Written by Len
Written by Len

Di Tepi Sungai Dajlah: Wejangan untuk Peradaban

Sungai Dajlah itu tidak hanya tersimpan sejarah-sejarah ke-Islaman. Tempat itu telah menjadi tempat perebutan bangsa-bangsa jauh sebelum Islam lahir.

Satu hal yang menarik dari manusia adalah kemampuannya untuk mengingat suatu hal yang datang dari suatu hal lainnya. Seketika pikiran membawanya ke suatu hal setelah ia mendapati, melihat, merasakan, sesuatu. Katakanlah ia melihat jam tangannya. Lantas, pikiran membawanya ke sebuah cerita ketika ia mendapati jam tangannya itu. Entah itu ia membelinya di sebuah toko yang membuatnya harus antre, atau menemukannya di suatu tempat, atau bahkan diberikannya jam tangan itu oleh sang kekasih. 

Sebetulnya Yuval telah membicarkan kasus seperti itu di bukunya (Homo Sapiens). Dia mengemukakan bahwa sistem otak manusia itu mempunyai algoritma. Yang di mana, algoritma itu yang mengatur pikiran seorang manusia. Setelahnya, di bukunya itu, Yuval seperti "berdebat sendiri dengan dirinya". Ia mempermasalahkan, jika memang ada algoritma yang mengatur gerak-gerik seseorang, apakah "kehendak bebas" itu benar-benar ada?

Mungkin Yuval benar, ada algoritma yang mengatur gerak-gerik seseorang. Pasalnya, saya sendiri bingung kenapa saya tiba-tiba membahas Yuval? Tentu saja, saya tak ingin membahas Yuval dan Homo Sapiens-nya itu. Tulisan ini sesungguhnya saya persembahkan untuk Hamka. 

Sungai Dajlah di antara Dua Bangsa

Sepertinya Hamka pun menyadari bahwa pikirannya kian berterbangan ketika berada di tepi Sungai Dajlah. Hal-hal yang ada di pikirannya itu lantas ia tuliskan ke dalam sebuah buku yang diberi judul Di Tepi Sungai Dajlah. Buku itu menjadi sebuah catatan perjalanan ziarahnya ke dunia bagian Timur. Tertuanglah beberapa kisah hingga buku itu berisi 174 halaman.

Berbagai sumber menerangkan bahwa Sungai Dajlah adalah Sungai Tigris. Ditambah lagi, sungai itu menjadi saksi atas sejarah perjalanan penyebaran Islam. Hal itu sesuai dengan apa yang terkandung di dalam Di Tepi Sungai Dajlah-nya Hamka. Di dalamnya terkandung cerita, derita, sejarah mengenai perjalanan Islam di muka bumi.



Sungai Dajlah - mlendrijulian - buya hamka- review- written by len



Namun, di dalam bukunya itu, Hamka menerangkan bahwa di tepi Sungai Dajlah itu tidak hanya tersimpan sejarah-sejarah ke-Islaman. Tempat itu telah menjadi tempat perebutan bangsa-bangsa jauh sebelum Islam lahir. Hamka menerangkan:

"Dua bangsa yang senantiasa merebut kekuasaan di tepi (pinggir) Sungai Dajlah dan Sungai Furat- satu abad sebelum Nabi Muhammad SAW. dilahirkan- yaitu bangsa Yunani lalu dilanjutkan oleh bangsa Romawi pada satu sisi, dan bangsa Persia pada sisi yang lain." (Hal:15)

Dua bangsa itu, Romawi dan Persia, telah menyebarluaskan kebudayaannya kepada warga dunia. Hingga terciptalah dua kebudayaan yang memiliki pola yang berbeda. Di satu sisi berdirilah kebudayaan yang disebut kebudayaan Barat. Sedangkan di sisi lainnya ada kebudayaan yang disebut kebudayaan Timur.

Para warga dunia yang memegang kebudayaan Barat terpengaruhi oleh kebudayaan Romawi. Yang di mana mereka lebih menggunakan rasionya dalam berbudaya. Dalam perpolitikan, mereka lebih suka menggunakan metode "sentralisasi". Yang di mana, mereka meyakini bahwa tanah-tanah/wilayah jajahan yang tak lain dan tak bukan, berfungsi untuk menyuburkan yang ada di "pusat".

