Apa hanya saya yang merasa takut ketika bermedia
sosial? Ketika ingin nge-post sesuatu, ada semacam perasaan ragu-ragu, atau
bahkan takut, untuk nge-klik “post”. Kalau ada yang serupa seperti ini, saya
bersyukur tidak sendiri. Tetapi kalau hanya saya yang mengalami hal semacam
ini, berarti siapa/apa yang salah? Semoga
pembahasan ini tidak menyakiti siapapun.
Menjadi Penduduk "Dunia Kedua"
Menurut keyakinan saya, hampir 95 persen masyarakat
Indonesia memiliki akun media sosial. Dari generasi boomer, hingga generasi
alpha. Dari medsos zaman dulu, hingga medsos yang hype zaman kini. Dari niatnya
untuk mencari relationship, hingga niatnya yang ingin dapet endorsment. Media
sosial sudah menjadi seperti “dunia kedua” yang ditinggali masyarakat. Sebagai masyarakat
yang masih hidup, saya merupakan bagian dari “dunia kedua” ini.
Per hari ini, saya punya akun untuk beberapa media
sosial. Medsos-medsos itu, menurut saya, fiturnya tidak jauh berbeda. Nge-post
story, video, chatting, scrolling, hingga stalking. Yang membuat medsos-medsos
itu berbeda adalah, ya, penggunanya! Rata-rata, orang akan menggunakan media
sosial yang sedang hype, atau yang mayoritas kenalannya ada di media sosial
tersebut. Terkadang orang lebih asik di Instagram, terkadang juga orang lebih
asik bermain Facebook. Tidak perlu saling mencela, fiturnya hampir sama, kok!
Dahulu, ketika saya kuliah, aplikasi chat untuk
berbagi hingga bercanda gurau bersama teman-teman adalah Line. Selain untuk chatting,
di Line pun kami bisa berbagi cerita. Hampir sama dengan Facebook di masa itu. Tetapi
suatu waktu, kami berpindah ke aplikasi chatting WhatsApp. Katanya, aplikasi WhatsApp
lebih ringan. Line pun ditinggalkan. Tentu saja, bukan berarti aplikasi Line buruk.
Yang pasti kenapa Line ditinggalkan adalah karena mayoritas penggunanya
berpindah! Jika teman-teman saya lebih asik bermain di WhatsApp, sedangkan saya
masih terpaku di Line, mau ngobrol sama siapa? Walhasil hingga per hari ini, saya,
teman-teman, keluarga, hingga urusan kerja, beralih ke WhatsApp.
Kira-kira seperti itulah karakteristik dari media sosial. Sewaktu-waktu sebuah aplikasi media sosial bisa hype, dan aplikasi yang kini digunakan bisa ditinggalkan. Yang jelas, kini siapapun bisa bermedia sosial. Apapun jabatannya. Apapun generasinya. Apapun niatnya. Bahkan, bayi yang baru lahir pun bisa memiliki media sosial. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, media sosial kini menjadi “dunia kedua” yang dimiliki seluruh lapisan masyarakat, atau dalam pandangan lain, media sosial adalah “alam liar” yang bisa sangat mematikan.
Zero Post, Second Account
Kini, ada semacam tren di antara para pengguna media
sosial. Si pengguna medsos tidak memposting apapun, mungkin hanya story. Isi akun
medsosnya bersih kosong. Di sisi lain, mereka membuat second account. Mungkin,
tujuannya untuk memposting sesuatu yang “tidak bisa” di-posting di akun utamanya,
atau untuk meng-stalking akun medsos temannya. Bisa dikatakan, akun second ini
lebih privat. Padahal, menurut saya, kalau privat kenapa harus di-post? Tenang wahai
pengguna yang akunnya bersih kosong, akhir-akhir ini saya mungkin bisa setuju
dengan kalian yang melakukan hal semacam itu.
Di gempuran teknologi yang sangat cepat berkembang
ini, penduduk “dunia kedua” disuguhkan fitur -fitur yang beragam, seperti AI
yang sering disebut Mas Wapres. Kini untuk mengedit foto, penduduk “dunia kedua”
bisa tinggal sekali klik. Ini bisa mempermudah segala pekerjaan. Di sisi lain,
ini bisa menjadi malabahaya. Sudah sering, kan? Foto-foto bertebaran. Menjadi meme.
Menjadi stiker WhatsApp. Menjadi bahan untuk penipuan. Seberapa sering kita melihat
foto Pak Bahlil di mana-mana? Saya hanya mikir, Bagaimana kalau itu foto saya? Waduh!
Suatu waktu saya mem-posting foto di Instagram. Di suatu
waktu lainnya, saya mendapati seorang teman mengirim stiker foto saya di
Instagram itu. Sebenarnya saya kesal hingga kini kepadanya. Pertama, dia seperti
mengolok-olok. Kedua, dia tidak izin. Ketiga, kejadian seperti itu yang membuat
tidak bebas untuk berekspresi. Padahal, jika saya tidak senang, ia bisa saja
terkena UU ITE, karena melanggar hak cipta. Paling tidak, ia bisa dikatakan
telah melakukan cyberbullying. Untung jika stiker itu hanya dipakai di antara
saya dan dia, atau di grup teman-teman dekat. Bagaimana jika dia menyebarkan
stiker foto saya itu ke seorang penjahat? Digunakanlah foto saya itu untuk suatu
kejahatan. Kan, bete!
Saya jadi bertanya-tanya, kenapa orang seperti teman
saya itu melakukan hal semacam itu? Apakah karena fotonya pas untuk dijadikan
bahan olok-olokkan? Ya, kalau memang lucu, kenapa tidak likes dan comment aja, bos? Kenapa harus dibagikan menjadi stiker, atau dibagikan ke grup yang tidak
ada saya di dalamnya, lalu diolok-olokkan? Kan itu perbuatan tidak menyenangkan?
Menurut saya, penjaralah tempat yang pas untuknya!
Saya sebetulnya kesal hingga marah kepada mereka yang
melakukan hal semacam itu. Itu bisa jadi suatu tindak kriminal atau
cyberbullying. Ketika ada yang bilang “Ah, lu mah gak asik!”, saya hanya berpikir,
“Bagaimana jika itu terjadi kepada orang lain? Atau ke orang terdekat? Atau ke
anak saya nanti?” Mungkin pembaca bisa mendengarkan lagu berjudul “If You Tolerate This, Your Children Will Be Next”.
Yang saya yakini, media sosial itu dibuat untuk “bersosial”, untuk menguatkan silahtuhrahmi. Bukan justru untuk membuat permusuhan, apalagi untuk melakukan tindakan kriminal. Media sosial juga bisa menjadi tempat berekspresi, membuat film, puisi, berbagi tips-tips, hingga berjualan. Bukan menjadi penjara yang membelenggu penggunanya.
Akhirul Kalam
Yah, sekiranya itulah yang membuat saya takut hingga
kesal di “dunia kedua” ini. Masih banyak lagi kasus-kasus tidak mengenakkan di
dalamnya. Yang bisa jadi merugikan/merenggut nyawa korban. Melalui tulisan ini, saya hanya berharap, penduduk "dunia kedua”
ini tidak perlu membuat second account dan mengosongkan akun utamanya lagi. Berekspresilah!
Bermedia sosialah! Berbahagialah! Cheers!



Post a Comment