanya.

"Menghabiskan makanan ini!" Jawab Di.

"Ya, menghabiskan makanan ini!" Si menambahkan.

"Tentu saja! Tujuanku adalah menghabiskan makanan ini!" Bi menegaskan.

Mereka, termasuk Muni, menjadikan makan malam itu penuh tawa. Malam pun terasa makin pekat. Terlihat makanan-makanan yang membingungkan itu telah mengisi perut mereka. Tak ada makanan yang tersisa. Sehingga, mereka seperti tak kuat lagi untuk berkata-kata.

Dengan begitu, rasa kantuk menghampiri mereka. Muni pun terlihat tak kuat lagi menahan matanya tetap terbuka. Dengan kantuknya itu, setidaknya tak nampak lagi kebingungan di raut wajahnya. Akhirnya matanya terpejam. Tertidurlah ia. Begitupun dengan Ey, Bi, Si, Di. Mereka tertidur beralaskan tanah.

***

Terlihat matahari kembali memunculkan sinarnya. Namun pepohonan menutupinya. Terdengar suara cuitan-cuitan burung. Memberikan tempat itu nada-nada yang mengusir sepi. Para serangga pun ikut serta meramaikan. Pun angin pagi menghembuskan dirinya, membuat Muni yang terlelap akibat pesta makan malam itu terbangun.

Muni pun terbangun, dan mendapati bahwa dirinya masih berada di tempat yang dia tidak tahu di mana. Namun, yang didapatinya adalah empat orang yang tak dikenalinya sedang berdiri memandanginya.

"Selamat pagi semuanya. Kalian sudah terbangun? Kenapa kalian memandangiku seperti itu?" Tanyanya.

"Kau baru saja terbangun, tapi kau sudah kembali menunjukkan sebuah kebingungan."

"Tentu saja Ey. Terbangun dari tidur dan tiba-tiba mendapati kalian memandangiku adalah sesuatu yang membingungankan bagiku."

"Ini waktunya bagi kami untuk meninggalkan undangan ini."

"Apa maksudmu, Si? Kalian akan pergi dari sini? Jika kalian ingin pergi, aku akan ikut!"

"Tidak, Muni. Kau akan pergi meninggalkan tempat ini sendiri."

"Kenapa, Bi?"

"Sudah kubilang, ini adalah takdir."

"Sudahlah, Muni. Hentikan menanyai pertanyaan-pertanyaan!" Seru Si.

"Tapi,..."

"Sejujurnya, Muni. Aku pun merasa bingung dengan ini semua. Bukankah kau akan lebih tenang jika tak merasa bingung sendiri?"

"Iya, tapi, Di. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana bisa aku keluar dari sini?"

"Sudah. Ini waktunya bagi kami untuk pergi. Muni, temukanlah secercah cahaya. Masuklah ke dalamnya!" Seru Ey.

Cahaya menyinari tubuh empat orang yang tak dikenali itu. Terlihat bola mata Muni yang melihat sinarnya. Hal tersebut membuat tubuhnya bergemetar. Ketakutan pun hinggap di dirinya. Perlahan-lahan cahaya itu melahap sekujur tubuh mereka. Hingga akhirnya sinar itu membuat empat orang yang tak dikenali itu, sirna di hadapan Muni.

"Sial, sial! Kenapa mereka pergi? Apa yang dimaksudnya dengan 'pergi menemukan cahaya?' Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Pada akhirnya Muni pun melangkahkan kakinya, berharap bisa meninggalkan tempat itu. Langkah demi langkah ditempuhnya. Yang ada, hanyalah pepohonan yang menaungi sinar matahari. Namun, dia tetap melangkahkan kakinya.

"Apa itu? Cahaya?" Gumamnya ketika dilihatnya secercah cahaya. Teringat olehnya seruan dari Ey, dia harus masuk kepada secercah cahaya. Tanpa berpikir panjang, Muni pun bergegas menggiring langkahnya menuju cahaya itu. Sembari memejamkan mata, dia memasukinya.

"Ini terasa hangat." Begitu yang dirasakannya ketika tubuhnya diselimuti cahaya itu. Tak lama kemudian dia merasakan cahaya itu tak lagi menyelimuti tubuhnya. Muni pun membuka matanya secara perlahan. Didapatinya bahwa dirinya sudah kembali berada di dunianya.



Purwakarta


Post a Comment