Sedangkan, untuk mereka yang menyerap kebudayaan Timur, dipengaruhi oleh kebudayaan Persia. Mereka lebih mementingkan, memakai istilah Hamka, "kemurnian batin" ketimbang rasio di dalam pola pemikiran. Secara perpolitikan, mereka lebih melindungi kemerdekaan warga-warga yang terjajah. Para warga itu diberi hak untuk bertindak sesuai kehendak. Hanya saja, para warga itu harus bersumpah untuk setia kepada sang Kisra (raja), yang pastinya dari Persia, yang terlantik. Dari dua kebudayaan itu- Kebudayaan Barat dan Kebudayaan Timur- walaupun berbeda polanya, mereka memiliki suatu kesamaan: yang berkuasa ialah yang patut diagungkan.

Pada masa-masa seperti itu, raja adalah tangan Tuhan. Siapapun yang menentang Raja, artinya ia menentang Tuhan. Revolusi Perancis, merupakan sebuah sejarah di kehidupan warga dunia yang berupaya membuktikan bahwa raja bukanlah perwakilan Tuhan. Revolusi itupun mendapatkan jawabannya bahwa raja memang bukanlah perwakilan Tuhan, walau pada akhirnya darahlah yang menjadi jawabannya.

Namun, sebelum Revolusi Perancis tercatat di buku sejarah, sudah ada ide yang mempersatukan kebudayaan Barat-Timur itu. Sebuah ide yang datang dari sebuah mukjizat, yang disebut Al-Quran. Sebuah ide yang membangkitkan semangat baru. Sebuah ide yang membangun sebuah peradaban yang disebut "Islam".


Mereka yang Berselisih

Melalui Di Tepi Sungai Dajlah, Hamka dan memoarnya membawa pembacanya menuju sejarah yang kaya akan cerita dan derita yang dilalui oleh Islam. Dari semenjak Nabi Muhammad SAW. diutus untuk mendakwahkan Islam, kemudian wafatnya beliau, kemudian digantikannya beliau oleh para Sohabat-nya, hingga berdirinya dinasti-dinasti yang turut menyebarkan Islam.

Runtutan sejarah itu telah menciptakan sebuah peradaban. Lebih tepatnya, sejarah itu telah menjadi sebuah monumen di muka bumi, yang akan selalu teringat oleh pikiran. Itu sebabnya kenapa pikiran Hamka menuju sebuah sejarah ke-Islaman di pengembaraannya menuju negeri Timur.

Di dalam Di Tepi Sungai Dajlah ia menulis, 
"Islam dapat memadukan bangsa Arab menjadi satu. Oleh karena itu, keyakinan dalam hati mereka pun timbul bahwa mereka mempunyai kewajiban luhur, yaitu menjadi tiang sendi dari kemajuan agama Islam." (Hal:17)

Dengan begitu, permasalahan Barat-Timur, Romawi-Persia, sedikit demi sedikit dienyahkan kebudayaannya. Sebab, sudah ada ide yang lebih menjadi pusat perhatian: Islam. Bahkan, para warga itu sudah mengemban dalam jiwanya, bahwa kemajuan Islam menjadi sebuah tujuan yang harus tercapai.

Namun, tetap saja, ketika hasrat untuk memajukan sebuah peradaban begitu besar, ada juga perselisahan yang tak kalah besarnya. Sama halnya dengan perselisihan yang selalu terjadi di Indonesia ketika masa pemilu tiba. Sebuah perselisihan yang sebetulnya memiliki motif yang sama: ingin memajukan. Walaupun perselisahan di Indonesia ketika masa pemilu itu tidak menumpahkan darah, ada saja perpecahan antar warga, yang jika dibiarkan, akan membuat kapal yang disebut Indonesia ini goyah.

Melalui Di Tepi Sungai Dajlah, Hamka menceritakan perselisihan-perselisihan yang terjadi dalam kesejarahan Islam. Sebuah perselisihan yang sudah terjadi semenjak Nabi Muhammad SAW. wafat. Bahkan, sebelum jasad Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dimakamkan, kaum Anshor, Muhajirin, Quraisy, mendapati perselisihan tentang siapa yang layak menggantikan kepemimpinan Islam, yang disebut "Khalifah". Perselisihan itu terjadi, hingga akhirnya terpilihlah Abu Bakar Ash-Shidiq ra. sebagai Khalifah-nya.

Sebuah perselisihan yang lebih besar pun terjadi di masa ke-khalifahan Ali bin Abi Thalib ra.. Hamka menggambarkan bagaimana perselisihan itu terjadi hingga akhirnya harus menumpahkan darah. Yang lebih menyesakkannya lagi, dari perselisihan itu terciptanya pula perpecahan di antara umat Islam. Ya, perselisihan itu terjadi di antara Khalifah Ali dan Muawiyyah.

