Dikatai pendiam itu bisa menyenangkan, bisa juga menyebalkan. Sesuai konteks. Bisa menyenangkan kalau merujuk ke kebaikan. Misalnya, ada yang bilang “Dia mah orangnya baik. Pendiam. Soleh orangnya.” Di sisi lain, bisa juga menyebalkan. Misal, ada orang yang bilang, “Ih, kamu mah pendiam. Gak pintar sosialisasi!” Jika ada yang pernah mengalaminya, kita samaan!
Saya merupakan salah satu orang yang sering dikatai pendiam. Padahal, menurut saya, saya gak diem-diem amat orangnya. Kalau ada ular di hadapan saya, saya juga menjerit, kok. Saya hanya gak bisa banyak tingkah ke semua orang. Saya mikirnya orang itu gak semuanya sama. Ada yang santai, ada yang dari Thai. Thailand. Saya hanya “aktif” jika berhadapan dengan orang-orang tertentu. Udah, gitu aja. Gak ada yang aneh kan?
Justru, menurut saya, yang aneh itu orang-orang yang banyak tingkah. Baru ketemu, langsung push-up. Kan, aneh? Saya sering bertanya-tanya, kok ada orang yang bisa “aktif banget”? Kalau ngomong bisa setara satu novel. Gimana gak pusing tuh yang ngedengerinnya? Mau nyuruh berhenti, tapi lupa, kan saya pendiam? Eh, dasar pendiam!
Saya tidak tahu kenapa saya disebut pendiam. Apakah karena selalu diam ketika nongkrong? Lah, nongkrong itu kan, artinya “diam bersama-sama di suatu tempat”? Yah, emang gak rame juga kalau hanya “diam”. Nyuangki, kek. Maen gaple, kek. Apa kek. Apakah karena saya tidak banyak tingkah? Ya, lalu saya harus ngapain? Mainin ular kayak Panji Petualang? Jadi gembel dan nge-prank orang-orang? Itu mah kayak seleb.
Baiknya menjadi pendiam, kayak yang di atas sudah saya sebutin, ya sering dianggap “orang baik”, atau “orang yang gak mungkin ngelakuin hal yang aneh-aneh”. Kayak makan nasi goreng dicampur nasi, pesen es teh manis anget, atau bilang “orang desa gak pake dolar”. Pandangan terhadap orang pendiam itu kadang seperti itu. Orang pendiam sama dengan orang baik. Buktinya, Pak Maruf Amin bisa jadi Wapres RI. Karena apa? Ya, karena pinter lah!
Tapi gak mungkin kan? Semua orang diam itu orang baik? Contohnya, cari aja sendiri, deh. Tapi, sebagai seorang yang sering disebut pendiam, saya mah baik orangnya. Gak mungkin diam-diam saya nge-bom Nagasaki. Ya iyalah, bom-nya aja gak punya. Kalau punya, ya enggak mungkin juga. Kan, saya baik orangnya!
Tapi di sisi lain, seperti di awal tulisan sudah dituliskan, disebut-sebut pendiam juga terkadang menyebalkan. Orang pendiam bisa disangka wibu, atau bahkan bisa di-bully, atau bahkan bisa dipecat dari pekerjaan. Saya kira menjadi pendiam akan aman-aman saja. Eh, saya pernah dimarahin dong, karena saya seorang pendiam. Dibilang anti sosial, karena jarang ngobrol. Dibilang tidak ramah, padahal saya bisa senyum-senyum mah. Dibilang “diem aja”, padahal lagi nyantai dikit-dikit.
Yang lebih parahnya lagi, pernah saya hampir “diberhentikan”, atau bahasa lembutnya “dipecat” dari pekerjaan gara-gara image saya yang dikenal pendiam. Dalam hati, kenapa gak dikasih arahan atau bimbingan aja sih? Saya dicap “anti sosial”. Padahal, kalau mau minjem seratus mah, saya bakal ngasih. Tapi 20 ribu aja ya. Buat bensin soalnya! Kurang bersosial apanya saya?!
Kembali lagi, saya bukan anti sosial. Saya hanya gak bisa bertingkah sama ke semua orang. Terkadang saya nge-jokes ke seseorang tanpa malu. Kadang juga saya mendiamkan diri ketika berhadapan dengan seseorang. Kadang juga saya joget-joget sendiri. Saya masih bisa ngobrol kok, sama orang-orang. Sama kucing. Sama burung. Burung apa? Burung apa itu man?
Teruntuk para bos yang baca ini, atau yang di luar sana, tolonglah, menjadi pendiam itu bukan dosa. Orang pendiam gak akan masuk neraka, kok. Kalau orang berkuasa yang diam aja ketika ada bencana, itu yang mungkin akan masuk neraka! Menjadi pendiam juga gak terlalu ngaruh ke pekerjaan kok. Kecuali kalau pekerjaannya atlet smack down, terus diam aja, nah itu ngaruh ke rating tv! Kalau si karyawan diam saja ketika waktunya kerja, nah itu juga bisa disentil. Tapi kalau langsung dipecat, hmmm aneh aja. Jadi ya bos, jangann pecat saya yang pendiam ini. Bimbing saja aku, bos!
- Purwakarta



Post a Comment