Mereka yang memandang jalan politik Ali bin Abi Thalib ra. terlalu lemah, keluar dari "barisan". Mereka pun menyebut diri mereka dengan kaum "Khawarij". Secara bahasa, Khawarij berasal dari kata "khuruj", yang berarti "keluar". Di sisi lain, ada kaum yang setia berada di dalam "barisan" Ali bin Abi Thalib ra.. Mereka menyebut diri mereka dengan "Syiah". Secara bahasa, "Syiah" berarti "pengikut". Kaum Khawarij maupun Syiah itu telah menjadi cermin dari sebuah perpecahan yang lahir dari sebuah perselisihan. 

Perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah pun tidak cukup sampai lahirnya kaum Khawarij dan Syiah. Perselisihan itu terjadi hingga kepada keturunannya. Ketika Muawiyyah menjadi khalifah, didirikannya sebuah dinasti yang disebut "Dinasti Umayyah". Tentu saja, kata dinasti itu sendiri memiliki sifat monarki, yang di mana masa kepemimpinan akan diteruskan dari keturunan ke keturunan. Masa hidup Muawiyyah pun berakhir dan kepemimpinan diteruskan kepada anaknya yang bernama Yazid. Di sisi lain, Ali bin Abi Thalib pun memiliki keturunan. Beliau memiliki dua anak: Hasan dan Husain. Hasan tidak terlalu suka akan dunia perpolitikan. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal di Madinah hingga ajal menjemputnya. "Sebagian ahli tarikh menyampaikan bahwa wafatnya (Hasan) adalah karena memakan racun yang diberikan bani Umayyah." Begitu tulis Hamka di Di Tepi Sungai Dajlah (hal.42). Walau demikian, sebelum Hasan wafat, beliau telah berusaha menyelesaikan tugas mulia: mempersatukan umat Islam.

Ketika Yazid bin Muawiyyah memimpin Dinasti Umayyah, Husain, adik dari Hasan, berniat berkunjung ke Kuffah, mengunjungi sang Khalifah. Walhasil, sang Khalifah, Yazid, mohon maaf, membuat kepala dari cucu Kanjeng Nabi Muhammad SAW. itu terlepas dari tubuh. Bahkan, sebelum wafatnya, Husain dan pengikutnya meminta air untuk diminum dan Yazid tidak memberinya. Kisah penuh derita itu pun diabadikan oleh kaum Syiah setiap tanggal 10 Muharram.

Semuanya berkat perselisihan. Ketika perselisihan terjadi, sesuatu yang lebih buruk dari pertumpahan darah akan lahir: perpecahan. Yah, perpecahan lebih buruk dari pertumpahan darah. Sebab, sebuah perpecahan bisa melahirkan pertumpahan darah yang akan terus terjadi. Dendam pun akan senantiasa menyelimuti. Namun, perselisihan itu tak usah dijadikan "kebencian yang baru", melainkan menjadi cermin sejarah tentang bagaimana kita harus bertindak untuk masa yang akan datang. Akankah perselisihan itu tidak terulang? Atau justru sebaliknya?


Akhirul Kalam

Isi dari Di Tepi Sungai Dajlah tidak hanya sampai di Husain ra. terbunuh. Setelahnya Hamka menceritakan lagi tentang Khalifah Harun Ar-Rasyid, Khalifah dari Dinasti Abbasiyah, yang memajukan peradaban Islam di muka bumi. Penyair seperti Abu Nawas lahir pada waktu itu. Tidak hanya di bidang kesusastraan, bidang lain seperti fiqih, sains, pun ikut maju pada masa Harun Ar-Rasyid itu. 

Kemudian, Hamka pun menceritakan kisah tentang Raja Faishal, yang memiliki jiwa tenang dan nasionalisme yang tinggi. Walau banyaknya golongan-golongan yang lahir akibat perselihan-perselihan, seperti Khawarij, Syiah, Sunni, di tanah Arab, Raja Faishal tetap bertekad bahwa dia adalah orang Arab. Tekad itulah yang mampu menjadi obat dari perpecahan.

Di akhir-akhir tulisannya pada Di Tepi Sungai Dajlah, Hamka meyakinkan bahwa Indonesia pun serupa dengan negara-negara Timur. Tidak ada yang lebih terbelakang maupun lebih maju. Bahwa, "Kita memang dalam penderitaan sama-sama orang Timur." (hal.158). Akhirul Kalam, saya ingin berterima kasih kepada Maulanaisme, yang sudah menjadikan buku ini sebagai sebuah referensi yang layak dibaca.


Purwakarta

-
Reference:
Hamka. (2019). Di Tepi Sungai Dajlah. Jakarta: Gema Insani

Post a Comment